
Setelah mengantar kepulangan kedua besannya. Bu Winda bernisatif mengajak Naura ke sebuah ruangan yang mungkin akan sedikit menghibur menantunya yang pasti sangat sedih berpisah dengan kedua orangtuanya.
Bu Winda membuka pintu ruangan itu, yang pertama kali Naura lihat adalah, nuansa ruangan itu terlihat dari sama seperti kamar biasanya, tapi ada yang sedikit berbeda, disetiap sudut ruangan itu terdapat banyak foto bocah laki-laki dengan berbagai macam pose yang terlihat menggemaskan.
Bu Winda mengajak Naura masuk, kemudian menuntun menantunya itu untuk duduk di pinggiran ranjang kecil yang hanya muat untuk satu orang, jika dilihat-lihat lagi, ranjang itu hanya muat untuk satu orang anak kecil.
Naura menyapu pandangannya mengelilingi ruangan itu, kamar itu seperti kamar anak-anak, tapi Naura tidak melihat ada anak kecil di rumah itu.
"Kamu pasti bingung kan, ini kamar siapa'' Ujar Bu Winda, dan Naura menganggukan kepalanya.
"Ini adalah kamarnya Wahyu sewaktu kecil, Wahyu ingin kamar ini tetap dijaga, karena suatu alasan dan juga cita-cita sederhana nya"
Mendengar itu, Naura langsung menatap Ibu mertuanya, berharap beliau menceritakan lebih banyak lagi tentang laki-laki yang baru kemaren menjadi suaminya. Dan Bu Winda, dia mengerti dengan tatapan menantunya itu, beliau pun akhirnya menceritakan tentang alasan Wahyu tetap menjaga kamar semasa kecilnya.
"Wahyu ingin, kamar ini nantinya akan menjadi kamar anaknya kelak. Alasan yang sederhana, tapi sangat menyentuh" Ujar Bu Winda.
Mendengar cerita Ibu mertuanya, reflek Naura meraba perutnya sendiri. Apakah anak yang dimaksud oleh suaminya itu, adalah anak yang nantinya akan lahir dari rahimnya?
Menjadi seorang istri di usianya yang masih muda belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan jika dia juga harus menjadi ibu muda, itu bukan pilihan. Tapi keharusan karena dia saat ini telah menjadi seorang istri yang akan memberi keturunan pada suaminya.
Tiba-tiba Naura teringat sesuatu.
"Astaghfirullah Ma, sebentar lagi Mas Wahyu pulang, aku mau masak buat dia"
Dan Bu Winda, dia pun terkekeh melihat tingkah menantunya yang tiba-tiba terkejut, tapi terlihat menggemaskan dimata Bu Winda. Bu Winda pun mengajak menantunya itu keluar dari ruangan itu, kemudian membawanya menuju dapur.
__ADS_1
"Sebenarnya Mama udah masak tadi bareng Ibu kamu, tapi ya kalau kamu memang mau masak buat suami kamu tidak masalah, kamu bisa masak menu yang lain buat Wahyu, tapi ingat ya Wahyu itu tidak suka makanan yang terlalu pedas, pedasnya yang sedang aja" Ujar Bu Winda memberitahu menantunya. Naura pun mengangguk paham.
Sesampainya di dapur, Bu Winda menunjukkan letak bahan-bahan masakan dan juga bumbu-bumbu, setelah itu Bu Winda meninggalkan Naura sendirian di dapur.
Sebelum memulai memasak, Naura mencuci tangannya terlebih dahulu, dia harus memastikan makanan yang akan dia sajikan untuk suaminya harus higienis, kemudian dengan cekatan dia menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
Tidak sulit bagi Naura, dulu dirumahnya jika ada waktu luang selalu dia gunakan untuk belajar memasak bersama Ibu nya. Dan hasilnya adalah sekarang, dia dengan mudah memasak untuk suaminya, dan ini adalah masakan pertamanya untuk sang suami.
Dalam waktu dua puluh menit, Naura telah menyelesaikan masakannya. Dia menatap kagum pada hasil masakannya yang sudah dia tata dengan rapi diatas piring saji. Ayam goreng rica-rica dengan tingkat kepedasan yang setara dengan pedas cabai indomie goreng, bahkan anak anak pun bisa memakannya karena tidak terlalu pedas.
Naura pun membawa hasil masakannya ke ruang makan dan menata nya di atas meja makan bersama dengan masakan yang sudah Ibu mertuanya masak tadi bersama Ibu nya.
Mencium bau badannya yang sudah sangat tidak enak karena bercampur dengan bau bumbu-bumbu dapur, Naura pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri sambil menunggu suaminya pulang.
Didalam kamar mandi Naura mendapati dirinya ternyata sudah berhenti ha!d karena memang kemarin adalah hari ke-7 dirinya mengalami menstruas! , Naura pun mengisi bathtub dengan air, serta menuangkan sabun kedalam nya, setelah busa nya melimpah Naura pun masuk merendam tubuhnya.
Wahyu saat ini berada di dalam bioskop yang masih berada didalam Mall itu, bersama Diandra, dia terlihat gelisah dan terus menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang menunjukkan sudah pukul 4.30 sore, yang artinya dalam satu setengah jam lagi dia sudah harus berada dirumah karena dia sudah mengatakan pada Naura kalau dia akan pulang jam 5.
"Diandra, ini sudah waktunya jam pulang kantor, aku antar kamu pulang ya"
Diandra terkekeh, dia mengerti maksud perkataan kekasihnya ini, yang akan mengantarkan nya pulang.
"Oh, ceritanya sekarang kamu lagi bohongin istri kamu nih, beralasan pergi ke Kantor, padahal lagi asyik asyik pacaran"
"Diandra, aku mohon sekarang kamu mengerti dengan keadaan aku ya, sekarang aku sudah punya is...
__ADS_1
"Gak usah diterusin" Diandra memotong ucapan Wahyu. "Aku tau kamu sudah punya istri, dan sekarang kamu harus pulang karena istri kamu pasti sudah menunggu kepulangan kamu" Dengan perasaan sedikit marah, Diandra beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Wahyu. Dan Wahyu pun juga bergegas menyusul kekasihnya itu.
"Diandra tunggu, jangan salah paham, maksud ku bukan seperti itu, kamu tahu sendiri kan keadaan aku sekarang"
"Kamu gak perlu menjelaskan apapun Wahyu, akan sangat-sangat mengerti dengan keadaan kamu sekarang, dan sekarang lebih baik kamu pulang saja, tidak perlu mengantar aku pulang, aku bisa pulang sendiri" Tukas Diandra. Entah kenapa dia jadi tak suka tadi Wahyu mengatakan kalau dia sudah punya istri.
Diandra takut, takut kalau gadis yang menjadi istrinya Wahyu itu akan menggeser posisinya di hati Wahyu. Walaupun Wahyu sudah berjanji akan tetap mempertahankan hubungannya, tapi itu belum bisa menjamin mereka akan tetap bersama nantinya. Mengingat status Wahyu yang saat ini sudah menjadi seorang suami, dan itu artinya Diandra juga sekarang telah menjadi selingkuhan Wahyu, walaupun dia adalah yang pertama di hati Wahyu tapi tetap saja, Wahyu sudah memiliki istri sekarang.
"Tapi Diandra, aku akan mengantar kamu pulang terlebih dahulu"
"Aku bilang gak usah, Wahyu. Aku bisa pulang sendiri, lagian aku masih ada keperluan lain, dan aku tahu kamu pasti tidak bisa menemani aku untuk itu, jadi lebih baik sekarang kamu pulang saja"
"Maaf"
Akhirnya Wahyu pun mengalah dia tidak ingin berdebat dengan Diandra dan membuat kekasihnya itu lebih marah lagi padanya, karena Wahyu paling tidak bisa jika Diandra marah padanya.
Wahyu pun pulang, saat di perjalanan dia melihat ada penjual bunga, dia pun berinisiatif untuk membeli bunga itu sebagai permintaan maaf nya nanti pada Naura karena dia sudah terlambat sampai rumah.
Sementara Diandra yang masih berada di Mall, dia melihat temannya juga berada di sana, dia pun menghampiri temannya itu.
.
.
.
__ADS_1
SALAM_BANGKA_BELITUNG