
"Naura, ada apa Nak? Dari tadi ibu perhatikan kamu kayak sedang kepikiran sesuatu." tegur bu Lastri, sedari tadi bu Lastri memperhatikan Naura yang hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Gak ada apa-apa kok, Bu, Aku cuma lagi gak nafsu makan aja." jawab Naura lalu mendorong piringnya yang isinya masih utuh kemudian mengambil air putih.
"Kenapa, kamu sakit?" tanya bu Lastri lagi.
"Engga, Bu. Ya udah Bu Aku berangkat ke kantor dulu ya." pamit Naura.
"Loh, kamu masih mau pergi kerja? Ibu pikir kamu udah mau ambil cuti, dua minggu lagi loh Naura kamu nikah nya, dari sekarang kamu dan Bayu itu sudah seharusnya berdiam diri dirumah."
"Kan masih dua minggu, Bu, masih lama juga. Kak Bayu juga masih kerja kok, nanti deh Aku bilangin sama Kak Bayu suruh ambil cuti tapi pas 3 hari menjelang hari H," ujar Naura terkekeh.
"Naura, kamu tuh ngeyel ya dibilangin sama Ibu," kesal bu Lastri.
"Pokoknya Ibu do'ain aja yang terbaik, ya udah Aku pamit ya Bu, Assalamu'alaikum." Naura pun mencium punggung tangan ibunya.
"Walaikumsalam." balas bu Lastri lalu ikut mengantar putrinya sampai ke luar rumah.
Hari ini Naura berangkat sendiri ke kantor dengan menggunakan taksi karena Bayu belum menjemputnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Mungkin saja Bayu masih tidur, begitulah pikir Naura.
Sesampainya di kantor, Naura langsung menuju ruangan Bayu, karena memang dia satu ruangan dengan calon suaminya, dan itu atas permintaan Bayu sendiri. Meski awalnya merasa risih karena harus satu ruangan dengan Bayu, lama-kelamaan Naura terbiasa karena mau bagaimanapun Bayu adalah calon suaminya, dan setelah menikah pun mereka juga masih akan tetap bekerja dan memang sudah sebaiknya mereka bekerja dalam satu ruangan.
Saat Naura membuka pintu ruangan Bayu, Naura terkejut karena ternyata didalam ruangan itu sudah Andi dan juga Wahyu, begitupun dengan Andi dan Wahyu yang sudah cukup lama menunggu Bayu juga terkejut melihat kedatangan Naura yang mereka pikir adalah Bayu yang datang.
"Eh Bu Naura, Saya akan ada yg mau pikir tadi Pak Bayu yang datang." ucap Andi sembari memberi hormat pada calon istri dari atasannya itu. Sementara Wahyu sendiri duduk dengan santainya sembari memainkan ponselnya seolah tak melihat kedatangan Naura.
"Kak Andi, jangan panggil saya Ibu ya, panggil Naura aja." kesal Naura, karena sudah berapa kali dia memperingati sekertaris calon suaminya itu untuk tidak memanggilnya dengan panggilan seperti itu.
"Tapi, Bu Naura adalah calon istri Pak Bayu atasan dan sudah sepatutnya saya juga menghormati Bu Naura." ujar Andi sembari menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tapi yang atasan Kak Andi itu ya Kak Bayu, bukan Aku. Udah pokoknya mulai sekarang panggil Aku Naura aja gak usah ada embel-embel Ibu nya, Aku gak suka." ucap Naura lalu melangkah menuju kursi kerjanya yang bersebelahan dengan kursi kerja Bayu.
"Tapi Bu...
"Kak Andi, udah ya pokoknya panggil Naura aja, titik!" telak Naura tak ingin di bantah.
"Ba-baik." ucap Andi terbata, untuk sekarang dia lebih memilih untuk mengalah agar tak membuat calon istri atasannya itu marah.
Andi pun kembali duduk di tempatnya semula di samping Wahyu. "Sepertinya Aku harus membicarakan ini nanti dengan Pak Bayu, Aku tidak enak lah masa calon istrinya Aku panggil hanya dengan sebutan nama saja. Kalau mereka sudah menikah nanti, tentu Bu Naura juga akan menjadi atasan ku bukan?" ucap Andi dalam hati.
"Kak Andi jangan coba-coba lapor sama Kak Bayu ya," tukas Naura, karena dia tau setelah ini Andi pasti akan melapor pada Bayu.
"Aku dan Kak Andi disini sama-sama karyawan, dan Kak Andi jauh lebih tua dari Aku, jadi Aku yang seharusnya menghormati Kak Andi." sambungnya.
Andi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Andi merasakan kagum pada calon istri atasannya itu, kebanyakan wanita diluar sana yang akan menikah dengan orang-orang seperti Bayu pasti akan bertingkah sesuka hati, namun tidak dengan Naura, bahkan gadis kecil atasannya itu tidak ingin dipanggil secara formal.
"Pak Bayu, Anda beruntung sekali mendapat calon istri seperti Bu Naura, yah meskipun dia adalah mantan istri dari..." Andi berucap dalam hati, lalu menoleh pada Wahyu di sampingnya yang terlihat fokus pada ponselnya seperti tidak merasa terganggu atas obrolannya dengan Naura.
"Maaf Bu Naura, eh, maksudnya Na-naura," Andi terbata saat mendapat tatapan tajam dari Naura. "Pak Bayu kok belum sampai kantor ya? Padahal ini sudah jam 8, biasanya Pak Bayu jam 7 itu sudah ada di kantor?" tanyanya.
"Gak tau, kok nanya nya sama Aku?" acuh Naura.
"Iya, biasanya kan Pak Bayu datangnya bareng Bu Naura, eh Naura maksudnya." Andi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sungguh dia merasa tak nyaman memanggil Naura hanya dengan sebutan nama.
"Masih tidur mungkin, Aku aja kesini naik taksi kok."
"Oh gitu ya Bu, eh Naura,"
"Aduh Pak Bayu, Aku harus gimana ini." Andi jadi bingung sendiri.
__ADS_1
Tak lama pintu ruangan itu terbuka, orang yang ditunggu akhirnya datang juga.
Andi segera berdiri saat atasannya itu datang sembari memberi hormat, namun Bayu sendiri yang pertama dituju nya adalah Naura tanpa memperdulikan dua laki-laki yang ada di ruangannya itu.
"Naura, kok kamu gak nungguin Aku sih? Aku tadi kerumah tapi kata Ibu kamu udah pergi naik taksi." ujar Bayu sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Abisnya Kak Bayu lama banget." jawab Naura acuh, namun dalam hati dia sangat senang melihat kedatangan calon suaminya itu setelah semalam dia gelisah tidak bisa tidur karena terus kepikiran dengan mimpinya.
"Ya maaf, Aku kesiangan." ucap Bayu merasa bersalah.
"Tuh, dari tadi Kak Andi nungguin." ujar Naura mengalihkan pembicaraan.
"Kak Andi? Kok lucu ya kedengerannya." Bayu terkekeh, lalu dia menoleh pada Andi dan Wahyu.
"Hei, ada apa kalian berdua nungguin Aku?" tanya Bayu, dan Andi langsung melirik Wahyu yang masih fokus pada ponselnya.
"Oh ini Pak, kami hanya ingin menyampaikan hasil meeting kemarin." ujar Andi, dalam hati dia menyumpah serapahi Wahyu yang sedari tadi hanya diam.
"Oh gitu, baiklah kita bahas di ruangan lain saja." ucap Bayu lalu melangkah keluar dari ruangannya dan diikuti oleh Andi dan juga Wahyu yang akhirnya bergerak setelah dari tadi seperti orang lumpuh.
Setelah ketiga laki-laki itu keluar dari ruangannya, Naura menatap nanar pada pintu yang baru saja tertutup, lalu dia terkekeh sendiri.
Di antara ketiga laki-laki itu adalah mantan suami dan juga calon suaminya, dan satu lagi laki-laki menyebalkan yang selalu memanggilnya dengan sebutan Ibu.
.
.
.
__ADS_1
Mampir juga yuk ke novel teman othor 🙏🙏🙏