Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 27. MUNGKINKAH?


__ADS_3

Naura terkejut. Bentakan itu, pertama kalinya meluncur dari bibir suaminya.


"Naura... Maaf, Mas tidak bermaksud untuk membentakmu. Mas...


"Sudah, Mas. Aku mohon jangan menghalangi aku pergi, aku tidak bisa menjalani pernikahan yang didalamnya ternyata hanya cinta palsu. Mas selama ini hanya berpura-pura, sikap Mas, perhatian, kasih sayang Mas itu semuanya dusta, itu semua hanya kebohongan, Mas penipu!" kali ini, Naura juga meninggikan suaranya.


Hampir saja air matanya jatuh, dia segere menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Didalam kamar mandi, barulah Naura melepaskan Toga nya.


Sementara Wahyu, dia menatap nanar pada pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.


Dipungut nya pakaian Naura yang dilemparkan ke lantai, kemudian memasukkan nya kedalam lemari. Wahyu tidak akan membiarkan istrinya itu pergi, bukan karena amanah Papa nya saja, namun juga karena sesuatu yang membuat hatinya gundah.


Mungkinkah? Selama satu pernikahannya, rasa itu ada. Mungkinkah, kenyamanan dan kasih sayang yang dia berikan selama satu tahun ini bukan hanya sekedar bentuk pertanggungjawaban nya sebagai seorang suami, namun juga karena rasa cinta yang mulai tumbuh begitu saja tanpa permisi.


Mungkinkah itu semua?


Ah, memikirkan itu membuat kepala Wahyu berdenyut. Dia membawa tubuhnya duduk di pinggiran ranjang, sambil terus menatap pintu kamar mandi yang masih saja tertutup dengan rapat. Entah apa yang dilakukan istrinya itu didalam sana, dia tidak tahu.

__ADS_1


Tak berapa lama, pintu kamar mandi itu terbuka, Wahyu segera beranjak dari sisi ranjang dan langsung menghampiri istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Naura meletakkan Toga nya diatas meja rias, kemudian mengambil handuk kecil yang berada di dalam lemari, lalu mengusap wajahnya yang basah. Setelah itu Naura mengambil sesetel pakaiannya, kemudian masuk kembali ke kamar mandi untuk mengganti kebaya yang masih melekat ditubuhnya.


Biasanya, Naura tidak akan segan mengganti pakaian dihadapan suaminya itu. Namun, kali ini entah kenapa dia merasa enggan untuk memperlihatkan tubuhnya walau hanya seinci saja dihadapan Wahyu.


Dan Wahyu yang sedari tadi mengikuti pergerakan istrinya itu, kini berdiri didepan pintu kamar mandi menunggui istrinya itu selesai berganti pakaian. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan saat ini juga.


Pintu kamar mandi itu kembali terbuka, Naura keluar dengan sudah berganti pakaian. Baru saja satu langkah kakinya melewati pintu kamar mandi, langkahnya tertahan saat tubuh kekar suaminya itu menghadang jalannya.


"Naura, kita harus bicara"


Wahyu tidak tinggal diam, dia menyusul istrinya naik ke atas ranjang, menepuk-nepuk pundak Naura agar bangun dan berbicara padanya.


"Naura, Mas mohon ayo kita bicara sebentar saja"


Tapi Naura tidak merespon, dia lebih memilih memejamkan matanya berusaha membawa kesadarannya ke alam mimpi untuk menghindari suaminya itu.

__ADS_1


Kesal karena diabaikan, Wahyu pun menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, kemudian merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya. Memeluknya erat, bahkan sampai Naura memberontak pun dia tidak akan melepaskan nya.


Namun, kenyataannya Naura tidak memberontak, dia masih diam dengan posisinya memejamkan mata, tanpa perduli apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


Menurutnya, berontak pun percuma, tenaganya tidak akan lebih kuat dari suaminya itu.


Hingga, Naura terlonjak kaget saat suaminya itu mencecap bibirnya dengan paksa. Sontak Naura mendorong tubuh kekar itu, dan hampir saja jatuh dari ranjang, jika Wahyu tak segera berpegangan pada kepala ranjang.


"Naura, kau menolak Mas" tatapan Wahyu kecewa, baru kali istrinya itu menolak sentuhannya, biasanya Naura sangat agresif jika hanya dicium saja. Namun, kali ini Naura menolak bahkan mendorongnya.


"Aku rasa, ini pun tidak pantas kita lakukan lagi, Mas. Apa Mas lupa apa yang Mas katakan pada Bu dIa Diandra? Mas bilang akan menceraikan aku!" sarkas Naura, mengingatkan suaminya itu akan ucapannya sendiri bebeberapa waktu yang lalu.


"Naura, Mas tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu, Mas hanya ingin menghibur Diandra saja. Mas tidak mungkin menceraikan kamu, Mas me...


"Tidak mungkin kenapa, Mas? bukankah Mas Wahyu tidak mencintai aku, bukannya semuanya hanyalah kepura-puraan. Mas Wahyu hanya mencintai Bu Diandra, jadi aku mohon mari kita akhiri pernikahan ini dengan cara baik-baik, dan Mas hiduplah berbahagia bersama Bu Diandra, aku akan pergi jauh dari hidup kalian" Naura tergugu, sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tak jatuh. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, setelah ini tidak akan ada lagi air mata yang dia keluarkan untuk pernikahannya.


"Mas, sebaiknya kita bicarakan ini juga bersama keluarga kita. Mereka yang memulai pernikahan ini, dan mereka juga yang harus mengakhirinya, jangan menutupi apapun dari mereka"

__ADS_1


Ucap Naura pada akhirnya setelah beberapa saat terdiam.


__ADS_2