Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 42. BERASA BALIK JADI GADIS LAGI


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, dan tepatnya sudah satu minggu setelah Naura menggugat suaminya, namun belum juga ada kabar tentang bagaimana keputusan dari suaminya itu.


Biasanya, pagi-pagi sekali Naura sudah bangun menyiapkan semua keperluan suaminya yang akan berangkat ke kantor. Namun, hari ini Naura masih bergelung dibalik selimutnya bahkan jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Entah sudah berapa kali Bu Lastri mengetuk pintu kamar putrinya itu memanggil untuk sarapan, namun tak ada sahutan juga dari dalam kamar. Bahkan Lusi di rumahnya juga menggerutu kesal karena sudah puluhan kali menelponnya temannya itu namun tak juga diangkat oleh si empunya ponsel.


"Ya ampun Naura, kamu kemana sih? Udah puluhan kali aku telepon tapi gak di angkat angkat juga" Gerutu Lusi, merasa kesal akhirnya Lusi pun memutuskan untuk menyusul Naura kerumah orangtuanya, ada hal penting yang harus dibicarakan Lusi pada temannya itu.


Bayu yang sedari tadi menunggu adiknya di ruang tamu, segera beranjak menghampiri Lusi kala adiknya itu berjalan ke arah pintu utama yang artinya Lusi akan pergi.


"Lusi, kamu mau kemana? Bukankah kakak memintamu menghubungi temanmu itu untuk meminta kepastian dia menerima job ini atau tidak. Lusi, minggu depan kakak sudah harus berangkat ke Palembang, kalau temanmu itu tidak berminat, kakak akan mencari jasa Desain Interior lainnya" Ujar Bayu, dia merasa sedikit kesal pada Lusi karena sudah sejak pagi dia meminta adiknya itu menghubungi temannya yang akan dipakai jasa nya sebagai Desain interior, namun hari sudah beranjak siang adiknya itu belum juga memberinya kabar.


"Kakak bisa sabar gak sih?" Lusi juga merasa kesal karena entah sudah berapa kali dia menelpon temannya itu, namun tak juga dijawab panggilannya.


"Lusi, bukannya kakak gak sabar, kakak hanya butuh kepastian teman kamu itu. Kalau dia tidak berminat, kakak akan cari gantinya sekarang juga. Lusi, kamu tau sendiri kan gak mudah mencari seseorang yang handal, tapi kamu selalu meyakinkan kakak kalau teman kamu itu yang terbaik. Jadi, mana, kakak butuh kepastiannya sekarang juga" Ucap Bayu. Dan sekarang dia berkacak pinggang dihadapan Lusi, sehingga membuat adiknya itu semakin merasa kesal.


"Iya Kak, aku tau. Ini juga aku lagi usaha hubungin dia tapi gak di angkat angkat telepon aku, dan sekarang aku mau nyamperin dia ke rumahnya. Kakak tunggu aja kabar dari aku" Ucap Lusi, kemudian membalikkan tubuhnya hendak melanjutkan langkahnya, namun lengannya ditahan oleh kakaknya.


"Kakak ikut, biar sekalian kakak ketemu langsung sama teman kamu itu" Ujar Bayu.


"Kakak gak usah ikut, pokoknya kakak tunggu aja kabar dari aku. Kalau kakak ikut cuma bakal bikin repot aku aja" Ucap Lusi, kemudian melangkah meninggalkan kakaknya itu.


Sementara Bayu, dia berdecak kesal karena adiknya itu tidak mengizinkannya untuk ikut. Dan apa yang adiknya itu tadi katakan?


Hanya akan merepotkan jika dia ikut. Ah, benar-benar menjengkelkan adiknya itu.


*******

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, Lusi pun telah sampai dirumah orangtuanya Naura, beruntung hari ini jalanan tidak macet sehingga hanya dalam 15 menit saja Lusi sampai ke tempat tujuannya.


Lusi mengetuk pintu sembari mengucap salam, dan tak lama Bu Lastri membukakan pintu dan mempersilahkan Lusi untuk masuk.


"Bu, Naura ada kan Bu? Dari pagi-pagi sekali aku telepon tapi gak di angkat angkat telepon aku" Ucap Lusi, mengadu pada Bu Lastri, Ibunya Naura.


"Ada kok, cuma itu dia masalahnya dari pagi Ibu juga ketuk pintu kamarnya tapi Naura gak keluar keluar juga" Ujar Bu Lastri. Dia membawa Lusi untuk duduk di ruang tamu.


"Nak Lusi tunggu disini dulu ya, Ibu coba panggilin Naura lagi, barangkali dia sudah bangun" Lusi pun menganggukkan kepalanya, lalu Bu Lastri pergi untuk mengetuk pintu kamar putrinya lagi.


Tok tok tok...


"Naura, diluar ada Lusi nungguin kamu, ayo keluar" Ucap Bu Lastri sembari mengetuk pintu kamar putrinya.


Tak lama pintu kamar itupun terbuka, Naura yang nampaknya baru selesai mandi tersenyum pada Ibunya itu.


"Bu, maaf ya aku bangun nya kesiangan" Ucap Naura cengengesan.


"Hehehe, berasa balik jadi gadis lagi tau Bu" Canda Naura dan seketika mendapat jeweran dari Ibunya.


"Aw, Ibu sakit tau Bu" Naura mengaduh sakit, mengusap telinganya yang baru saja dijewer oleh Ibunya.


"Ingat Naura, kamu itu belum resmi bercerai sama suami kamu, jadi jangan seenaknya dulu" Tegur Bu Lastri.


"Iya Ibu, aku tau kok. Oh ya, ada Lusi ya Bu?"


"Nah iya, tuh temuin teman kamu dari tadi dia nungguin, katanya juga dari pagi dia telpon kamu tapi gak kamu angkat angkat juga" Ucap Bu Lastri, kemudian berlalu dari hadapan putrinya itu.

__ADS_1


Setelah Bu Lastri pergi, Naura pun kembali masuk ke kamar bersiap-siap untuk menemui Lusi. Naura tau, nanti temannya itu pasti akan memarahinya habis-habisan karena tak menjawab teleponnya.


Dan benar saja, saat menghampiri temannya itu diruang tamu, Naura lagi-lagi mengelus telinganya yang mendapat jeweran dari Lusi.


"Ngeselin banget tau gak! Di telpon gak di angkat angkat, ngapain aja sih?" Gerutu Lusi, setelah melepaskan telinga Naura.


"Ya maaf, tadi itu aku masih tidur" Jawab Naura dengan santai, lalu menarik tangan Lusi untuk duduk di sofa.


"Emangnya ada apa sih, kamu telepon aku berkali-kali gitu?" Tanya Naura kemudian.


"Ini soal pembangunan cafe Papa aku di Palembang, kakak aku nanyain kamu terus, kamu mau gak sih terima job itu"


"Hah, Kakak? Lusi kamu punya Kakak, tapi gak pernah bilang sama aku" Naura menatap tajam temannya itu. Selama berteman dengan Lusi, temannya itu tak pernah memberitahu nya kalau dia mempunyai kakak. Dan beberapa kali Naura datang ke rumah Lusi, dia tak melihat siapapun selain kedua orangtua Lusi serta asisten rumah tangganya.


"Selama ini, aku pikir kamu itu anak tunggal loh Lusi" Sambung Naura.


"Iya maaf aku gak pernah cerita kalau aku punya kakak, selama lima tahun ini kakak aku itu tinggal di luar Negeri mengurus perusahaan Papa di sana"


"Oh gitu" Ujar Naura memanggut manggutkan kepalanya


"Jadi gini, Naura. Kalau seandainya kamu terima job ini, nanti kamu ke Palembang nya bareng sama kakak aku, dia pulang ke Indonesia karena ditugaskan Papa untuk memantau langsung pembangunan cafe di sana" Ucap Lusi menjelaskan maksud kedatangannya.


"What? Beneran,Lus?" Naura menautkan kedua alisnya, menatap Lusi dengan serius dan Lusi menganggukkan kepalanya.


"Iya...


Tok tok tok

__ADS_1


"Assalamu'alaikum...


Belum selesai Lusi berbicara, kalimatnya terhenti saat terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar rumah.


__ADS_2