
"Papa, Rayan mau ikut ke kantor sama Papa." Rayan berucap dengan mata berbinar menatap papanya yang tengah memasang sepatu. Dan jika sudah begini, Bayu tak akan bisa menolak permintaan putranya itu.
"Em, emangnya Rayan mau ngapain ikut ke kantor, hum?" tanya Bayu lalu meraih tubuh mungil Rayan ke atas pangkuannya.
"Yah mau bantuin Papa kerja lah, biar kerjaan Papa cepat selesai dan Papa bisa cepat pulang. Kasihan Mama selalu nungguin Papa pulangnya lama banget." ujar Rayan terlihat serius tanpa dibuat buat.
Dan Naura yang sedang merapikan tempat tidurnya hanya bisa tersenyum simpul mendengar celotehan putranya itu, namun apa yang dikatakan Rayan itu benar. Naura selalu cemas jika suaminya pulang terlambat.
"Oh ya, emangnya Mama selalu nungguin Papa pulang ya? Papa kira enggak." ujar Bayu melirik Naura yang masih membereskan tempat tidur.
"Iya Papa. Rayan sering lihat Mama ngintip di jendela kalau Papa belum pulang sambil tangan Mama gini-gini," Rayan menirukan bagaimana Naura menautkan jari-jarinya sembari menggosok gosok pelan telapak tangannya saat cemas menunggu kepulangan suaminya.
"Oh ya, jadi tangannya Mama gini-gini?" Bayu pun dengan bodohnya menirukan apa yang dipraktikkan oleh putranya itu.
"Iya Pa, makanya Rayan mau ikut ke kantor bantu Papa biar kerjaan Papa cepat selesai dan Papa bisa cepat pulang." ucap Rayan dengan lucunya.
"Okey, hari ini Rayan ikut Papa ke kantor." ucap Bayu dan membuat putranya itu bersemangat.
"Mama, ayo siapin juga bekal untuk Rayan, hari ini Rayan ikut Papa ke kantor, bantuin Papa kerja." Rayan pun segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil sepatu.
"Lihat anak kita sudah besar, dia sudah mau pergi bekerja," ucap Bayu dengan menarik pinggang Naura dan mendekap nya.
"Dan sudah seharusnya kita memberikan Rayan adik," ucapnya lagi, menatap Naura dengan tatapan mesumnya.
"Yang ini dilepas aja ya." ucapnya lagi sembari mengusap lengan istrinya yang tertanam alat penunda kehamilan didalamnya.
"Yakin, mau punya anak lagi, hum?" tanya Naura sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Iya dong, siapa tau dikasih anak perempuan." jawab Bayu tersenyum lebar, melihat Noval dan Renita mendapatkan anak perempuan membuat Bayu juga ingin.
__ADS_1
"Kalau dikasih laki-laki lagi, gimana?"
"Yah bikin lagi sampai dapat anak perempuan." ujar Bayu dengan santainya.
"Sembarangan, dipikir kayak adon kue asal jadi aja." Naura mencubit lengan suaminya lalu membalikkan badan mengambil tas kerja Bayu di atas nakas.
"Sayang, aku serius, aku pengen punya anak lagi." ujar Bayu.
"Tapi, kalau Kak Bayu berharap anak perempuan, mendingan gak usah punya anak lagi, cukup Rayan aja!"
"Loh kenapa emangnya?" Bayu bingung melihat perubahan ekpresi wajah istrinya.
"Kak Bayu ingin punya anak lagi, tapi kakak berharap anak perempuan. Bagaimana kalau nanti aku hamil terus melahirkan anak laki-laki lagi, aku gak mau ya kalau sampai Kak Bayu kecewa atau gak terima." ujar Naura, mengeluarkan kekhawatiran nya.
"Sayang, kok gitu sih ngomongnya. Iya, aku memang ingin punya anak perempuan, tapi kalau belum dikasih ya gak apa-apa, aku gak bakal kecewa ataupun sampai gak terima." Bayu menarik lengan istrinya kemudian memeluknya dengan erat.
"Sayang, kamu mau kan kasih aku anak yang banyak?" Naura menganggukkan kepalanya, dan Bayu pun kembali memeluk istrinya itu dengan sangat erat.
"Terima kasih, sayang. Aku sangat sangat mencintaimu." lagi lagi Bayu mencium seluruh wajah istrinya dengan gemas bertepatan dengan Rayan yang masuk ke kamar mereka.
"Papa, Mama lagi ngapain?" Rayan mematung di ambang pintu melihat apa yang dilakukan oleh Papa nya itu.
Naura dan Bayu pun dengan cepat menjauhkan badan mereka, kemudian menatap Rayan dengan senyuman canggung.
"Eh Rayan, udah siapa ya?" tanya Bayu lalu melangkah mendekati putranya itu.
Bayu mensejajarkan tubuhnya dengan Rayan, lalu mengusap lembut puncak kepala putranya itu.
"Rayan, Rayan mau gak punya adik bayi?" tanya Bayu pada Rayan.
__ADS_1
"Adik bayi kayak dedek bayi nya Om Noval dan Tante Renita ya, Pa?" Rayan balik bertanya.
Bayu pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum pada putranya itu.
"Mau Pa, Rayan mau punya dedek bayi," jawab Rayan antusias. "Rayan mau punya dedek bayi yang banyak Pa." ucapnya dengan merentang kedua tangannya.
"Okey kalau gitu hari ini kita ke rumah sakit dulu, baru setelah itu kita ke kantor." ucap Bayu lalu menggendong putranya itu.
"Bikin dedek bayinya di rumah sakit ya, kayak Om Noval dan Tante Renita?" tanya Rayan.
Tentu Rayan berpikir seperti itu, karena saat menjenguk bayi Noval dan Renita adalah di rumah sakit. Dan sekarang Rayan mengira Papa dan Mama nya ke rumah sakit hari ini juga ingin membuat adik bayi disana.
Sementara Naura dan Bayu hanya bisa tersenyum simpul dengan saling menatap, putra mereka memang luar biasa.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Rayan tiada hentinya berceloteh tentang dedek bayi.
Begitupun dengan Naura dan Bayu yang terus tersenyum melihat tingkah menggemaskan putra mereka.
Ada banyak hal yang telah mereka lalui sebelum sampai pada hari ini.
Ada banyak kisah yang tersimpan rapi sebelum tentang hari ini.
Kehadiran Rayan membawa banyak kebahagiaan untuk Naura, setelah apa yang dilaluinya dahulu. Pernah mencintai namun dikecewakan, kemudian mencoba menutup hati karena trauma akan sebuah hubungan.
Lalu seseorang datang, meyakininya jika semua cinta itu tidak sama, tidak semua cinta itu egois. Tergantung kepada siapa cinta itu berpijak, jika pada orang yang salah maka cinta itu akan layu begitu saja. Begitupun sebaliknya, jika cinta berpijak pada orang yang tepat maka cinta itu akan kian merekah.
Bayu, adalah laki-laki yang tidak pernah jatuh cinta bahkan di usianya yang sudah sangat matang. Bayu percaya akan perasaan nya sendiri yang tidak mudah mencintai atau hanya sekedar suka pada lawan jenis, karena Tuhan telah menyiapkan seseorang yang tepat untuk nya suatu hari nanti. Dialah Naura, wanita muda dengan status jandanya mampu memikat seorang Bayu bahkan sejak di pertemuan pertama mereka yang tidak disengajai itu.
Setelah mobilnya sudah terpakir rapi di pelataran rumah sakit, Bayu menggendong putranya keluar dari mobil, kemudian menggenggam tangan Naura dengan erat sembari melangkah ke dalam rumah sakit. Sejenak Bayu menoleh menatap Naura dengan tersenyum, meyakinkan istrinya itu jika hari ini dan seterusnya hanya akan ada tentang mereka.
__ADS_1