
Di bawah langit yang gelap serta rintik hujan yang mulai membasahi jalanan, Naura berjalan seorang diri tanpa tahu harus kemana saat ini. Malam yang semakin larut tak memungkinkan dia akan menemukan sebuah taksi untuk dia tumpangi.
Naura terus melangkah sambil mengusap usap kedua lengannya, tubuhnya sudah mulai terasa menggigil karena rintik hujan yang perlahan semakin deras.
Namun, hujan yang semakin deras tak mampu membuat Naura menitihkan air matanya seperti hujan yang turun ke bumi. Bagi Naura, apa yang terjadi sekarang adalah awal untuk memulai kehidupan yang baru kedepannya.
Map coklat yang berisikan surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Wahyu di dekap nya dengan erat agar tak basah, perlahan Naura mulai berlari untuk mencari tempat berteduh.
Dibawah penerangan yang temaram serta derasnya air hujan, remang-remang Naura melihat ada sebuah halte di seberang jalan sana. Naura pun mempercepat larinya menuju halte tersebut tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya, dan kejadian beberapa hari yang lalu kembali terulang.
Sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang hampir saja menabrak Naura jika tak segera mengerem mobilnya.
Naura yang berdiri dengan jarak beberapa centi dari mobil, hanya bisa mengelus dadanya serta terus mendekap erat map coklat itu.
Sang pemilik mobil yang sama terkejutnya dengan cepat mengambil payung lalu turun dari mobilnya untuk memeriksa keadaan orang yang hampir ditabrak nya.
"Hei, kau ini mau kemana malam-malam begini dan kenapa berkeliaran ditengah hujan seperti ini?" Suara seorang Pria menambah keterkejutan Naura yang membuatnya dengan cepat menoleh ke asal suara yang kini berdiri di sampingnya.
Tatapan mereka bertemu, walau terhalang dengan derasnya air hujan, Naura bisa melihat siapa orang yang kini berdiri di sampingnya. Yah, orang itu adalah laki-laki yang juga hampir menabraknya beberapa hari yang lalu, dan kini kembali terjadi dengan orang yang sama.
Laki-laki itupun tentu masih mengingat Naura.
"Hei kau ya ampun, lagi-lagi aku hampir menabrakmu" Ucap seorang Pria yang tak lain adalah Bayu, kemudian dengan cepat meneduhkan orang yang hampir ditabrak nya lagi dengan payung yang digunakannya.
"Maaf Kak, aku tidak melihat-lihat tadi mau menyebrang" Ucap Naura, kemudian hendak melanjutkan langkahnya, namun dengan cepat Bayu menahan lengannya.
"Kali ini kau tidak bisa menolak lagi, aku akan mengantarkanmu pulang" Ujar Bayu, menarik tangan Naura masuk kedalam mobilnya.
"Kak, maaf tidak perlu mengantarkan aku, aku bisa pulang sendiri setelah hujan reda aku akan mencari Taksi" Ucap Naura, kemudian hendak membuka pintu mobil namun terlambat, Bayu sudah menguncinya.
"Kak, tolong buka pintunya" Naura menjadi panik karena pintu mobilnya terkunci.
"Hei, kenapa kau terlihat panik seperti itu? Kau tenang saja, aku ini bukan orang jahat" Ucap Bayu tersenyum, kemudian meraih ponselnya yang berada di dekat stir.
"Lihat ini, sudah jam 12 malam tidak akan ada lagi Taksi apalagi hujan deras begini" Ucap Bayu sembari menunjukkan ponselnya yang memang ternyata malam sudah sangat larut.
"Sekarang cepat katakan, dimana rumahmu? Aku akan mengantarkanmu pulang" Sambung Bayu.
'Kali kau tidak akan bisa menghindar lagi gadis kecil, aku akan tahu dimana rumahmu sekarang' Ucap Bayu dalam hati, tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, namun itu malam terlihat menyeramkan dimata Naura.
__ADS_1
"Kak, aku mohon tolong buka pintu mobilnya" Pinta Naura semakin panik.
"Hei, aku hanya ingin mengantarkanmu pulang. Kau jangan takut seperti itu, aku sungguh tidak akan berbuat jahat padamu" Ucap Bayu berusaha menenangkan gadis kecil itu.
"Kau jangan berpikiran yang macam-macam, aku hanya ingin mengantarkanmu pulang. Malam sudah sangat larut, ditambah hujan yang semakin deras, apalagi pakaian mu sudah basah kau bisa sakit nanti" Bayu pun melepaskan jas nya kemudian memberikannya pada gadis kecilnya itu.
"Ini pakailah, kau pasti sangat kedinginan" Ujar Bayu, menyodorkan jas nya pada Naura.
Namun, Naura hanya menatap dan tak menyambut uluran tangan yang memberikan jas padanya. Sehingga membuat Bayu menggeser posisi duduknya, kemudian memakaikan jas itu di tubuh Naura.
Naura tercekat dengan apa yang baru saja dilakukan oleh laki-laki itu.
"Maaf, Aku lancang, itu karena Kau hanya menatap jas itu," Ucap Bayu.
"Sekarang katakan, dimana rumahmu?" Tanya Bayu. Aku akan mengantarkanmu" Ucapnya kemudian. Namun, lagi-lagi Naura hanya diam saja, tak menjawab pertanyaannya.
Melihat gadis itu hanya diam saja, Bayu menemukan ide untuk membuat gadis itu mengatakan dimana rumahnya.
'Kita lihat, apa Kau masih tidak mau mengatakan dimana rumahmu, gadis kecil'
"Oke, baiklah kalau Kau tidak mau memberitahu dimana rumahmu. Aku akan membawamu ke rumahku, oh atau mungkin lebih baik kita ke hotel saja" Ucap Bayu, tersenyum menyeringai. Bayu pun mulai melajukan mobilnya, membuat Naura menjadi panik dan segera mengatakan dimana rumahnya.
Bayu tersenyum, kemudian menghentikan mobilnya sejenak.
"Jalan Kenanga nomor 5, oke baiklah, kita jalan sekarang." Ucap Bayu, kemudian kembali melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Bayu sesekali melirik kearah gadis kecilnya itu, namun Naura hanya membuang muka dan menatap kearah luar jendela.
Tak berapa lama, mobil Bayu pun telah sampai didepan rumah yang terlihat sederhana dimata Bayu, namun mewah bagi orang-orang seperti Naura.
"Terima kasih, Kak, karena sudah mengantarkan Aku pulang," Ucap Naura.
"Jadi, sekarang Kau percaya kan? Kalau Aku bukan orang jahat," Ujar Bayu, menautkan kedua alisnya.
"Hem, iya. Kalau begitu, Aku masuk dulu ya Kak, sekali lagi terima kasih" Naura pun hendak keluar dari mobil, namun ternyata pintu mobilnya masih terkunci.
"Kak, pintunya masih terkunci," Ucap Naura, menoleh menatap Bayu yang ternyata sedang tersenyum menatapnya.
"Aku akan buka pintunya, tapi sebutkan dulu siapa namamu?" Tanya Bayu, menaik turunkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Sejenak Naura menghela nafasnya, laki-laki benar-benar membuatnya kesal sedari awal. Namun Naura harus tetap berterima kasih pada laki-laki itu karena sudah mengantarkannya pulang dengan selamat.
"Naura," Ucap Naura memberitahu namanya. "Sudah ya Kak, sekarang buka pintu mobilnya" Pinta Naura kemudian.
"Em, Naura, nama yang bagus. Ok baiklah sekarang kau bisa keluar, silahkan." Ucap Bayu setelah membuka kunci pintu mobilnya.
Naura pun keluar dari mobil itu, dan segera berlari masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi kebelakang. Sementara Bayu, terus tersenyum menatap langkah Naura hingga gadis itu sudah masuk kedalam rumahnya.
Beruntung pintu rumahnya tidak dikunci, sehingga Naura bisa segera masuk. Namun dalam hati dia sedikit kesal dengan kecerobohan orangtuanya yang sering lupa mencuci pintu.
"Ya ampun, jas nya lupa aku kembalikan," Naura membuka pintu rumahnya hendak mengembalikan jas laki-laki itu, namun saat Naura keluar mobil itu sudah tidak ada.
******
Hujan yang semakin deras disertai kilatan kilatan, kemudian disusul dengan petir yang menyambar, mengagetkan Wahyu yang tengah duduk disofa menyandarkan kepalanya.
"Naura...
Dengan cepat Wahyu mengambil jaket serta kunci mobilnya, hendak menyusul wanita yang beberapa saat lalu telah resmi menjadi mantan istrinya.
.
.
.
BONUS VISUAL
__ADS_1