Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 101. SEPERTI NYATA


__ADS_3

"Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita bersama, Aku akan sangat bahagia pernah mengenalmu dan akan menempatkanmu disini, selamanya." ujar Bayu sembari menunjuk dadanya serta menatap Naura yang terlihat cemberut karena ucapannya itu.


"Kenapa Kak Bayu bicara seperti itu, apa Kak Bayu akan meninggalkan Aku?" tanya Naura memicingkan matanya.


"Tidak, Aku tidak akan pernah melakukan itu, walaupun ragaku tidak berada disisimu, tapi jiwaku akan selalu bersamamu." jawab Bayu dengan tersenyum.


"Udah ah, mending Kak Bayu pulang aja, Aku gak suka dengarnya." rajuk Naura, saat ini mereka berdua sedang duduk di teras rumah Naura.


"Hei kok marah sih, Aku kan cuma bercanda." Bayu membujuk calon istrinya itu, namun Naura sudah terlanjur merajuk.


"Ya udah deh, kalau gitu Aku pulang ya. Tapi awas loh jangan sampai nyesel nanti kalau Aku beneran pulang."Ya udah deh, kalau gitu Aku pulang ya. Tapi awas loh jangan sampai nyesel nanti kalau Aku beneran pulang." ujar Bayu lalu berdiri, kemudian melangkah menuju mobilnya.


Sementara Naura yang masih mempertahankan mode merajuk nya hanya menatap kesal langkah Bayu yang kini sudah memasuki mobilnya, dan Naura semakin kesal dibuat Bayu yang membuka kaca mobilnya lalu melambaikan tangan padanya sebelum mobil calon suaminya itu melaju meninggalkan pelataran rumahnya.


Setelah mobil Bayu sudah tak terlihat lagi, Naura pun masuk kedalam rumahnya. Benar-benar kesal dengan calon suaminya itu, bukannya berusaha membujuk dirinya yang sedang merajuk, tapi malah pulang begitu saja.


Naura merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari terus menatap ponselnya, berharap Bayu akan menghubunginya atau mengirim pesan padanya, namun sudah satu jam berlalu tak ada tanda-tanda calon suaminya itu akan menghubunginya.


Merasa kesal Naura pun meletakkan ponselnya di atas nakas lalu membalikkan badannya dengan posisi tengkurep.


Baru saja Naura akan memejamkan matanya, dengan cepat dia bangkit dari atas ranjang lalu menyambar ponselnya yang berdering di atas nakas, berharap yang menelponnya itu adalah Bayu. Namun, saat Naura mengangkat panggilan itu Naura terkejut mendengar bukan suara Bayu yang terdengar di seberang sana.


"Halo, selamat siang. Apakah benar ini adalah kerabat dari pemilik ponselnya ini?" suara seorang laki-laki terdengar di seberang sana.


"I-ya, maaf ini siapa ya?" tanya Naura terbata, entah kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tak enak.


"Kami dari kepolisian, pemilik ponselnya beberapa saat lalu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dalam penanganan dokter, kondisinya kritis, jadi tolong kepada keluarga korban untuk segera datang ke rumah sakit."


Deg...


Seketika ponselnya Naura terjatuh dari genggamannya, tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdetak tak karuan.

__ADS_1


"Kak Bayu...


Naura pun terduduk di lantai seakan tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Beritanya yang baru saja didengarnya membuat seluruh tubuhnya lemas serasa tak bertulang.


Padahal baru beberapa saat lalu calon suaminya itu bercengkrama bercanda dengannya. Dan sekarang dia mengalami kecelakaan dan berbaring tak berdaya di rumah sakit.


Perkataan Bayu beberapa saat lalu sebelum pergi dari rumahnya kini seolah berputar-putar di memory nya.


'Seandainya hari ini adalah hari terakhir kita bersama, Aku akan sangat bahagia pernah mengenalmu dan akan menempatkanmu disini, selamanya.'


'Walaupun ragaku tidak berada disisimu, tapi jiwaku akan selalu bersamamu.'


'Ya udah deh, kalau gitu Aku pulang ya. Tapi awas loh jangan sampai nyesel nanti kalau Aku beneran pulang.'


"Kak Bayu...


...*******...


Naura menoleh pada jam dinding di kamarnya, waktu menunjukkan baru pukul 1 dini hari, dan itu artinya dia ketiduran saat tengah mengobrol berjam-jam dengan Bayu melalui sambungan telepon.


"Ya Allah, syukurlah itu hanya mimpi." Naura mengelus dadanya yang bergemuruh. Namun, perasannya menjadi tak enak akan mimpinya itu yang seperti nyata.


Merasa tak tenang, Naura pun mengambil ponselnya di atas nakas lalu mencoba menelpon calon suaminya itu.


Tak butuh waktu lama, panggilan itu pun terhubung, terdengar suara parau Bayu di seberang sana membuat Naura menjadi lega.


"Ya Naura, kamu belum tidur? Aku baru aja mau tidur." ucap Bayu sembari menguap karena sudah sangat mengantuk.


"Maaf, Kak tadi Aku ketiduran, ya udah Kak Bayu lanjut aja tidurnya." Naura terkekeh mendengar suara Bayu yang sepertinya ngantuk berat.


"Gak apa-apa, ya udah Aku tidur dulu ya ngantuk banget ini, kamu juga tidur lagi dan sampai ketemu besok." ujar Bayu lalu meletakkan ponselnya di samping telinganya tanpa mematikan panggilan itu, lalu Bayu pun perlahan menutup matanya, kantuk nya benar-benar sudah tak tertahankan.

__ADS_1


Naura pun tak mematikan sambungan teleponnya walaupun tak terdengar suara Bayu lagi, Naura tau kalau calon suaminya itu sudah tertidur. Hingga terdengar suara dengkuran halus yang menandakan Bayu sudah berkelana ke alam mimpi, barulah Naura mematikan sambungan teleponnya dengan Bayu. Kemudian dia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang mencoba untuk tidur, namun hingga beberapa saat Naura tak bisa memejamkan matanya karena terus kepikiran dengan mimpinya itu.


Saat menjelang subuh Naura mulai mengantuk, namun dia tidak tidur melainkan beranjak dari atas ranjang hendak mengambil wudhu, setelahnya Naura melaksanakan shalat fajar dua rakaat sambil menunggu waktu shalat subuh.


Tepat pukul 6 pagi Naura sudah rapi, namun dia masih berada di dalam kamarnya dengan terus menatap ponselnya.


"Kak Bayu udah bangun belum ya, aduh kok Aku kepikiran sama mimpi itu terus sih. Ayolah Naura, rileks itu hanya mimpi." Naura berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Beberapa saat terus berperang dengan hatinya yang tak kunjung merasa tenang, Naura pun menghubungi Bayu lagi, seolah dia ingin memastikan bahwa calon suaminya itu baik-baik saja


Baru beberapa detik panggilan itu sudah terhubung, namun bukan Bayu yang menjawabnya.


"Hem, kenapa pagi-pagi udah nelpon, apa masih kangen? Ya elah, padahal tadi malam kalian itu teleponan sampai tengah malam loh," tak usah ditebak lagi siapa yang menjawab telepon Bayu, sudah tentu putri rumah itu yang tak lain adalah Lusi, adik kesayangan Bayu.


"Eh dedek Lusi toh, Aku kira Kak Bayu." di seberang sana Naura tersipu malu karena yang menjawab teleponnya adalah Lusi.


"Eh dedek Lusi toh, Aku kira Kak Bayu," ujar Lusi mengulang ucapan Naura dengan nada mengejek. "Sumpah geli banget tau gak Aku dengarnya."


Di seberang sana, Naura tersenyum mendengar ucapan Lusi, seolah Lusi melihat senyuman nya itu.


"Ngapain telepon pagi-pagi? Kalau mau nanyain Kak Bayu, noh orangnya masih molor, ish bau iler lagi, wekkk."


Naura terkekeh. " Ya udah Aku tutup teleponnya dulu, dah dedek Lusi."


.


.


.


Mampir juga yuk ke novel othor yang masih syepih ini.🤗🙏

__ADS_1



__ADS_2