
"Bagaimana, apa sudah puas?" tanya Bayu pada putranya, kini mereka sedang berada di cafe untuk mengisi perut mereka setelah seharian menikmati weekend.
"Sebenarnya masih ada tempat yang pengen Rayan datangi, tapi Rayan udah capek Pa, ngantuk juga." jawab Rayan dengan memanyunkan bibirnya.
"Ya udah, kalau gitu setelah makan kita pulang." ucap Bayu, dan diangguki oleh putranya itu.
Tak lama makanan pesanan mereka pun datang, Rayan makan dengan sangat lahap hingga makanan di piringnya tandas tak bersisa sehingga membuatnya semakin mengantuk karena kekenyangan.
"Mama, Papa cepetan dong habisin makanannya, Rayan udah ngantuk nih." ucap Rayan sembari menguap, ia benar-benar mengantuk.
"Udah, Mama udah selesai makannya." ujar Naura lalu mengambil tisu mengelap sudut bibirnya dari sisa makanan.
"Iya, Papa juga udah kok." sahut Bayu, kemudian melakukan hal yang sama dengan istrinya.
Setelah membayar makanannya, Bayu menggendong Rayan kemudian menggandeng tangan Naura keluar dari cafe itu.
Setelah sampai di mobil, ternyata Rayan sudah tertidur di gendongannya, Naura pun dengan cepat membukakan pintu mobil dibelakang, dan Bayu pun membaringkan putranya itu di kursi penumpang dibelakang.
"Hem, cepat sekali tidurnya." gumam Naura sembari membenarkan posisi kepala Rayan.
"Iya, sama kayak kamu, baru dielus-elus kepalanya aja udah tidur." sahut Bayu terkekeh.
Naura tak menanggapi, ia hanya tersenyum menatap suaminya itu, dan setelah selesai membenarkan posisi tidur Rayan, Naura berpindah duduk di depan disamping suaminya.
"Oh ya, Wahyu besok pulang." ujar Bayu, namun Naura tak menanggapinya.
"Katanya, dia ingin sekali bertemu Rayan." ucap Bayu lagi, dan masih tak mendapat tanggapan dari istrinya itu.
__ADS_1
"Dia pasti iri nanti melihat Rayan." ucap Bayu kemudian, dan Naura malah memejamkan matanya.
"Tapi aku khawatir, bagaimana kalau Rania tau dia akan pulang, Wahyu bisa mati konyol,"
"Sayang, kamu dengerin aku gak sih?" tanya Bayu sedih kesal pada istrinya itu.
"Hem," jawab Naura dengan deheman, matanya masih terpejam.
"Kenapa sih, setiap kali aku membicarakan Wahyu kamu itu seolah tuli?"
"Seharusnya Kak Bayu sudah tau jawabannya, lagipula apapun yang berhubungan dengan dia itu sama sekali bukan urusan kita." jawab Naura, dan membuat Bayu terhenyak.
"Lebih baik Kak Bayu jangan terlalu ikut campur dengan urusannya." ujar Naura memperingati.
"Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, dan aku tidak ingin membebani nya dengan ikut campur urusan orang lain." sambungnya dan membuat Bayu kini terdiam.
"Hem, yang kau katakan itu benar, Sayang. Tapi, terkadang aku hanya kasihan padanya." ucap Bayu.
"Kasihan boleh, menolong orang pun lebih boleh. Tapi, aku rasa Kak Bayu sangat berlebihan." ucap Naura, ia melirik suaminya yang tampak mencerna ucapannya.
Suasana didalam mobil itupun hening, hanya deru kendaraan yang saling berlomba, yang terdengar.
Sekali lagi, Naura menatap suaminya sebelum ia kembali memejamkan matanya. Sementara Bayu sendiri fokus pada jalanan di depannya, namun dalam hati ia mencerna semua ucapan istrinya.
Apakah benar, dirinya terlalu berlebihan?
...*******...
__ADS_1
Keesokan harinya...
"Ini sudah siang loh," ucap Naura sembari melihat jam dinding di kamarnya. "Tumben Kak Bayu belum berangkat ke kantor?" tanyanya, kemudian duduk di tepi ranjang didekat suaminya yang tampak fokus pada ponselnya.
"Hari ini aku mau dirumah aja, lagian juga sudah tidak yang perlu dikerjakan, paling cuma tanda tangan berkas dan itu bisa besok." jawab Bayu, namun tatapannya masih fokus pada ponselnya.
"Lagi chat sama siapa sih? Kayaknya serius banget." tanya Naura.
"Oh ini lagi chat sama Wahyu, katanya dia baru sampai di bandara." jawab Bayu, dan kali ini dia menatap istrinya dengan serius.
"Sayang, boleh gak aku bantuin Wahyu kali ini aja, aku janji gak akan ikut campur terlalu jauh."
Naura menghela napas panjang mendengar ucapan suaminya itu, kemudian ia juga membalas menatap Bayu dengan serius.
"Kak, ada baiknya kalau dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Aku yakin kok, Kak Rania gak benar-benar akan membunuhnya, ini sudah lima tahun, dan Kak Rania itu bukan orang bodoh yang akan berbuat sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri. Kak Rania masih mempunyai Melani yang harus dia jaga, dan tentu Kak Rania akan lebih mementingkan Melani dari pada dendamnya." ujar Naura panjang lebar.
Bayu terhenyak, ia menundukkan kepalanya sejenak, kemudian kembali menatap istrinya.
"Jadi, tidak boleh?" tanyanya dengan lirih.
"Aku gak melarang Kak Bayu, engga juga mengiyakan. Tapi, perlu Kakak tau, aku hanya tidak ingin keluarga kita terseret ke dalam masalah orang lain." ucap Naura menekankan, kemudian beranjak meninggalkan suaminya yang menatap langkahnya keluar dari kamar.
...*******...
Di luar bandara, Wahyu memejamkan kedua matanya dan merentangkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan, kemudian menghirup udara segar kota kelahirannya yang sudah lima tahun ia tinggalkan.
Lega, itulah yang dirasakannya saat ini, setelah lima tahun akhirnya ia kembali menginjakkan kakinya di ibukota.
__ADS_1
Namun, hatinya masih belum tenang, karena ini adalah awal untuk dirinya memulai sebuah misi untuk mendapatkan maaf yang selama lima tahun ini terus mengganggu tidurnya.