Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 66. USAHA


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Bayu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua tangannya dia letakkan dibawah kepalanya sebagai bantal serta matanya menatap langit-langit kamar. Namun, pikirannya melayang jauh memikirkan Naura yang saat ini sedang menjawab telepon seseorang di kamarnya, dan itu membuat Bayu penasaran siapakah yang menelpon gadis kecilnya itu.


"Apa yang menelpon Naura itu adalah mantan suaminya ya?" gumamnya, kedua tangannya dia tarik kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Di netranya selalu terlintas wajahnya Naura saja.


"Apa Naura akan menerima Aku, kalau Aku mengatakan menyukainya?" ucapnya lirih.


"Oh Tuhan, kenapa Aku malah jatuh hati pada gadis yang pantasnya menjadi adikku. Naura bahkan lebih muda dari Lusi."


"Ah, ini bukan salahku. Perasaan ini muncul dengan sendirinya. Yah, Aku akan mencobanya. Apapun keputusan Naura, Aku akan menghargainya. Yah, Apa salahnya Aku mencobanya!" Bayu pun beranjak dari tempat tidurnya, kemudian melangkah keluar dari kamarnya menuju dapur.


Di dapur, dengan cekatan Bayu menyiapkan beberapa bahan masakan lengkap dengan bumbunya. Bayu akan memasak makanan untuk makan malam dirinya dan juga Naura. Dan makan malam kali bukanlah makan malam biasa melainkan makan malam romantis untuk Bayu, karena dirinya akan menyatakan perasaannya pada gadis kecilnya itu.


Bayu tak bisa menundanya lagi, malam ini juga dia akan mengungkapkan perasaannya yang setiap hari semakin menggebu. Apalagi, selama satu bulan ini dia tinggal bersama dengan Naura di dalam satu apartemen yang sama, membuat Bayu semakin yakin dengan perasaannya pada Naura.


Sementara Naura, saat ini dia sedang tertidur di kamarnya setelah hampir satu jam berbicara dengan mantan mertuanya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


Beruntung Naura sedang tidur, jika tidak pasti dia akan segera menghampiri dapur yang terdengar suara gaduh di sana karena ulah Bayu yang memasak dengan begitu semangatnya.


Dentingan spatula dan wajan yang beradu seolah seperti alunan musik yang merdu, mengalunkan senandung lagu cinta seiring dengan hati Bayu yang saat ini tengah berbunga-bunga.


Beberapa saat kemudian Bayu pun telah selesai memasak, kemudian menata hasil masakan di atas meja makan.


"Selesai," ucapnya. Berkacak pinggang menatap kagum pada hasil masakannya.


"Sekarang Aku mandi dulu deh, bau bawang. Ntar Naura eneg lagi, hehehe." kekehnya, lalu melangkah menuju kamarnya sambil bersiul siul.


Setelah selesai mandi dan berpakaian lengkap. Bayu menatap dirinya dari pantulan cermin. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman menatap wajahnya sendiri.


"Baiklah Bayu, apapun jawaban Naura nanti Kamu harus tetap baik-baik saja." ucapnya meyakinkan dirinya sendiri. Apapun jawaban Naura nanti, setidaknya dia sudah berusaha mengungkapkan perasaannya, dia tidak ingin membendung perasaan itu lebih lama lagi.


Dengan gagahnya Bayu melangkah keluar dari kamarnya. Saat sudah berada di ruang makan Bayu mematikan semua lampu diruangan itu. Bayu pun duduk menunggu gadis kecilnya itu keluar dari dalam kamarnya. Dan benar saja, terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekati ruang makan, yang Bayu yakinin itu adalah suara langkah kaki Naura.

__ADS_1


Naura yang baru saja keluar dari kamarnya, merasa heran melihat seluruh ruangan di apartemen itu menjadi gelap terkecuali kamarnya. Naura pun perlahan melangkahkan kakinya menuju dapur yang berdekatan dengan ruang makan.


Naura perlahan melangkah sambil meraba dinding mencari sakral untuk menyalahkan lampu. Sementara Bayu, duduk diam menumpu dagunya terkikik geli memperhatikan Naura yang terus meraba-raba dinding.


"Nah, ketemu!" pekik Naura, senang akhirnya menemukan keberadaan sakral lampu setelah bebeberapa saat mencarinya dengan meraba-raba dinding.


Naura pun menekan tombol sakral itu, dan seketika semua lampu langsung menyala.


"Tara.... Surprise... " Bayu langsung berdiri dan merentangkan kedua tangannya saat tatapan Naura tertuju padanya.


"Kak Bayu, ini ada apa?" tanya Naura, hampir tak mengedipkan matanya melihat di meja makan begitu banyak makanan, tidak seperti malam biasanya yang hanya dengan dua macam menu saja saat makan malam.


Bayu pun melangkah mendekati Naura, kemudian menarik tangan gadis kecilnya itu membawanya duduk di kursi. Sementara Naura hanya bisa tercengang dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Bayu padanya. Malam ini Bayu terlihat tidak seperti biasanya, begitulah pikir Naura saat ini.


Setelah Naura duduk, Bayu pun juga duduk tepat dihadapan Naura sembari mengembangkan senyum pada gadis kecilnya itu.

__ADS_1


"Kak Bayu, ini ada apa sebenarnya?" tanya Naura lagi. Masih tidak mengerti dengan sikap Bayu malam ini padanya.


"Naura... Aku...


__ADS_2