
Tak terasa waktu terus bergulir, dua minggu sudah terlewat setelah perbincangan hangat dirumah kedua orangtua Naura.
Dan hari ini adalah hari dimana sepasang calon pengantin sedang berada di sebuah butik ternama di ibukota untuk melakukan fitting baju pengantin.
Sementara persiapan yang lainnya sudah ditangani oleh pak Jhohan sendiri, dan persiapannya sudah mencapai 75%.
"Pak Bayu, bagaimana dengan gaun ini apakah Bapak suka?" tanya karyawan butik itu yang baru saja keluar dari ruang ganti bersama Naura.
Bayu tercengang melihat pemandangan didepannya, mulutnya sedikit terbuka serta matanya hampir saja tak berkedip.
"Sempurna," gumamnya.
Karyawan butik itupun tersenyum puas karena pelanggannya hari ini menyukai gaun yang dia pilihkan.
Naura pun kembali masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya lagi, dan setelah itu giliran Bayu yang mencoba jas pengantinnya.
"Mari Pak Bayu, sekarang giliran Bapak yang mencoba jas pengantinnya." ajak karyawan butik itu.
Sama seperti Naura, Bayu pun terlihat semakin gagah dengan jas pengantinnya. Dan setelah urusannya di butik itu selesai, Naura dan Bayu melanjutkan kegiatannya hari ini ke studio untuk melakukan foto prewedding.
Berbagai macam gaya yang diperagakan nya saat melakukan pemotretan dan beberapa kali berganti kostum membuat Naura dan Bayu merasa lelah dan perut mereka mulai keroncongan karena tenaganya yang hampir terkuras habis seharian ini.
"Kita cari makan dulu ya," ucap Bayu dan diangguki oleh Naura.
"Mau makan dimana?" tanyanya pada calon istrinya itu.
"Terserah Kak Bayu aja deh." jawab Naura dengan wajah lelahnya.
Baru fitting baju pengantin dan pemotretan foto prewedding saja sudah cukup menguras tenaganya, bagaimana nanti kalau sudah menjelang hari pernikahan. Sementara pesta pernikahannya nanti akan digelar dihotel dan itu akan lebih melelahkan karena harus berada di antara para tamu dengan waktu yang cukup lama , berbeda saat pernikahannya dengan Wahyu dulu yang hanya diadakan dirumah. Setelah selesai akad dan bercengkrama sebentar bersama para tamu, sudah bisa beristirahat di kamar.
"Em, bagaimana kalau kita makan bakso ditempat yang waktu itu," ucap Bayu antusias.
"Di tempat yang mana?" tanya Naura bingung.
"Itu loh, yang waktu pertama kali kita ketemu itu." Bayu mencoba mengingatkan Naura akan pertemuan pertama mereka.
"Dimana sih, Aku gak ingat." jawab Naura lagi sembari menggaruk pelipisnya.
"Itu loh, aduh gimana ya kasih tau nya. Em, masih ingat gak sih waktu pertama kali kita ketemu itu Aku hampir nabrak kamu, terus kamu bilang mau beli bakso diseberang jalan. Terus, terus Aku ikut kamu beli bakso terus Aku yang bayarin sebagai permintaan Aku karena udah hampir nabrak kamu. Nah yang itu, ingat kan?" Bayu menatap kedua mata Naura berharap gadis kecil yang sebentar lagi akan menjadi istrinya ini mengingat pertemuan pertama mereka.
Sementara Naura mengedip ngedipkan matanya, tercengang mendengar kalimat calon suaminya, dan beberapa saat kemudian tawa Naura meledak.
"Hahahaha, aduh Kak Bayu kok ngomongnya belepotan gitu sih, hahah." perut yang terasa lapar itu kini terasa keram karena tertawa.
"Kok diketawain sih, kan Aku cuma sedang berusaha mengingatkan kamu pada pertemuan pertama kita," Bayu memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Gak diingetin pun Aku masih inget kok, Kak." Naura kembali tertawa.
"Lah, tadi katanya gak ingat. Wah, kamu ngerjain Aku ya? Hei jangan lari... " dan akhirnya terjadilah aksi kejar mengejar didalam studio itu.
Karena merasa semakin lelah terus berlari, Naura pun mengalah dan berhenti berlari disini ruangan itu dan tanpa sadar ternyata Bayu sudah berdiri di belakangnya dengan senyum yang penuh arti.
"Tertangkap!" ucap Bayu sembari memeluk Naura dari belakang, dan tentu saja Naura terkejut dan memekik kuat. Karena ini adalah pertama kalinya Bayu menyentuhnya dengan sangat dekat.
"Kak, Kak Bayu lepasin gak enak dilihat orang-orang." Naura merontah didalam pelukan Bayu.
"Oke, oke baiklah Aku lepasin," Bayu pun melepaskan Naura. "Ya udah yuk sekarang kita pergi ke penjual bakso itu, udah lapar banget nih." ucapnya dengan mengelus perutnya.
"Ayo, Kak, Aku juga udah lapar banget." ucap Naura dengan mengelus perutnya juga.
Beberapa saat kemudian, Bayu dan Naura pun telah sampai ditempat yang mereka tuju. Pedagang bakso yang terletak di seberang jalan yang tak jauh dari tempat Bayu hampir menabrak Naura beberapa bulan yang lalu, dan itu adalah hari pertama pertemuan mereka, dan Bayu akan selalu mengingat hari itu hingga dimana kini dia bisa duduk berdampingan dengan gadis kecilnya itu.
"Kak Bayu," panggil Naura di sela-sela mengunyah bakso nya.
"Hem," jawab Bayu dengan deheman, Bayu terlihat lebih lahap makan bakso nya dari pada Naura.
"Kak Bayu gak malu apa?"
"Malu kenap?" tanya Bayu balik.
"Kakak ini orang sukses, pintar, berpendidikan tinggi, anak orang kaya, terus tampan lagi. Masa, calon istrinya janda." ucap Naura lalu tertawa sendiri karena ucapannya itu.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Naura pun dengan cepat memberikan air minum pada Bayu.
"Ya ampun, Kak. Pelan-pelan dong makannya."
"Ini gara-gara kamu," Bayu mencubit pipi Naura.
"Aduh, Kak sakit, kok gara-gara Aku sih?" Naura meringis mengusap pipinya yang sudah memerah.
"Kamu tadi ngomong apa, huh? Kenapa ngomong kayak gitu, Aku gak suka ya dengarnya." kesal Bayu.
"Ngomong apa? Gak ngomong apa-apa kok." Naura seakan lupa dengan ucapannya sendiri.
"Jangan pura-pura lupa ya, ayo bila apa tadi, huh!" Bayu menatap tajam gadis kecilnya itu.
"Iya iya, maaf. Tapi, Aku ini kan emang janda." ucap Naura lagi dan kali ini mendapat jeweran di telinganya.
"Aduh, aduh Kak lepas sakit tau." Naura berusaha melepaskan tangan Bayu yang menjewer telinganya.
"Naura, jangan ngomong kayak gitu lagi ya," ujar Bayu sembari melepaskan jeweran nya. "Aku gak pernah mandang apapun status kamu sekarang karena Aku tulus, bahkan Aku sama sekali gak perduli apa kata orang yang terpenting Aku bisa memiliki kamu, menjaga dan menyayangi kamu dengan segenap jiwa dan raga ku."
__ADS_1
"Duh, Kak Bayu so sweat banget sih, meleleh nih hatiku." kekeh Naura.
"Naura, Aku serius ya." kesal Bayu karena Naura seolah menganggap seperti candaan apa yang baru saja diungkapkan nya.
"Iya, Aku percaya kok sama Kak Bayu." ujar Naura sembari tersenyum.
"Naura, kamu percaya kan kalau Aku tidak akan seperti...
Dengan cepat Naura menganggukan kepalanya dan Bayu pun tidak jadi meneruskan kalimatnya lalu terganti dengan senyuman hangat yang menghiasi wajah tampan nya.
"Aku berjanji akan selalu menjaga kamu, Naura." ucap Bayu lalu meraih tangan Naura ke dalam genggamannya.
"Jangan berjanji, Kak. Ada baiknya kita jalani saja dulu apa yang menurut kita baik, dan untuk kedepannya biarlah Allah yang menentukan bagaimana jalan takdir kita." Naura membalas genggaman Bayu.
Bayu pun menganggukkan kepalanya. "Kita pulang ya," ajaknya.
"Iya, Aku juga udah capek banget." kata Naura.
"Uluh uluh, jangan capek-capek dong, belum hari H nya juga terus belum lagi malam pengantinnya, kita akan membutuhkan tenaga yang ekstra untuk itu. Bayu mengedipkan sebelah matanya menggoda calon istrinya itu.
"Kak Bayu, apaan sih." Naura jadi tersipu malu dibuatnya.
.
.
.
Sambil nunggu up selanjutnya mampir yuk ke novel teman othor 🙏
Nama ku Husna Almaida yang akrab di panggil Alma. Aku seorang kepala devinisi di salah satu perusahaan telekomunikasi. Banyak orang yang mengakui kecantikan ku, meskipun aku sehari-hari memakai hijab.
Di usia ku yang sudah menginjak 28tahun, aku baru menikah dengan seorang pria yang juga bekerja di perusahaan tempat ku bekerja. Beberapa tahun aku tidak kunjung hamil, hingga suami ku berselingkuh dengan pembantu di rumah ku sendiri.
Hati wanita mana yang tidak sakit, saat melihat suaminya sendiri bercinta dengan wanita lain di ranjang yang biasa aku gunakan saat melakukan hubungan dengan suami ku. Akankah aku bisa memaafkan suami ku atas segala kesalahannya? Atau aku lebih memilih bercerai dan hidup menjanda?
Simak kelanjutannya berikut !!!
Fb : Bundanya Al
Ig : ningsihartono
Tik_tok : momal022
__ADS_1
Jangan lupa follow akun Mom ya 🤗.