Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 38. SEPERTI AWAN


__ADS_3

"Kakak pulang ke Indonesia itu karena Papa menugaskan kakak untuk memantau langsung pembangunan cafe baru Papa yang akan dibangun di Palembang" Sambung Wahyu menjelaskan, dan membuat Lusi semakin banyak seketika membelalak kan matanya.


'Ya ampun, itu artinya Naura akan ke Palembang bareng Kak Bayu kalau seandainya Naura beneran jadi ambil job itu'


"Lus, Lusi kamu kenapa? Kok ngelamun sih?" Bayu menggerakkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan didepan wajah adiknya itu.


"Ah Iya, kakak bilang apa tadi?"


"Kamu itu, bukannya menjawab pertanyaan kakak malah melamun, kenapa sih?" Bayu berkacak pinggang, serta menatap tajam adiknya itu.


"Em, Kak ngomongin itu nanti aja ya, sekarang aku mau tidur dulu, ngantuk banget" Ujar Lusi, dia menguap untuk meyakinkan kakaknya itu kalau dia benar-benar mengantuk.


"Ck. Kamu itu, kakak mau ngomong penting juga, kamu malah mau tidur. Ya udah deh sana tidur dulu, tapi nanti kamu harus ceritain sama kakak soal teman kamu yang mau kamu rekomendasikan itu" Setelahnya, Bayu pun meninggalkan adiknya itu, kemudian pergi ke kamarnya.


Setelah kakaknya pergi, Lusi pun segera masuk ke dalam kamarnya. Didalam kamar Lusi terus mondar-mandir memikirkan Naura.


'Huh, seandainya Naura belum nikah, pasti aku gak akan sekhawatir ini kalau dia nanti pergi sama Kak Bayu ke Palembang' Entah apa yang membuat Lusi merasa khawatir, dia sendiri pun tidak mengerti.


*******


Saat ini Naura berada di sebuah Taman setelah pertemuannya tadi dengan Lusi. Ini bukan akhir pekan, tapi suasana di Taman sangat ramai sekali. Langit pun terlihat sangat cerah, namun tak secerah hati Naura saat ini.


Naura menengadah menatap awan-awan yang terlihat bergerak perlahan berubah bentuk. Jika hatinya ibarat awan, maka Naura akan melakukan hal yang sama, berubah, kemudian perlahan menghilangkan rasa yang ada untuk seseorang yang telah menyakiti hatinya.


'Mas Wahyu, jika harus melepasmu, aku ingin melepasmu baik-baik. Seperti awan yang melepas hujan. Namun rindu yang kusembunyikan di balik awan, akan turun melalui tetesan hujan untuk menemuimu'


Naura tersenyum ketika terik itu mulai meredup, namun tak membuat langit menjadi mendung. Dan begitulah harapan Naura untuk kehidupannya di masa depan. Dia akan tetap kuat, meski suatu hari nanti tak ada lagi bahu untuknya bersandar.


Puas menatap langit yang seolah tahu keluhan hatinya, Naura pun menurunkan pandangannya menatap keramaian orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya.


Tiba-tiba, Naura memejamkan mata serta mengelus dadanya yang terasa bergemuruh.

__ADS_1


Sepertinya, keputusannya untuk bercerai adalah hal yang tepat jika tidak ingin terus menerus tersakiti.


"Lusi, mungkin tadi kamu tidak begitu percaya dengan ucapanku. Tapi kali ini aku akan membuatmu mendukungku untuk bercerai" Gumam Naura.


Naura pun merogoh tas nya, kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Membuka kamera di ponselnya, lalu mengarahkan kamera itu pada dua orang yang duduk di ujung sana, sedang mengobrol, bercanda dan saling melempar senyum. Benar-benar pasangan yang romantis.


Setelah mengambil beberapa gambar dan juga video, Naura memasukkan kembali ponselnya kedalam tasnya, kemudian beranjak dari tempat duduknya menghampiri dua orang yang sangat dikenalnya itu.


"Ekhm... Apa aku boleh gabung?" Naura menatap dua orang itu bergantian.


"Naura...


Tanpa menunggu persetujuan, Naura pun langsung duduk ditengah-tengah di antara dua orang itu, yang tak lain adalah Diandra dan Wahyu.


Sekuat tenaga, dan sebisa mungkin Naura menahan perih didalam hatinya. Naura tersenyum menatap sepasang kekasih itu bergantian, namun percayalah, rasanya ingin sekali dia meneriaki dua orang itu saat ini juga. Benar kata temannya, Lusi. Dia harus terlihat kuat dihadapan suaminya itu, dan tidak boleh lemah.


'Suami pendusta' Umpat Naura dalam hati.


"Bu Diandra, maaf ya sampai sekarang aku masih tinggal satu atap dengan kekasihnya Ibu. Habisnya kekasih Ibu tidak mau menceraikan aku, gimana dong Bu? Padahal aku udah minta cerai loh Bu, tapi dia tidak mau. Bu Diandra aja ya yang bilangin dia, siapa tau kekasih Ibu itu mau mendengarkan Ibu" Kata Naura, dalam hati dia mengumpati dirinya sendiri berkata seperti itu.


Setelah mengatakan itu, Naura pun beranjak pergi meninggalkan dua sepasang kekasih itu. Naura tidak ingin berlama-lama berada di antara mereka, karena hanya akan menambah luka di dalam hatinya.


Dan kini Diandra menatap tajam Wahyu setelah kepergian Naura. Bukankah kekasihnya ini sudah mengatakan akan menceraikan istrinya setelah dia Sarjana, lalu apa ini? Baru saja istri dari kekasihnya itu datang dan mengatakan kalau kekasihnya itu tidak ingin menceraikannya.


"Apa benar yang dibilang Naura tadi, kamu tidak mau menceraikan dia? Kenapa, Wahyu?"


Namun Wahyu hanya diam dan menundukkan kepalanya, bahkan tak berani menatap kekasihnya itu.


"Jangan bilang, kamu mencintai dia, iya Wahyu?!"


"Maafkan aku, Diandra. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku hanya merasa nyaman berada di dekatnya. Mungkin kau tidak akan percaya, dan mengatakan itu hanyalah lelucon jika aku bilang, aku tidak bisa tidur tanpa pelukan dan elusan tangannya. Dan tadi malam Naura tidak melakukan itu, alhasil semalaman aku tidak bisa tidur" Ucap Wahyu jujur, namun tanpa sadar ucapannya itu telah melukai hati kekasihnya.

__ADS_1


'Tadi malam Naura tidak melakukan itu, alhasil semalaman aku tidak bisa tidur'


Entah kenapa, kalimat Wahyu itu terdengar memiliki makna lain di telinga Diandra. Yang mana, kalimat itu mengarah kepada hal yang berhubungan dengan suami istri.


Diandra mengepalkan kedua tangannya, kekasihnya ini benar-benar mempermainkan hati dan perasaannya. Jika saja Wahyu tak pernah memintanya untuk bertahan dan menunggunya, mungkin sejak satu tahun yang lalu Diandra bisa melupakan Wahyu dan mengikhlaskannya bersama Naura. Tetapi, kekasihnya itu datang untuk meyakinkannya satu hal akan hubungannya, bahwa mereka akan bersatu setelah kekasihnya itu menceraikan istrinya, namun hingga saat ini hal itu tidak terjadi karena alasan konyol Wahyu yang mencubit sudut hati Diandra. Jadi salahkah Diandra, jika saat ini dia menagih janji kekasihnya itu.


'Jangan salahkan aku, Wahyu. Jika aku sendiri tidak akan mundur untuk mempertahankan hubungan kita, kau sendiri yang pernah memintaku untuk menunggumu'


"Kau mau kemana?" Diandra menahan lengan Wahyu yang hendak berdiri.


"Maafkan aku, Diandra. Sekarang aku harus pergi mengejar Naura. Selama satu tahun ini kami berdua sudah banyak melewati banyak hal, dan aku sadar aku tidak bisa kehilangan dia. Dan untuk hubungan kita, aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu banyak berharap padaku" Perlahan, Wahyu melepaskan cekalan tangan Diandra pada lengannya.


"Diandra, maafkan aku, sepertinya aku telah jatuh cinta pada istriku"


Setelah mengatakan itu, Wahyu pun membalikkan badannya meninggalkan Diandra. Dengan langkah cepat Wahyu berjalan ke arah dimana istrinya pergi, namun Wahyu tak dapat lagi menemukan keberadaan istrinya itu, dia kehilangan jejak Naura.


'Mungkin Naura sudah pulang' Gumam Wahyu.


.


.


.


.


.


Silahkan buat yang ingin berteman 🤭🤭🤭


IG: syitahfadilah

__ADS_1


__ADS_2