Kukira Cinta Ternyata Dusta

Kukira Cinta Ternyata Dusta
BAB 24. KITA BERTIGA BISA BERSAMA


__ADS_3

"Wahyu, amanah apa yang kamu maksud itu?" Diandra yang masih berdiri diambang pintu ruangan Dosen, menatap lekat kekasihnya itu setelah Naura pergi dari sana.


"Ini amanah dari Papa ku, Diandra. Sebelum Papa ku meninggal, dia sempat berpesan pada ku" Wahyu pun menceritakan apa yang dikatakan oleh Papa nya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


'Wahyu, Papa rasa umur Papa sudah tidak lama lagi...


'Pa, tolong jangan berbicara seperti itu Pa. Papa pasti sembuh' ucap Wahyu memotong ucapan Papa nya.


'Tidak, Wahyu. Papa sudah cukup lama bertahan, inilah salah satu alasan Papa menjodohkan kamu dengan Naura, Papa ingin melihatmu menikah sebelum Papa pergi'


'Pa, jangan berbicara seperti itu Pa. Aku yakin Papa pasti sembuh, Papa tunggu sebentar, aku akan pergi panggil dokter dulu'


Baru Wahyu akan pergi, tapi Pak Setya menahan putranya lagi.


'Tidak ada gunanya lagi memanggil dokter, Nak. Sekarang kamu genggam tangan Papa' Wahyu pun menggenggam tangan Papa nya yang terasa dingin.


'Berjanjilah pada Papa, kamu akan menggantikan Papa menjaga Mama dan adikmu. Dan untuk Naura, berjanjilah kamu tidak akan pernah menyakiti istrimu, cintai dia seperti kamu mencintai Mama dan adikmu. Jangan pernah menyakiti seorang wanita, Wahyu. Karena kamu juga memiliki adik perempuan, kamu pasti tidak mau kan adikmu perempuan mu disakiti oleh orang lain, berjanjilah Wah-yu...


Dan, perlahan mata Pak Setya mulai terpejam, genggaman tangannya mulai terlepas dari tangan Wahyu.


Mendengar itu, Diandra menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Selalu saja ada rintangan untuk dia bisa bersatu dengan Wahyu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana sekarang, huh? Apa kau berubah pikiran sekarang, kau akan mengurungkan niatmu itu untuk menceraikan Naura, iya?"


"Aku juga bingung, Diandra. Atau begini saja..." Wahyu meraih tangan Diandra kedalam genggaman nya. "Kita bisa bersama, bersama Naura juga. Maksudnya, kita bertiga bisa bersama, aku akan menikahimu tanpa menceraikan Naura"


Plak...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Wahyu.


"Kau gila, Wahyu! Aku tidak mau, kalau kau tidak bisa menceraikan istrimu, lebih baik akhiri saja hubungan kita!"


"Tidak Diandra, ak-u aku sangat mencintaimu, begitupun denganmu, kau juga mencintaiku bukan? Hanya ini jalan satu-satunya agar kita bisa bersama, Diandra" Wahyu kembali meraih tangan Diandra, namun dengan cepat Diandra menepis nya.


******


Tasya yang sedari tadi bengong, menyadari kalau kakak dan kakak iparnya tidak ada didalam ruangan itu. Tasya pun menghampiri teman-teman Naura untuk bertanya.


"Kak Lusi... " Lusi menoleh ke asal suara yang memanggilnya.


"Kak Lusi, lihat Kak Naura dan Kak Wahyu gak?" Tanya Tasya, sembari mengelilingi pandangannya didalam ruangan itu mencari kedua kakak nya itu.


"Em, mungkin masih di toilet kali, tadi Naura bilang mau susulin suaminya ke toilet" Jawab Lusi.

__ADS_1


"Oh ya udah Kak, terima kasih ya Kak, kalau gitu aku susulin mereka dulu soalnya lama banget"


"Eh tunggu dulu...


" Ya Kak Lusi, kenapa?"


"Kalau kamu dengerin suara yang aneh-aneh didalam toilet mendingan pergi aja ya" Kata Lusi, sambil cekikikan bersama kedua temannya yang lain.


"Emangnya kenapa Kak, emang disini sering ada suara aneh-aneh gitu ya didalam toilet?" Tanya Tasya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh teman dari kakak iparnya itu.


Tasya bergidik ngeri, dia mengira suara aneh yang dimaksud Lusi adalah suara makhluk gaib.


Baru saja Lusi akan menjawab, namun kepalanya langsung dijitak oleh temannya yang bernama Vina.


"Lusi... Ini adik iparnya Naura masih bocah loh, jangan ngomong yang aneh-aneh deh" Kata Vina, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Tasya.


"Aku bukan bocah ya! Bentar lagi aku udah SMA" Kata Tasya ketus, dia tidak terima dikatain bocah oleh temannya Naura. Kemudian, Tasya pun pergi dari hadapan teman-teman kakak iparnya itu menuju toilet.


Sesampainya didepan toilet, Tasya mendengar suara isakan dari dalam toilet wanita, Tasya pun menggosok gosok kedua lengannya yang tiba-tiba merinding.


"Duh, apa ini ya yang dimaksud sama Kak Lusi tadi, serem amat sih. Kak Naura sama Kak Wahyu juga di mana sih"

__ADS_1


__ADS_2