
Setelah dipanggil ke kantor pusat, malam harinya Linda memaksa untuk bertemu denganku. Terpaksa aku menuruti permintaannya untuk bertemu di salah satu cafe.
"Jadi lu justru membantah perintah Pak Lintang?" kening Linda langsung berkerut.
"Iyalah," jawabku enteng.
"Gila lu, Lyra. Ini benar-benar gila. lu tahu kan kalau dia CEO?" lanjut Linda dengan tatapan frustasi.
"Awalnya sih ga tau. Tapi makin kesini akhirnya aku tahu. Sebelumnya sih Pak Alvian yang kuanggap CEO," ujarku sambil sesekali menikmati potongan pisang coklat yang tersaji diatas piring.
"Ya ampun, Lyraaa..Lyra. Pantas saja gue dan Pak Zein sampai ikut dipanggil ke kantor pusat. Itu gara-gara lu yang ga kenal CEO kita!" Linda terus saja nyerocos tanpa henti.
"Ya maaf, Lin. Lagian apa pentingnya seorang kuli mengenal CEO. Bagiku yang penting gajian, selesai." Ucapku datar.
"Yaelah lu. Ini Perusahaan, Kantorrr. Bukan warung. Dipikir dikit kenapa sih. Ah lu," Linda sudah kehabisan kata-kata.
"Ya bukannya gitu juga. Apa salahnya sih ngomong baik-baik. Perkenalkan aku CEO kalian. Gitu kan bisa, daripada semprot sana-sini ga jelas!" aku membela diri.
"Serah lu deh, pusing gue. Trus yang masalah hijab lu gimana akhirnya?" Linda terus saja menginterogasi.
"Aku yang menang. Dua pria itu aku bikin cepp diam tanpa suara," aku tersenyum lebar membanggakan diri.
"Serius?" Linda terpana.
__ADS_1
"Iyalah. Lagian, jadi pimpinan songong banget. Udah kaku, keras kepala, sok bener sendiri, tapi cakep banget sihh hihi.." aku terkikik sendiri.
"Hallooo, lu naksir sama si bos?" Linda memicingkan mata.
"Baru tahap kagum, belum kemana-manaaa." Balasku sedikit sewot.
"Sebelum lu kemana-mana dan kenapa-napa, gue saranin mending lu kubur deh niat itu. Bukannya gue mempengaruhi atau menghalangi, tapi lu belum tau siapa dia," ucap Linda sedikit berbisik.
"Belum tau gimana?, kan gue udah bilang kalau kemarin gue baru tau dia itu CEO," aku sedikit bingung dengan maksud Linda.
"Selain pinter beladiri, ternyata otak lu dangkal juga yah!"
"Enak aja kalau ngomong!" aku tak terima.
"Nah lu. Dicerna dulu kata-kata gue. Bukan tau dia sebagai CEO, dodol. Maksdnya tuh lu belum tau fakta lain dari bos kita," sergah Linda.
"Ngebet amat lu, Neng. Apa pentingnya buat lu?" goda Linda dan sukses semakin bikin aku lebih penasaran.
"Ngapain tadi ngomong kalau ternyata ga mau cerita. Dasar aneh!" semburku.
"Hahaha..Cieee ngambek," lagi-lagi Linda menggodaku.
"Bodo!"
__ADS_1
"Iye iye, gue cerita. Ini berita datang dari berbagai pihak. Tapi gue jamin kalau ini bukan sekedar gosip, tapi fakta. Yang pertama, Pak Lintang tidak hanya memimpin perusahaan seperti yag kita ikuti sekarang ini, tapi ada beberapa perusahaan bawah tanah yang memproduksi barang ilegal. Yang kedua, Pak Lintang juga merupakan mafia. Ga segan-segan dia menghabisi lawan yang menghalanginya. Yang ketiga, dia jomblo sejak bayi, atau bisa dikatakan belum pernah memiliki kekasih sekalipun. Yang dikhawatirkan, dia memiliki penyimpangan ketertarikan pada lawan jenis,"
"Homse maksudmu?"
"Iya, kemungkinan seperti itu. Jadi menurut gue, sayang banget lu tuh cewek baik-baik. Ga pantes kalau dapet cowok model begitu." Pungkas Linda.
Aku menarik napas berat. Sejujurnya, hal-hal tersebut terlalu rumit bagiku. Aku lebih senang hidup sederhana. Tak perlu muluk-muluk dengan segudang kekayaan namun ternyata juga memiliki segudang permasalahan.
"Kamu benar, Lin. Hidup tak hanya sekedar butuh pasangan cakep dan kaya. Masih banyak faktor lain yang perlu diperhatikan," aku menunduk lemas.
"Yang terpenting, lu cari kebahagiaan versi lu sendiri. Gue siap mendukung lu," imbuh Linda.
"Aku tuh heran. Kita ini baru kenal. Tapi bisa akur seperti sudah berteman lama," ujarku.
"Disyukuri saja. Terkadang saudara bisa menjadi lawan, lawan bisa menjadi teman, teman bisa jadi saudara, dan sebagainya.." Linda tersenyum.
"Hehe terimakasih ya, Lin. Terimakasih." Aku ikut tersenyum.
"Ehmm, Lin.."
"Apaa?"
"Kalau Pak Alvian bagaimana?" aku menjulurkan lidah.
__ADS_1
"Itu bagian gue!"
..._-_-_...