Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Terjebak Peraturan


__ADS_3

Kondisi masih menegang tatkala Pak Alvian diperintahkan oleh Pak Lintang untuk menjelaskan kembali tentang peraturan perusahaan.


"Sesuai peraturan perusahaan, karyawan tidak diperbolehkan menggunakan hijab saat bekerja." Ucap Pak Alvian tegas.


DUARR


Aku kaget bukan kepayang. Ini seperti petir disiang bolong. Jika peraturan mengenai jam kerja, potongan gaji, atau sejenisnya sih aku tak masalah. Tapi jika ini sudah menyinggung tentang keyakinan beragama, aku tak akan bisa menerimanya.


"Ok Lyra. Kau sudah mendengarnya sendiri dari Pak Alvian. Kami mohon kerjasamanya," nada suara Pak Lintang melunak.


Namun sebaliknya, aku yang kini tak terima.


"Mengapa dilarang, Pak?" keningku berkerut.


"Karena peraturan disini memang seperti itu!" jawab Pak Lintang.


*Saya ingin jawaban kongkrit," kejarku.


"Ooh bawel sekali," gumam Pak Lintang lirih.

__ADS_1


"Apa Bapak bilang?" aku semakin berani.


"Ah tidak. Kau salah dengar mungkin. Saya hanya berdehem," kilah Pak Lintang.


Lebih parahnya lagi, Pak Alvian justru terlihat senyam-senyum sendiri.


"Kenapa Pak Vian senyum-senyum?!" semburku membabi-buta.


Cepp..Dia langsung tutup mulut dan membuang muka seolah tak pernah melakukan apa-apa.


"Sekarang giliran saya yang bertanya kepada Bapak-bapak yang terhormat. Jika ada karyawan berhijab, apakah itu merugikan perusahaan?" teriakku lantang.


"Tentu saja merugikan. Pekerjaan menjadi terganggu karena karyawan menggunakan hijab." Jawab Pak Lintang lugas.


"Penampilan karyawan juga menurun sehingga klien dan rekanan kerja menjadi kurang nyaman," imbuh Pak Alvian tak mau kalah.


"Baik. Sekarang Bapak silahkan cek data pekerjaan. Apakah jumlah barang yang saya panggul setiap hari jumlahnya lebih sedikit dari para kuli pria di gudang?. Apa perlu saya beritahu bahwa sayalah pemegang top scorer jumlah panggul barang hingga hari ini?" aku terus menyalak ganas.


Kedua pria itu menganga lebar mulutnya. Mereka tentu tak akan menyangka akan menghadapi wanita sepertiku. Jangan harap kalian bisa saja mengatur kehidupanku. Enak saja.

__ADS_1


"Ok. Kita ambil contoh saja agar Bapak-bapak yang terhormat memiliki pembanding yang jelas. Jika hijab memang mengganggu pekerjaan dan merugikan perusahaan maka Bapak telah menyimpulkan bahwa Ibu-ibu Polwan berhijab di kantor polisi sana telah merugikan negara? Benar begitu Pak Lintang? Pak Alvian?" giliran kini alis mataku yang terangkat naik.


"Ya bukan begitu juga. Sebaiknya kita.."


"Saya lanjutkan dulu," belum selesai Pak Alvian berkata, aku sudah kembali memotong.


"Jika dengan memakai hijab membuat penampilan menurun, maka itu artinya Bapak dengan jelas menyimpulkan bahwa Siti Nurhaliza, Melly Goeslaw, atau bahkan Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa itu jelek?. Benar Pak?" volume suaraku semakin meninggi.


"Waduw..kenapa malah bawa-bawa nama gubernur segala.." bisik Pak Alvian namun sempat kudengar.


"Kenapa dengan Gubernur, Pak. Atau Bapak mau saya teleponkan beliau?. Kebetulan kami sempat bertukar kontak saat saya memenangkan salah satu turnamen beladiri antar propinsi tahun lalu." Hehe sekarang aku berada diatas angin.


"Baiklah. Saya mengaku kalah. Kau bebas memakai hijab di perusahaan ini," hihi Pak Lintang memijit keningnya.


"Tidak bisa. Saya minta Bapak mencabut peraturan tentang larangan berhijab bagi karyawan wanita saat bekerja di perusahaan ini. Sebelum urusan ini semakin berbuntut panjang!" biarin deh, maksa dikit yang penting membawa manfaat buat semua.


"Saya akan membawa aspirasi itu untuk saya bawa rapat dengan Bapak Bintang Fanani. Saya tidak bisa menjanjikan akan goal, tapi saya akan mengusahakan maksimal." Pak Lintang menyerah dong.


"Saya tidak ingin penolakan, Pak. Saya tunggu hasil rapatnya. Jika Bapak kalah, maka saya minta dibawa ikut saat rapat berikutnya. Maafkan jika saya lancang, namun saya membawa misi penting bagi semua karyawan wanita berhijab diperusahaan ini. Dan dibelakang saya, ada Bu Gubernur tentunya. Harap Bapak tidak mencari masalah dengan beliau," fiuhh usai sudah perjuanganku.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2