
POV Author
Lyra dan tim pertama sudah tiba dibatas kota dimana anggota tim menunggu.
"Sadap CCTV disekitar area ini dan buka rekaman keadaan dalam 2 jam terakhir," ucap Lyra melalui wireless pada tim pelacak yang berada di tim kedua.
"Kami sudah mendapatkan video mobil itu," jawab tim pelacak melalui jaringan wireless.
"Zoom pada plat nomer dan lacak keberadaannya secara live time," Lyra melanjutkan instruksinya.
Sekian menit berselang..
"Kami sudah mendapatkan lokasi mobil. Maps sudah dikirim ke WhatsApp," tim 2 kembali memberi kabar.
"Bagus. Kita bergerak dalam 5 menit persiapan. Tim 2 tolong lindungi tim 1. Dan tim 3 pastikan jalur steril, kemudian tempatkan penembak runduk di gedung tinggi terdekat!" instruksi dsri Lyra tersebar disetiap wireless yang terpasang pada setiap telinga tim khusus.
Lokasi yang ditunjukkan maps adalah sebuah dermaga. Entah apa yang direncanakan para penculik sehingga memilih dermaga sebagai markas mereka.
"Dek Lintang, pastikan clearing bergerak cepat setelah kita menyelesaikan misi ini agar tidak menjadi sorotan publik." Pungkas Lyra sebelum ia memimpin tim 1 untuk berangkat.
--
di dermaga..
__ADS_1
"Buka penutup matanya, dan bersiap menerima penjemputan dalam 15 menit kedepan," perintah seseorang yang sepertinya adalah pemimpin dari komplotan penculik.
"Dimana ini?. Apa mau kalian?" Lintang menyapukan pandangan yang terasa masih sedikit buram setelah tutup mulut dan matanya dibuka.
"Halo sayang, aku harap kau senang melakukan perjalanan ini. Kita nanti akan segera bergerak ke Amsterdam dan menata kembali pekerjaan disana," wanita yang menjadi pemimpin para penculik itu melangkah mendekati Lintang yang masih terikat di kursi.
"Kamuu?!" Mata Lintang terbelalak.
"Haha. Kenapa denganmu, Sayang?. Santai dan nikmati saja," wanita tersebut membelai lembut pipi Lintang dengan tatapan menggoda.
Pakaian serba minim dengan rok mini kulit yang ketat dipadu dengan jaket kulit ketat yang terbuka setengah pada bagian belahan dada membuat penampilannya sangat menggoda bi*rahi lawan jenis. Wajah dewasa yang cukup cantik diusianya kian menunjang daya tarik kematangan seorang wanita.
"Apa yang kau inginkan, bang*sat!" Lintang membelalakkan mata.
"Dasar wanita tak tahu diuntung!" Lintang terus saja menghujani lawan bicaranya dengan kalimat-kalimat pedas.
"Us uss ussh. Jangan berlebihan begitu dong ah. Dengarkan aku baik-baik sayangku, pujaan hatiku, belahan jiwaku, rinduku. Sudah seharusnya kita bersatu. Kecerdasan dan kemampuan yang telah diturunkan Ayah kita akan membuat bisnis yang kita kelola menjadi bersinar terang. Ketampananmu hanya cocok jika berdampingan dengan kecantikanku, hahaha. Kenapa kau tak menyadari kehendak alam saat kedua orangtua kita dipertemukan?"
"Kehancuran kerajaan bisnis Ayahku, itu semua gara-gara Ayahmu!. Dan aku akan mengambil semuanya lagi sekarang. Semua harta kalian akan menggantikan semua kerugian kami, Hahaha. Tapi tenang saja, ketampananmu akan menolongmu. Aku akan dengan senang hati menerima kehadiranmu dalam kerajaan baruku nanti. Dengan begitu keluargamu tidak akan terlalu terlunta-lunta seperti yang telah dirasakan oleh Ayahku selama ini!" jemari wanita itu kini sudah mencengkeram senapan air yang tersimpan diantara pangkal paha Lintang.
"Licik!. Semua itu bukan salah Ayahku. Bisnis haram Ayahmu yang menghantarkan sendiri pada kehancuran!" teriak Lintang nyaring tepat ditelinga dang wanita.
"Wow..senapan ini sekarang berdiri. Itu menunjukkan bahwa kau menerimaku hehe. Kau tahu?, mukut busuk Ayahmu itu yang telah melaporkan kegiatan kami. Seandainya saja dia tutup mulut, tentu semuanya akan berjalan baik-baik saja. Jadi, jangan merasa tak bersalah dalam hal ini, sayangku!" wajah itu begitu dekat dari wajah Lintang hingga hembusan napas dengan aroma mint menggelitik indera penciuman Lintang.
__ADS_1
"Semua barang pria normal akan tegak jika dibelai seperti itu, bodoh!. Dan satu lagi, aku tak sudi kau jadikan antek!" bentak Lintang.
"Kau tak punya pilihan. Kita segera terbang setelah ini. Dan mau tak mau, kran keuangan serta kepemilikan usaha yang kau pegang akan berpindah padaku dengan atau tanpa paksaan. Si tua itu akan kehilangan putra berikut harta sekaligus!" bibir sen*sual mengecup penuh bir*rahi pipi Lintang dengan gemas.
"Jauhkan bibir kotor itu dari wajahku!. Dasar wanita ja*lang!" Lintang mengumpat kesal meski yak mampu berbuat apa-apa dalam kondisi kaki dan tangan terikat.
--
POV Linda
Aku terus berlari menenteng senapan jarak jauh sambil meniti tangga menuju atap gedung tinggi menjulang. Itu adalah bangunan yang kosong karena pembangunan yang terhenti lama. Jarak gedung dengan dermaga tidak terlalu jauh, namun juga tak terlalu dekat. Posisi gedung yang langsung menghadap dermaga membuatnya menjadi tempat paling leluasa untuk melihat secara lengkap aktivitas yang terjadi di dermaga.
Aku bertugas menjadi penembak runduk bersama satu anggota tim khusus lainnya yang juga sedang menuju satu gedung tinggi lainnya. Meski sudah lama aku tak memegang senjata, namun pengalamanku sebagai atlet cabang olahraga menembak tak akan luntur begitu saja.
"Runduk 1, laporkan posisi!" suara Kak Vian pada wireless yang kukenakan.
"Stay in position. Satu menit untuk menyiapkan peralatan," jawabku sambil mulai mengatur posisi saat tiba di bagian atap gedung.
"Runduk 2, Apakah posisi Runduk 1 sudah cukup leluasa untuk dilindungi?" kembali Kak Vian berucap.
"Runduk 2 already prepared in a safe target," jawab Runduk 2 melaporkan posisinya.
..._-_-_...
__ADS_1