
⚠️ Warning, bab ingin mengandung adegan dewasa, yang tidak berkenan atau dibawah umur silahkan di-skip saja. Bijaklah dalam membaca.
--
POV Alvian
Setelah kejadian prank ulang tahun, Lintang marah besar. Dengan kesal ia berpindah menyewa Vila lain seorang diri dan meninggalkan kami bertiga. Aku sudah hafal bagaimana tabiat Lintang, jadi tidak kaget dan membiarkannya saja. Tak lebih dari 12 jam dia akan kembali stabil dan akur lagi. Dia memang tipe orang dengan emosi yang meledak-ledak, namun juga tak ingin berlarut-larut. Setelah selesai, ya sudah besok atau lusanya akan baik lagi.
Lyra yang merasa tak enak hati karena menganggap terlalu berlebihan memperlakukan Lintang, akhirnya pindah ke Vila baru untuk menyusul Lintang. Mungkin itulah yang dinamakan jodoh. Saat satu marah, yang satu akan mengalah, ah entahlah. Sebaliknya, justru aku menjadi senang. Betapa tidak?, sekarang aku bisa berduaan dengan Linda, dan gratis pula Vila-nya hehe.
Iya benar, aku memang sudah tertarik pada Linda sejak mulai mengenalnya. Si cantik berambut sebahu tersebut sungguh telah mencuri hatiku. Badan tinggi semampai dengan body ala gitar spanyol itu selalu membuat aku susah tidur setiap malam.
Yah aku memang dulu adalah sang Donjuan dengan seribu kekasih dimana-mana. Tapi sejak aku mengenalnya, hatiku seperti tertambat. Aku hanya menginginkan dia yang menjadi pelabuhan terakhir cintaku, tak ada yang lain.
"Lyra akhirnya pindah juga ke Vila Pak Lintang," aku dikagetkan suara Linda diambang pintu kamar saat pikiranku masih melayang.
"E-eh iya, biar aja. Bos Lintang emang begitu orangnya. Suka ambekan kayak anak kecil. Besok juga udah sembuh lagi," jawabku sedikit tergagap.
"Kamu gimana lukanya, udah sembuh?" lanjutku menutupi kegugupan.
"Udah sembuh 100% hehe. Bekas jahitan juga udah kering dan mengelupas sisa darahnya. Cuma ya gitu, lukanya membekas. Kulitku jadi ga mulus lagi," Linda dengan cemberut menghempaskan buah pantatnya diranjang, tepat disebelahku.
Darahku berdesir. SeDonjuan-donjuannya aku, tetap saja badan ini adem panas jika wanita yang kucintai tiba-tiba duduk disebelahku.
"Sy-syukurlah,"
"Ehmm, Lin. Aku mau ngomong sesuatu," ini sepertinya saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.
__ADS_1
Kupegang kedua bahu Linda dan memutarnya hingga kami saling berhadapan. Linda hanya menurut saja.
Kupandangi wajah ayu yang hanya berjarak 50 centimeter dari hadapanku. Hatiku semakin melambung karenanya. Sungguh indah karya Tuhan pada gadis satu ini.
"Lin.."
"Ak-u men-mencintaimu, maukah kamu menerimaku?" kuberanikan diri mengungkapkan rasa.
Entah kenapa, pada gadis cantik ini aku menjadi sangat gugup. Sangat berbeda dengan saat aku menggombal pada banyak wanitaku dulu. Mungkin inilah yang dinamakan cinta setengah modyar.
"Kak Vian, terimakasih sudah percaya dan memilihku. Aku sangat bahagia," kami saling menatap mata.
"Apa kamu juga mencintaiku?" kejarku tak sabar.
"Ya begitulah," Linda hanya mampu mengangguk tanpa bisa menjawab dengan jelas.
"Terimakasih, Linda. Terimakasih.." aku memeluk tubuh Linda dengan sangat bahagia.
Kuciumi berulangkali rambut Linda yang tepat berada disisiku saat berpelukan. Linda dengan malu membenamkam wajahnya dibawah bahuku.
Lama saling berpelukan, aku menarik diri. Dan entah bagaimana berawalnya, tahu-tahu bibir kami sudah saling menyatu. Bermula hanya saling menempel, lama-lama hembusan napas harum membuatku terbius untuk melu-mat bibir mungil Linda. Tak menunggu lama, kecipak saliva tercipta. Bibir saling memburu, lidah terus beradu. Mata Linda yang terpejam menghayati setiap rasa semakin membuatku terlena.
Dada kami saling menempel erat. Gunung Himalaya yang cukup besar menekan di dada membuat tombak sakti dibawah sana menggelepar-gelepar terbelenggu celana.
Bibir kami masih saling bertautan kuat tanpa ada yang mau berhenti. Dengan lembut kurebahkan tubuh indah sang kekasih diatas ranjang yang telah menjadi saksi bisu.
Setan apa yang merasuki, tanpa sadar pakaian kami sudah tertanggal semua. Begitu juga dengan pelapis terakhir di bagian dada dan area bawah Linda juga telah raib entah kemana. Dua tubuh polos laksana bayi saling sibuk menuruti imajinasi.
__ADS_1
"Ehmmh.."
Linda menge-rang halus saat tangan dan bibirku dengan nakal bermain di puncak himalaya. Kepala Linda terlontar kekanan dan kiri meresapi setiap gejolak hasrat yang membuncah menggelora.
Tak berhenti disana, satu tanganku semakin menjalar jauh kebawah sana menggapai lembah berduri yang sudah demikian lembab oleh aliran surgawi.
Merasa tak tahan, Linda dengan beringas mencari tombak sakti kemudian menggenggamnya gemas. Aku meringis seketika merasakan sakit akibat genggamannya.
Kutuntun jemarinya agar mampu bermain dengan lembut pada tombak sakti yang telah menjulang tinggi. Linda juga menuntun jemariku untuk berlaku lembut dilembahnya.
TOKK
TOKKK
TOK
"Lindaa..apa kamu didalam?" Terdengar suara Lyra mengetuk pintu didepan Vila.
Untung saja aku spontan mengunci pintu saat Lyra tadi berpamitan. Jika tidak, mungkin Lyra sekarang sudah berteriak histeris begitu melihat perbuatan kami.
Wajah kami sontak sudah berubah merah padam menahan gejolak yang terkebiri paksa.
Sejenak pikiranku menjadi linglung, terkatung diantara marah dan kesadaran yang mulai kembali datang. Aku menjadi bingung, ingin marah pada Lyra yang sudah mengganggu?, atau justru bersyukur karena kedatangan Lyra sebagai malaikat penolong?.
Tepukan tangan Linda dibahu dengan cepat menarik kesadaran sepenuhnya. Bergegas kami memunguti serakan pakaian dan kembali mengenakannya.
"Linn..Lindaa. Kamu dimana sih?. Buruan dooong, kebelet pepsi nih!"
__ADS_1
..._-_-_...