
POV Author
Karena semua sedang sibuk dengan tugas masing-masing, selepas rapat Lintang bertolak ke sebuah kota kecil sekitar 200 kilometer di sebelah timur dari kota tempat tinggal Lintang. Terpaksa Lintang berangkat dengan menggunakan Helikopter untuk mempersingkat waktu dengan didampingi 2 anggota tim DZ dan 1 pilot.
Di kota kecil itu terdapat sebuah pabrik gula milik Bintang Group. Tak banyak yang tahu tentang pabrik milik Bintang group tersebut, tak terkecuali Alvian. Sejatinya, pabrik tersebut justru adalah usaha pertama yang dulu dirintis Bintang sebelum menikah, pabrik kecil tersebut sebagai batu loncatan bagi Bintang sehingga mampu melompat lebih tinggi sampai sekarang.
Selama ini pabrik gula Bintang dipercayakan kepada sahabat lamanya bernama Fuad. Namun karena kini Fuad semakin beranjak tua, Lintang dibutuhkan untuk melanjutkan pengelolaan.
"Om Fuad, apa kabar?" sapa Lintang saat baru sampai di ruang kantor pabrik gula Bintang.
"Alhamdulillah baik, Nak. Wah kamu semakin gagah ya sekarang. Terakhir kali bertemu sekitar 1 tahun yang lalu, kamu masih agak kurusan," puji Fuad berbasa-basi.
"Ah Om bisa aja. Justru sekarang saya lagi kurus om. Tahun lalu yang gemukan hehe," Lintang terkekeh membayangkan betapa chubby pipinya tahun lalu.
"Gimana Om perkembangan pabrik?" Lintang berjalan kearah kaca yang menghubungkan langsung dengan aktifitas dalam pabrik unfuk melihat para pekerja yang sedang mengemas gula.
"Permintaan gula terus meningkat. Sejujurnya, tubuh tua ini kuwalahan jika harus berjuang sendiri. Makanya aku minta kau datang agar bisa membuat penyusunan baru. Mungkin kedepannya aku akan memimpin dari balik layar. Sudah waktunya potensi-potensi muda yang berkarya, uhukk uhuk. Aku di diagnosa sakit asma oleh dokter." sejenak wajah Fuad memucat saat ia terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Hari ini aku membuka interview untuk tenaga-tenaga muda yang diharapkan bisa membantu terbentuknya susunan manajemen yang lebih terorganisir. Pabrik ini membutuhkan regenerasi tim. Selama belasan tahun, aku hanya dibantu oleh Pak Zul dan Bu Dasri dalam mengelola secara langsung, meski tetap dalam pantauan Ayahmu," Fuad sejenak mengambil napas.
"Jadi tolong hari ini kamu bantu menyeleksi mereka. Kemampuanmu yang luar biasa itu dalam membidik pekerja pilihan sedang dibutuhkan untuk pabrik tua ini," pungkas Fuad.
"Kapan dimulai interviewnya, Om?" Lintang nampak prihatin melihat Fuad yang semakin ringkih.
"Sesaat lagi. Mari ikuti saya ke ruang pertemuan." Fuad melangkah diikuti Lintang.
--
"Tinggal 1 orang lagi. Dia memiliki pengalaman bagus karena pernah bekerja pada sebuah perusahaan besar di ibukota. Dia titipan dari Pak Zul. Kebetulan Pak Zul adalah sahabat dari ayah anak itu," bisik Fuad sebelum memanggil orang tersebut.
"Permisi, Bapak." seorang gadis muda muncul didepan meja Lintang.
"Lyraaa!!" Lintang terhenyak.
"Ma-mas.." tak menyelesaikan kata-katanya, Lyra cepat berbalik badan dan berlari keluar dari area Pabrik.
__ADS_1
Melihat itu, Lintang dengan sigap mengejarnya hingga ia bisa menyusul Lyra tepat didepan pagar luar pabrik.
"Tunggu, Lyra!!" Lintang menggengam erat pergelangan tangan Lyra.
"Kenapa kamu lari sih?!" wajah Lintang menunjukkan rasa jengkel.
"A-aku.." Lyra tertunduk tak bisa melanjutkan perkataannya.
Perlahan airmata bening membasahi pipi seputih pualam tersebut. Lintang menjadi begitu sedih melihatnya.
"Sayang..maafkan aku, maafkan aku!!" Lintang segera memeluk Lyra dengan erat.
Suara tangis pecah dari bibir Lyra. Tak beda dengan Lintang yang juga ikut menangis diantara sedih dan bahagia.
Mereka adalah dua insan yang saling mencintai. Dan hingga sekarang rasa itu masih begitu kuat seperti dulu, tak ada yang berubah dan berkurang. Hanya keadaan yang telah membuat semuanya menjadi berbeda. Keadaan yang telah menjadi sekat bagi perjalanan cinta mereka.
..._-_-_...
__ADS_1