Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Keputusan yang sulit


__ADS_3

POV Author


Lintang kembali kerumah keesokan harinya. Diruang tamu, Lintang sudah ditunggu oleh Lyra, Bintang, dan Rani.


Semalaman Lintang tidak bisa tidur karena segala beban pikiran yang bergelayut di kepalanya. Dia hanya duduk disebuah warkop yang buka 24 jam ditemani om Author yang mendadak bersikap baik padanya.


"Lama sekali pulangnya. Kami sudah menunggu dari tadi!" sembur Rani tatkla Lintang memasuki ruang tamu.


"Duduklah, Lintang." perintah Bintang serius.


Meski didera rasa kantuk teramat sangat, ditambah bau keringat badan yang semerbak menyebar kemana, Lintang terpaksa menuruti perintah Papanya.


"Lyra sudah bercerita semua pada kami. Sekarang masalah hanya terletak padamu. Kami duduk disini pagi ini hanya untuk mendengar apa keputusanmu," ucap Rani mewakili Bintang dan Lyra.

__ADS_1


"Masalah hanya terletak padaku?, come on Mama. Ini tak lucu!" sergah Lintang tak suka.


"Kamu memang egois. Tapi malah berpikir Lyra yang egois.." lanjut Bintang ikut memojokkan Lintang.


"Egois?. Ini bukan sekedar masalah egois, Pa. Ini menyangkut keutuhan dan keharmonisan keluarga!" bantah Lintang.


"Jika kau yang berniat memiliki 2 istri, mungkin kami orang yang pertama akan menolak. Namun ini permintaan yang datangnya dari Lyra. Jika dia justru merasa bahagia dengan jalan ini, apa kami akan tega menolaknya?" terang Rani apa adanya.


"Anak kami adalah Lintang, Wulan, dan Lyra. Tak ada yang lebih mendominasi. Semuanya sama dimata kami," tandas Bintang.


"Mas, dengarkan aku. Permintaan ini tak serta merta kuucapkan tanpa adanya pemikiran yang mendalam. Tidak hanya sehari dua hari, sudah hampir 2 bulan aku menimbang baik dan buruknya." Ucap Lyra mencoba menenangkan dan meredam emosi suaminya.


"Aku kan sudah bilang berulang kali, jika hanya karena kamu belum bisa hamil, aku tak pernah mempermasalahkannya!" sentak Lintang.

__ADS_1


"Ini bukan sekedar masalah kehamilan. Yah, memang perihal kehamilan itu menjadi salah satu pertimbanganku, namun lebih dari itu, aku mencoba berpikir terbalik. Posisiku dulu adalah sama seperti Laras, bahkan lebih menderita darinya. Sebuah kebahagiaan bagiku saat Mas Lintang mengentaskanku. Aku berusaha merasakan jika aku tak dilirik oleh Mas Lintang waktu itu, aku akan menjadi seperti Laras saat ini. Jadi aku mohon, Mas. Aku merasa sangat tertolong karena diperistri seorang CEO nomer satu di negara ini. Berikan kesempatan padaku untuk juga merasakan kebahagiaan karena bisa menolong Laras!" ungkap Lyra menumpahkan apa yang ia pendam selama ini.


"Jika Lyra bisa menempatkan diri pada posisi Laras, maka kau juga harus belajar menempatkan diri pada posisi Lyra. Hidup itu rumit, namun karena kerumitan itulah kau hidup. Jika manusia hidup tanpa menghadapi masalah, apa bedanya hidup dan mati?" imbuh Bintang menasehati.


"Satu lagi, Mas. Mata CEO bernama Lintang Fanani kali ini tak cukup jeli. Mas tidak pernah meneliti Laras lebih lanjut. Dia adalah aset yang besar. Tidak hanya sekedar menjadi Lyra, bahkan Laras memiliki potensi untuk menjadi seorang Lintang. Dia smart, emosionalnya terkendali dengan baik, tenang, dan ia memiliki kemampuan yang tak dimiliki Mas Lintang, persuasif. Akan sangat disayangkan jika berlian sehebat itu berada ditangan Tuan Julian. tentu Papa paham tentang yang aku maksud," lanjut Lyra dengan tatapan tajam penuh keyakinan.


"Bahkan istrimu sendiri yang berubah sedemikian smart hingga saat ini, kau tak menyadarinya!" cebik Bintang menggedor pertahanan Lintang.


"Yaa Allah. Ini sangat sulit. Ehmm..demi kamu, Sayang. Aku bersedia membuka hati untuk Laras. Tapi dengan satu syarat, aku tak akan menikahinya sebelum kau melahirkan anak untukku!" Lintang akhirnya menyerah setelah digempur dari 3 arah.


"Alhamdulillah.." ucap Lyra, Bibtang, dan Rani bersamaan.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2