
POV Author
3 bulan kemudian..
"Huekkk!!" Lyra berlari menuju wastafel dengan perut mual setelah mencium masakan Rani di meja makan.
Yang pertama saling berpandangan dan paham adalah Rani dan Linda diikuti senyuman penuh arti dari keduanya.
Lintang bergegas mengejar istrinya yang masih betah bertengger ditepi wastafel.
"Kau sepertinya masuk angin, Sayang." Lintang membantu memijit tengkuk Lyra.
Lyra hanya menggeleng tanpa bisa menjawab Lintang. Dorongan mual dari dalam perutnya terus saja mendesak-desak tanpa memberi kesempatan bagi Lyra untuk sekedar menarik napas.
"Sebaiknya segera panggil dokter keluarga kita. Lyra harus segera ditangani oleh ahlinya," usul Rani dijawab anggukan cepat oleh Lintang.
Setengah jam berikutnya Lyra sudah terkulai lemas diatas ranjang dengan wajah memucat.
"Apa yang diderita istriku, Drian?" tanya Lintang tak sabar.
"Tak ada masalah dengan kesehatannya. Hanya saja kau harus bersyukur atas kondisi ini. Istrimu sudah hamil 2 bulan." jawab dokter Andrian dengan senyum nerekah.
"Apaa?!!. Alhamdulillah Yaa Allah. Terjawab sudah segala harapan kami," Lintang jatuh bersimpuh dan beranjak bersujud syukur menerima kabar bahagia dari dokter Andrian.
"Dalam beberapa minggu kedepan kondisi istrimu akan sedikit melemah. Itu wajar pada trimester pertama kehamilan. Setelahnya, berangsur-angsur akan hilang keluhan semacam ini. Aku akan meresepkan obat penghilang mual dan vitamin kehamilan," ujar dokter Andrian melengkapi penjelasan sebelumnya.
--
__ADS_1
"Huekk!!"
Hanya berselang 3 hari setelah Lyra diperiksa dokter Andrian, kali ini Linda mengalami kondisi tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Lyra.
"Ka-kau hamil lagi, Sayang!" Alvian memandang istrinya dengan penuh kegembiraan.
Melalui pengalaman hamil sebelumnya yang berakhir keguguran, Linda maupun Alvian tak mengalami ketegangan begitu mendapati kondisi mual tersebut.
"Belikan aku testpack, Kak.." pinta Linda dengan wajah pucat namun tak mengalahkan pancaran air muka bahagia.
--
Kehamilan beruntun yang terjadi di dalam keluarga besar Lintang begitu menggembirakan seisi rumah. Dan lagi, kehamilan Linda maupun Lyra juga hanya selisih 2 minggu, sehingga nantinya keluarga juga akan menerima double kegembiraan saat proses kelahiran.
"Helleh, ada-ada saja. Bisa-bisanya mereka nyidam berjamaah sepertinya ini!" keluh Alvian saat meluncur menggunakan mobil di suatu tengah malam bersama dengan Lintang.
Malam itu Lyra dan Linda kompakan meminta untuk dibelikan seblak super pedas di jam 1 dini hari. Bukan seblaknya yang menjadi masalah, melainkan jamnya. Jam 1 dini hari adalah hampir mustahil untuk mendapatkan seblak. Boro-boro jualan seblak jam 1 pagi, penjualnya lebih sibuk diseblak suaminya di rumah masing-masing.
"Eh sebentar aku punya ide. Kenapa kita tak beli saja seblak instan di supermarket 24 jam. Aduh begonya," Lintang menepuk keningnya sendiri.
Tanpa ba-bi-bu Alvain segera tancap gas untuk menuju tempat yang dimaksudkan oleh Lintang. Dengan terburu-buru mereka segera membeli seblak instan dan membawanya pulang.
Namun apa yang dikatakan para istri tatkala hidangan seblak yang masih mengepul asapnya itu disuguhkan oleh suami mereka?
"Aku kok tiba-tiba pengen bakso urat, seblaknya ga jadi deh Mas," Lyra menjulurkan lidah.
"Aku ga pengen beli-beli kok. Cuma maunya nyicip bakso urat yang dimakan Lyra," Linda mendorong kembali mangkuk seblak ke arah suaminya.
__ADS_1
"Wah runyam..!!" keluh Alvian.
--
Hari-hari dijalani Lintang dan Alvian dengan penuh perjuangan. Segala yang diminta istri mereka bahkan jauh lebih sulit daripada pekerjaan kantor sekalipun. Belum lagi perubahan temperamental Linda dan Lyra yang melonjak drastis akibat pengaruh dari hormon kehamilan. Para suami dibikin bingung dengan kesensitifan para istri yang bisa dibilang sudah pada taraf memprihatinkan.
Seperti yang terjadi siang itu tatkala Lyra minta dibelikan kue serabi, "Nanti sore pulang kerja aku belikan ya sayang," ucap Lintang lembut melalui Video Call.
Tapi sayangnya, Lyra tidak bisa menerima itu, "Aku maunya sekarang. Aku laper dan ga pengen makan nasi. Kalau nunggu nanti sore ya udah ga pengen makan serabi lagi," rengek Lyra.
"Tapi aku setelah ini meeting, Sayang. Ya sudah 1 jam lagi deh aku belikan setelah selesai meeting," Lintang mencoba bernegosiasi.
"Ya udah ga usah beli. Biarin aja aku kelaperan!" sungut Lura dengan berderai airmata.
Ada pula drama antara Linda dan Alvian, "Aku pengen makan jagung bakar," pinta Linda suatu ketika.
"Siap. Aku langsung berangkat beli sekarang," ucap Alvian tak ingin membuat istri kesayangannya kecewa.
"Tapi aku maunya makan disana," lanjut Linda.
"Yang jualan kan dipinggir jalan, Sayang. Mereka ga nyediain kursi buat makan ditempat. Sistem mereka take away!" tolak Alvian.
"Pokoknya ga mau. Ga masalah kita makan sambil jongkok dibawah penjualnya!" Linda bersikeras.
"Itu dipinggir jalan lho. Debu kendaraan bermotor dimana-mana. Makan disana jadi ga sehat dong," Alvian masih berusaha menahan niat aneh istrinya.
"Jahat!!. Suami payah. Sama istri sendiri pelitnya minta ampun, hiks hiks.." Linda langsung tersedu tak jelas.
__ADS_1
Namun segala kesulitan dalam penanganan pernyidaman akhirnya berangsur-angsur menghilang ketika kehamilan melewati trimester pertama. Meski begitu, sensitifitas para istri alih-alih berkurang, semakin besar perutnya, semakin meningkat temperamentalnya.
..._-_-_...