
POV Author
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?. Sepertinya ada sesuatu yang tak beres telah terjadi sebelum Lyra mengalami musibah. Sangat jelas sekali ada kejanggalan dari kalimat Kak Vian tadi saat menelepon Pak Lintang," desak Linda pada Alvian yang terlihat sedikit gugup setelah mendengar kalimat yang diucapkan Linda.
"Sebenarnya..Tapi tunggu dulu, tolong kau rahasiakan hal ini karena Pak Lintang berpesan begitu padaku dan juga Lyra," pinta Alvian sebelum melanjutkan ucapannya.
"Iya iya, terserah deh. Lama-lama, jengkel juga saya Pak sama kalian!" Linda mulai hilang kesabaran.
"Ini memang kesengajaan Pak Lintang untuk memindahtugaskan Lyra.."
"Saya tahu,"
"Awalnya hanya ingin membuat efek jera karena Lyra sering tidak kooperatif dengan aturan perusahaan. Tapi makin kesininya, Pak Lintang seperti dendam kesumat. Dia seperti mudah terpancing emosinya hanya karena satu karyawan bernama Lyra," jabar Alvian.
"Sepertinya Pak Lintang ada rasa yang sulit diungkapkan pada Lyra. Makanya dia melampiaskannya dengan cara menekan Lyra," Linda menduga.
"Bisa jadi seperti itu. Sebentar aku lanjutkan ceritanya.."
"Iya,"
__ADS_1
"Tepat seminggu yang lalu, terjadi perdebatan sengit antara Pak Lintang dan Lyra di lokasi pembangunan gudang 3. Hingga akhirnya mereka berdua bertaruh. Yang dipertaruhkan adalah kekuatan Lyra bekerja dalam satu bulan kedepan, jika dia ijin atau bolos 1 hari saja maka dia kalah," lanjut Alvian murung.
"Ooh pantesan. Lyra ga mau diajak kerumah sakit karena takut bolos kerja. Ini semua gara-gara CEO kejam itu!" darah Linda mendidih.
"Jaga ucapanmu, Linda. Bagaimanapun juga dia adalah pimpinan kita," tegur Alvian.
"Nah kalau dia emang Pimpinan, tanggung jawab kek, datang cepet kek. Jangan cuma mengandalkan Kak Vian untuk mengatasi masalah. Waktu marah-marah, dia maju sendiri. Giliran terjadi masalah akibat marahnya, eh dia mundur!" Linda masih tak terima.
"Dia mungkin ada pertimbangan lain. Bisa jadi dia sulit mengendalikan perasaannya sendiri jika bertemu Lyra disini," Alvian ikut menduga-duga.
"Kalau cinta, bilang cinta!. Jangan membohongi diri sendiri gitu," imbuh Linda.
"Halo, Dri,"
"Vian, datanglah kesini segera. Ada kemajuan dari Lyranova. Tapi saranku, sebaiknya Lintang juga ikut datang, karena disini ada Bapaknya Lyranova yang menunggu penjelasan dari pihak perusahaan," ucap dokter Andrian diseberang telepon.
"Ok ok. Aku akan segera menghubungi Bos Lintang," Alvian menanggapi.
--
__ADS_1
"Maaf saya terlambat," Lintang datang tergopoh-gopoh ke ruangan dokter Andrian.
Disana telah menunggu ; dokter Andrian, Bapak dari Lyra, Linda, dan juga Alvian.
"Perkenalkan, saya Joko, Ayah dari Lyranova." Ucap Pak Joko memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, saya Lintang, Pinpinan diperusahaan tempat Lyranova bekerja," sambut Lintang berusaha tenang.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan anak saya, Pak?" Pak Joko terlihat cemas.
"Bisa dibilang ini salah saya karena menempatkan Lyra dibagian kuli bangunan sehingga terjadi kecelakaan kerja seperti ini," wajah Lintang menunduk.
"Saya rasa tidak, Pak. Maaf bukannya sombong, namun Lyra anak yang berbeda. Dia sangat tangguh, bahkan melebihi pria. Pekerjaan kuli sebenarnya bukan hal yang baru bagi dia. Jadi saya tidak sependapat jika Lyra salah penempatan kerja. Itu sudah area kerja yang cocok untuk Lyra," sanggah Pak Joko.
"Tapi Lyra wanita, Pak. Bagaimanapun juga wanita tidak bisa dipekerjakan sekeras laki-laki!" Linda merasa tak terima.
"Sebentar saya menyela sebelum terjadi perdebatan lebih panjang," potong dokter Andrian menengahi.
Semua pandangan mata kini beralih pada dokter Andrian.
__ADS_1
Termasuk pandangan Author juga ke arah dokter Andrian sambil berkata, "Woy, stop woy. Bersambung ke episode berikutnya saja penjelasannya, Dok!"