
Pertemuan tertutup kembali berlangsung. Kali ini mereka berkumpul untuk membjcarakan hasil dari setiap penyelidikan masing-masing tim. Telah duduk melingkar, disana ada Lintang, Lyra, Alvian, Deo, dan juga Wulan. Linda yang diminta beristirahat untuk tidak terlibat dalam penyelesaian masalah kantor kali ini selalu komplain ingin diikutkan, namun ia harus rela menuruti permintaan semua orang demi calon bayi dalam kandungannya.
"Silahkan, dimulai dari Lyra dan Wulan.." Lintang meminta istri dan adiknya untuk menyampaikan hasil penyelidikan.
"Tidak ada masalah lainnya yg menjadi kendala berkaitan dengan aksi mogok kerja mereka. Satu-satunya alasannya adalah karena penyunatan gaji selama 2 bulan terakhir tanpa kita ketahui," Wulan angkat bicara mewakili Lyra.
"Informasi dari Wulan kita tampung dulu sambil menunggu keterangan dari tim lain. Kita akan menemukan korelasinya, syukur-syukur akan langsung menemukan pelakunya.." Lintang menanggapi.
"Ok lanjut, Vian dan Deo." Lintang mengalihkan pandangan pada dua pria gagah beracun yang duduk disebelah kanannya.
"Cukup rumit. Pertama, mengenai pembelanjaan diluar kebutuhan kantor. Terjadi penyelewengan dana hingga mendekati 1 milyar rupiah. Kedua, beberapa transaksi penjualan tidak dilaporkan. Sekitar 500 juta rupiah tidak masuk ke dalam kas kita. Terakhir, mengenai gaji karyawan. 500 juta hak gaji karyawan dilaporkan telah menguap. Total kerugian mencapai 2 milyar rupiah." Terang Alvian serius.
"Setelah aku dan Deo mencocokkan data karyawan, diketahui bahwa staf divisi keuangan bernama Edo dan Mila adalah personal yang mendapatkan tugas melakukan acc dalam pembelanjaan, penerimaan uang masuk, serta acc pengeluaran gaji. Dilain pihak, staf HRD bernama Parman adalah sebagai pemantau kinerja Edo dan Mila. Masalah bertumpu pada mereka bertiga karena masing-masing kepala divisi secara terpisah telah aku panggil dan bersumpah tidak terlibat dalam masalah ini." Lintang memaparkan siapa orang-orang yang terlibat dalam masalah tersebut.
"Kurang ajar mereka!. Ijinkan aku untuk memanggil mereka sekarang juga, Bos.." Alvian berdiri dengan wajah seram.
"Panggillah!" perintah Lintang.
Tak menunggu lama, datang Mila ke ruang rapat dengan wajah sangat ketakutan.
"Edo dan Parman hari ini tidak masuk kerja tanpa ada pemberitahuan." Wajah Alvian memerah.
__ADS_1
"Kau tahu mereka kemana?" Lintang menatap dingin kearah Mila.
"Me-mereka si-sia-pa yang Ba-bapak mak-maksud?" Mila duduk dengan gemetar.
BRAKKK!!
"Jangan berlagak bodoh kamu!. Katakan sekarang atau aku hancurkan mulutmu dengan kaki ini!" Lintang menggebrak meja dengan penuh emosi.
"Am-ampun, Pak. Ja-jangan sakiti saya.." Mila ketakutan setengah mati, airmata mulai mengalir di pipinya.
"Airmatamu tak kuijinkan keluar. Pelaku kesalahan dilarang menangis disini. Cepat katakan dimana merekaaa!!" Lintang semakin kalap.
Mila dengan cepat menghapus airmata menggunakan kedua tangannya, "Pak Edo dan Pak Parman se-sengaja kaburr.." lirih suara Mila namun masih bisa didengar oleh seisi ruangan.
"Ampuni saya, Pak. A-ada seseorang yang sengaja membayar Pak Edo dan Pak Parman mahal untuk melakukan ini. Saya hanya bawahan dari Pak Edo. Mereka berdua mengancam akan merumahkan saya jika tidak bersedia membantu. Sedangkan saya hanya seorang janda dengan 4 anak. Mau makan apa saya Pak jika tidak bekerja disini?. Mohon maafkan saya.." Mila berusaha sekuat mungkin menahan tangisnya, suaranya bergetar.
"Vian, periksa latar belakang keluarga wanita ini kurang dari 1 jam!" perintah Lintang tegas.
"Siap, Bos." Meski terdengar mustahil mengerjakannya dalam waktu 1 jam saja, namun Alvian sudah terbiasa dan tak merasa kaget dengan perintah Lintang.
"Jika benar apa yang kau katakan, maka saya minta maaf. Sebagai gantinya, saya minta kau berpura-pura tidak terjadi apa-apa, hubungi 2 bangsatt itu untuk bertemu denganmu. Setelahnya, nanti biar aku yang urus. Dan mengenai pekerjaanmu, aku yang akan menjamin. Kita tunggu saja kabar pembuktian kondisi keluargamu dari Pak Alvian dulu!"
__ADS_1
--
di tempat lain..
Ketenangan pagi yang cerah tiba-tiba dikacaukan oleh suara ledakan dan rentetan suara senjata.
DUAARR
DARR
RETETEERT..
DARR
Kondisi demikian mencekam dan sangat kisruh. Puluhan pasukan bersenjata lengkap turun dari beberapa helikopter.
--
Di ruang rapat BTT..
Deo menerima telepon dan seketika memucat. Mulutnya bergetar hebat, "Astaghfirullah, Pak Lintang. Gawattt!!" Deo berdiri didepan meja rapat dengan tubuh lemas.
__ADS_1
..._-_-_...