
****POV Author****
"Bos, setelah kami periksa data dari plat nomer sepeda motor trail yang tertinggal dilokasi, ternyata plat nomer tersebut palsu. Ada pemilik motor lain yang sama persis plat nomernya dengan yang digunakan motor trail. Motor-motor trail itu semuanya bodong alias tidak memiliki surat," terang Alvian saat bertemu Lintang di kantor pusat.
"Aduh. Kurang ajar mereka. Tolong periksa semua CCTV didaerah itu, rumah sakit dan klinik yang mengobati luka mereka, jika perlu lacak sidik jari yang menempel dimotor trail!" pinta Lintang dengan wajah menahan amarah.
"Pokoknya harus ketemu siapa mereka apapun caranya. Aku tak mau tahu!" lanjut Lintang.
TOK
TOKK
"Permisi, Pak. Tersebar kabar jika Bapak mengalami pengeroyokan oleh penjahat. Apa perlu saya bantu melacak, Pak?. Mungkin ada data karyawan yang berkaitan." Liana Kepala HRD muncul diambang pintu.
"Terimakasih, Bu Liana. Tapi anda tidak perlu membantu. Saya bisa menanganinya sendiri," tampik Lintang dengan wajah masam karena merasa terganggu dengan kehadiran Liana.
Bukan Lintang tak suka dengan kehadiran karyawan teladan tersebut, namun mood Lintang sedang buruk, ia tidak sedang berminat untuk berbicara. Sebaliknya Lintang akan terganggu jika datang orang lain disaat ia sedang pusing-pusingnya.
Selepas Liana memohon diri, datang Lyra ke ruangan Lintang.
"Maafkan aku, sampai kini kami belum menemukan siapa pelakunya," Lintang menatap sedih kearah Lyra yang hari itu terlihat fresh dan bersinar.
Setelan kerja serba pink dipadu dengan kerudung maroon, sungguh sweet. Baru kali ini Lyra menggunakan warna pakaian yang sedikit mencolok seolah menggambarkan suasana hatinya. Sebelum-sebelumnya Lyra lebih sering menggunakan pakaian dengan warna-warna kalem.
__ADS_1
Kepala Lintang yang terasa panas dan hampir pecah seolah tersiram embun surgawi saat melihat sang bidadari pujaan hati hadir begitu menyejukkan mata.
"Kau cantik sekali hari ini," bisik Lintang saat Lyra mendekat, tentunya tanpa sepengetahuan Alvian.
Komplit sudah. Pakaian pink, kerudung merah maroon, dan sekarang include wajah memerah tomat karena tersipu akibat pujian Lintang.
Pasca kejadian perkecuupan itu, kini Lintang terlihat semakin lembut dalam memperlakukan Lyra. Dan Lyra pun begitu, hatinya begitu berbunga tatkala ada Lintang didekatnya.
"Sepertinya kita tidak akan terlalu kesulitan mencari pelakunya," Lyra angkat bicara setelah berhasil mengatasi diri dari ketersipuannya.
"Maksud kamu?" kompak Lintang dan Alvian menanggapi.
"Cieehh kompak sekali kayak orang pacaran," sindir Lyra dengan tersenyum.
"Vian, jangan ngawur kamu!" potong Lintang tak suka.
"Hahaha, dibelain nih.." Alvian terbahak.
"Sudah, sudah. Lyra tolong jelaskan maksudmu tadi." Lintang tak menggubris godaan Alvian.
Lyra meletakkan selembar KTP diatas meja Lintang.
"KTP siapa ini?" Lintang dan Alvian kembali kompak bertanya.
__ADS_1
"Hmm kalian mencurigakan," Lyra memicingkan mata dan langsung disambut dua pasang mata yang melotot sadis.
"Selain bisa beladiri, aku juga menguasai ilmu copet, hehe. Aku mengambil salah satu dompet pelaku saat bertarung kemarin," terang Lyra.
"Bagus, Dek!"
"Makasih, Mas,"
"Dek? Mas?" Alvian memiringkan kepala memandang Lintang dan Lyra bergantian.
"Vian, jangan buang waktu. segera lacak pemilik KTP itu sekarang juga!" potong Lintang tak mempedulikan kecurigaan di wajah Alvian.
"Dek, Mas, baju pink.." Alvian melangkah pergi dengan mulut ngedumel tak jelas.
"Lyra, ayo kita kembali ke rumah!"
..._-_-_...
Untuk mempermudah pembaca, lanjutan bab hari ini akan langsung ada di jam yang sama. Semoga pembaca akan semakin nyaman membaca double-up maupun triple-up tanpa harus menunggu seharian.
Semoga harimu menyenangkan..
..._-_-_...
__ADS_1