Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Wakil CEO


__ADS_3

POV Author


"Pak Lintang, Bapak memanggil saya?" Liana Kepala HRD muncul diambang pintu ruangan Lintang.


"Oh iya, Bu. Silahkan duduk, ada yang perlu saya sampaikan." Sekilas Lintang mengangkat wajahnya untuk melihat siapakah yang datang, kemudian kembali menunduk dengan tatapan masih sibuk kearah laptopnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Liana terpaksa membuka obrolan daripada harus menunggu kesibukan Lintang didepan laptop yang terbiasa tak memperdulikan orang disekitarnya.


"Ini terkait Alvian. Saya minta anda merubah posisinya menjadi wakil CEO. Mungkin saya kedepannya tidak bisa terlalu aktif dikantor karena lebih banyak berkantor dirumah dan juga mengontrol beberapa perusahaan lainnya. Keputusan ini sudah saya sampaikan dewan penasehat dan diterima. Jadi tugas Ibu hanya merubah jabatan tertulisnya sekaligus mengabarkan kepada seluruh karyawan agar mereka paham," sejenak Lintang menghentikan aktifitas laptopnya dan menyampaikan isi dan maksud dipanggilnya Liana.


"Baik, Pak. Tapi kalau boleh tahu, apakah Bapak tidak butuh asisten pengganti Pak Alvian untuk membantu pekerjaan Bapak dan didampingi untuk bberkeliling memantau perusahaan-perusahaan lainnya?. Maafkan jika saya lancang. Jika dianggap perlu, saya bisa segera membuka lowongan asisten baru untuk Bapak." Liana menunjukkan sosoknya sebagai Kepala HRD yang dituntut peka dalam melihat situasi karyawan.

__ADS_1


"Ohh tidak perlu seperti itu. Saya sudah memiliki asisten sendiri," tampik Lintang seolah tak butuh bantuan Liana dalam hal tersebut.


"Pak Alvian merangkap tugas begitu?. Maafkan saya jika terlalu banyak tanya. Namun ini sudah menjadi tugas saya dalam mengatur karyawan, termasuk dalam hal job desk dan salary cost." Liana memang selalu bisa diandalkan dalam pengelolaan karyawan.


"Bukan begitu. Alvian tetap dalam wilayah kerja yang baru, yakni wakil CEO. Tugas asisten sudah saya alihkan pada orang lain. Dia adalah Lyranova. Mungkin anda sudah mengenalnya," Lintang memperjelas perkataan sebelumnya, sekaligus mengunci Liana agar tidak terlalu banyak melontarkan pertanyaan.


Begitulah karakter Lintang. Dia memang menempatkan seorang Kepala HRD yang berkompeten. Namun Lintang juga menguasai ilmu kepemimpinan yang mumpuni sehingga ia mampu mengendalikan HRD dengan kecerdasannya.


"Lyranova kuli yang terakhir sebelum ini Bapak pindah ke bagian konstruksi?" bukan Liana namanya jika tidak menguasai data karyawan.


"Ya betul. Dan karena satu dan lain hal akhirnya dia saya minta untuk membantu sebagai asisten." tandas Lintang.

__ADS_1


"Iya, Pak. sejujurnya, saya kasihan melihat anak itu. Dia hidup menderita sebagai kuli demi menghidupi Ayahnya. Dalam hati saya sebenarnya tidak rela jika melihat wanita harus menjadi kasar telapak tangannya demi mencari nafkah," Liana sedikit terhanyut dalam pembicaraan yang seharusnya tidak boleh terjadi, mengingat dia adalah seorang HRD yang perlu tegas mengatur karyawan tanpa melibatkan perasaan.


"Lalu bagaimana dengan nasib penggajian Lyranova kedepannya, Pak?. Seyogyanya Bapak menyampai kepada saya tentang posisinya agar saya bisa segera memasukkan dalam daftar penggajian. Tentu akan sangat kasihan jika dia terlambat menerima gaji karena hal ini," Liana sedikit menegur CEO-nya yang tentu saja cukup mengganggu pengaturan karyawan jika ia bertindak sendiri tanpa melaporkan pada HRD.


"Pertimbangan saya sederhana. Sebelumnya dia hanya kuli bergaji kecil. Dengan kecelakaan kerja yang ia alami, kita anggap dia berhenti kerja di perusahaan ini. Selanjutnya ia bekerja diluar sistem HRD karena sekarang ia menjadi asisten saya di rumah. Jadi, tolong Bu Liana untuk menghapus status kerja Lyranova dan dianggap mengundurkan diri karena kecelakaan kerja," kembali Lintang mengunci pergerakan HRD untuk memasuki ranah CEO, karena keputusan mutlak tetap ada ditangan CEO.


Bukan Lintang tidak ingin adanya campur tangan Liana, namun dalam hal tertentu Lintang merasa berhak mengambil keputusan dan bertindak tepat guna dan bijak sesuai pertimbangannya sendiri.


"Baik, Pak. Saya mengerti dan paham," Liana tak ingin memancing amarah pimpinannya jika ia terus bersikeras dengan prosedur.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2