
POV Author
Lyra terkekeh senang setelah sore ini menikmati olahraga flying fox dan sejenisnya. Dia terkekeh bukan karena gembira bermain, namun karena melihat Lintang yang pucat pasi setelah dipaksa menemani Lyra. Lintang yang ternyata paranoid ketinggian terlihat hampir pingsan saat berada diatas landasan start.
"Hahaha, ternyata Mas Lintang penakut," ejek Lyra setelah mereka selesai bermain outbound.
Saat ini mereka sedang duduk santai disebuah kafe tepi danau sambil menikmati pemandangan alam yang indah.
"Ini bukan penakut, tapi memang bawaan dari lahir. Paranoid ketinggian itu sudah menjadi momok sejak aku bayi," kilah Lintang tak mau dipojokkan begitu saja.
"Halah, bahasanya aja paranoid. Kalau diartikan juga penakut artinya," cebik Lyra tak mau kalah.
"Trus aku harus gimana?. Lompat dari pesawat biar kamu puas? biar dibilang pemberani?" sembur Lintang dongkol.
"Ya terserah Mas aja. Yang penting jangan ajak-ajak aku ya" Lyra cuek bebek dengan menyibukkan diri menikmati pisang coklat yang sudah disajikan.
"Itu namanya pasangan tidak sehidup semati!" Lintang semakin terbawa emosi menanggapi Lyra.
"Hahaha, Mas. Itu namanya sehidup sekonyol, bukan sehidup semati. Iya kalau mati bareng pas bencana alam atau menghadapi musuh, nah ini lompat dari pesawat gitu loh, pliss deh." Lyra tak mau begitu saja dianggap tidak setia kawan, eh setia pacar.
KRIIING..
"Ya haloo," Lintang mengangkat panggilan telepon.
__ADS_1
"Posisi danau sebelah mana, Bos?" Alvian berbicara dari seberang telepon.
"Lho, Deo mana?. Kok jadi kamu yang kesini?" Lintang mengerutkan kening.
"Kalau piknik ajak-ajak dong. Hmmm," ucap Alvian tanpa menjawab pertanyaan Lintang.
"Iya iya udah buruan kesini. Kafe Three Color, meja samping menghadap danau," sambar Lintang jengkel.
"Dasar manusia pengganggu. Seneng banget gangguin kesenengan orang. Udah jauh-jauh ke luarkota eh tetep aja ketemu orang itu-itu lagi." Lintang mengumpat dalam hati karena rencana berduaannya gagal total.
Tak seberapa lama kemudian muncul Alvian menuju meja yang ditempati Lintang dan Lyra.
"Tega banget ga ngajakin kita-kita," dengan cuek Alvian mengambil tempat duduk diantara Lintang dan Lyra, diikuti juga oleh Linda yang langsung duduk disebelah sahabatnya.
"Hahaha..bukan benalu kaleee. Tapi sengaja mengganggu, hahaha.." Alvian terbahak diiringi tatapan membunuh dari Lintang.
"Jangan tersinggung Pak Lintang. Sengaja kami diutus Pak Bintang menggantikan Deo untuk mengawal. Kebetulan Deo ijin pulang karena ibunya diare," Linda berusaha menengahi agar tidak terjadi kecamuk api angkara murka yang lebih besar.
"Iya terserah kalian," Lintang menjawab datar.
"Eh kebetulan, Lin. Kita mau sewa Vila. Yuk ah rame-rame sambil bakar ikan," tawar Lyra.
"Mampiusss!!" hati Lintang berteriak pasrah.
__ADS_1
--
Linda dan Lyra memilih satu kamar paling depan sebagai tempat tidur. Namun tidak bagi Lintang, ia enggan satu kamar bersama Alvian meski kamar hanya ada dua saja. Lintang memilih tidur di gazebo teras Vila karena sudah terlanjur dongkol.
"Mas Lintang, ikannya udah mateng nih. Ayo sini makan bareng.." panggil Lyra yang sudah menggelar tikar bersama Linda dan Alvian tak jauh dari gazebo.
"Ga laper, mau tidur." Jawab Lintang pendek kemudian segera tidur membelakangi tikar.
Alvian hanya cekikikan melihat tingkah kekanakan Lintang meski usia sudah mendekati kepala tiga.
"Eh Lyra, Linda..habis ini kita jalan yuk melihat pemandangan malam pinggir danau. Disana banyak angkringan lho kalau malam. Kita bisa ngopi tipis-tipis sambil ngemil kacang rebus. Uhh sedapnyaa.." Alvian semakin memancing di air keruh.
"Ok siapp," Linda dan Lyra serempak menjawab.
"Ikut ga, Boss?" panggil Alvian.
GROOKK
GROKK
Dengkur keras Lintang menjawab. Entah dia berpura-pura tidur atau memang benar-benar terlelap karena letih setelah mengemudikan mobil seharian.
..._-_-_...
__ADS_1