
POV Author
"APAA?!"
"Gimana kok bisa gini sih?" Lintang sontak menyalak tatkala mendengar penuturan dari Bintang dan Rani.
Alvian dan Linda hanya bisa memandang kepanikan Lintang tanpa tahu harus berbuat.
"Biar saja dia pergi. Kaum rendahan bukan kelas kita," Riana muncul diruang tamu.
"Aduhh, Mak Lampir datang lagi," gumam Alvian sambil menepuk kening.
"Apa maksud Oma?" mata Lintang sudah memerah seperti kesetanan.
"Lihat matamu, lihat kelembekan Papamu, lihat pembelaan Mamamu. Ini sudah jelas. Kalian kena guna-guna dari wanita ja-lang berkedok kerudung itu!"
"JAGA UCAPAN OMA!!" suara Lintang meledak.
"Rasakan kau manusia serigala. Sudah sana kau taklukkan Lintang!" batin Bintang tersenyum.
__ADS_1
"Kamu yang harus jaga ucapanmu, Lintang!" Kau itu cucuku, sudah sepatutnya menuruti perkataanku!" Riana ikut membentak.
"Cucu?. Haha, aku bahkan sudah lupa jika masih punya Oma. Oma tidak pernah menyaksikan pertumbuhanku dan Wulan hingga kami sebesar ini. Oma hanya datang setiap meminta upeti dari Papaku. Dan sekarang datang-datang ingin mengatur hidupku?" suara Lintang sampai terdengar parau karena terlalu banyak berteriak.
"Alvian, Linda. Kerahkan tim DZ untuk mencari Pak Joko dan Lyra. Waktu kalian 8 jam dari sekarang. Temukan mereka, atau kalian semua aku pecat!!" Lintang sudah kalap.
"Dan, Oma. Tolong diam dan jangan ikut campur jika ingin aku tetap menghormati Oma!" tatapan penuh intimidasi begitu jelas terlihat dari sinar mata Lintang.
"Cucu tak tahu sopan santun. Bukannya berterimakasih karena sudah diarahkan, malah membentak Oma-nya sendiri. Apa Papamu tak pernah mengajarkan sopan...
"CUKUP MAMA!!. Rani, bawa dia masuk ke kamar sebelum aku mengusirnya!" Bintang dengan tegas memotong perkataan Riana.
"CEPAT MASUKK!!" Bintang semakin marah.
"Yaa Allah, apa salah istriku hingga memiliki Mama seburuk itu sifatnya," Bintang tak habis pikir melihat ulah mertuanya.
--
7 jam berikutnya..
__ADS_1
"Kami belum berhasil menemukan Lyra," Alvian terduduk lesu didepan meja kerja Lintang.
"Setiap CCTV sudah kami sadap, semua tempat yang pernah disinggahi Lyra juga kami datangi, bahkan kami sudah menyebar foto Lyra dimana-mana, tapi Lyra dan Pak Joko seperti hilang ditelan bumi." Lanjut Linda tak kalah lesu.
"Vian, Linda. Maafkan aku sudah membentak kalian tanpa perasaan. Kalian tak perlu khawatir dipecat. Kalian sudah berusaha maksimal. Mari kita cari Lyra bersama-sama," Lintang telah mampu menguasai amarahnya.
"Bukan hanya Pak Lintang yang bingung. Saya sahabat terdekat Lyra, saya juga sedih Pak. Hikss," Linda terlihat emosional.
"Lyra sudah seperti saudara buatku. Aku juga akan sepenuh hati mencarinya, tanpa disuruh sekalipun." Alvian ikut prihatin.
"Entah sehari, dua hari, sebulan, setahun, seribu tahun. Aku tetap akan mencari dan menunggunya. Lebih baik aku melajang seumur hidup jika tak menikah dengan Lyra," wajah Lintang merebak.
Tak hanya Lintang, semua yang pernah mengenal Lyra akan merasa kehilangan. Lyra adalah gadis yang cantik, ramah, baik hati, energik, dan setia kawan. Dia sosok yang begitu mudah diterima disemua lingkungan. Bahkan Bintang dan Rani juga telah begitu cocok dengan Lyra.
"Kemana kita harus mencari Lyra sekarang.." ucap Linda tanpa semangat.
"Apa mungkin dia kembali ke kontrakannya yang dulu?" Alvian sebagai pemimpin tim pencarian begitu bingung harus melakukan apa.
"Kita coba kesana. Kita juga perlu bertanya kepada tetangganya jika dianggap perlu. Vian, selama kita mencoba ke rumah kontrakan Lyra, perintahkan tim untuk memeriksa semua stasiun, pelabuhan, bandara, terminal, dan semua jalur keluar dari kota ini!" mata Lintang kembali berbinar mendapatkan peluang kemungkinan baru.
__ADS_1
..._-_-_...