
"Selamat pagi, Bos." Sapa Pak Alvian saat kami memasuki ruangan kerja yang super besar, hampir 3 kali lebih besar dan lebih mewah daripada ruangan Pak Alvian.
"Kalian duduklah," ucap CEO bernama Pak Lintang yang belum kuketahui wajahnya karena posisi kursinya yang membelakangi meja.
Kalau dari suaranya sih seperti masih muda, hihi.
SRAKKK!!
Aku tersentak kaget hingga kursi yang kududuki hampir terjengkang kebelakang saat melihat Pak Lintang. Untung saja Pak Alvian bertindak sigap untuk memegang sandaran kursiku yang sudah miring kebelakang 45°.
Gila!. Ganteng banget tau ga. Wajahnya ramping, hidungnya mancung, alis mata tebal, dan bibirnya itu lho Uu..uu.uuu.
Ish Lyra!. Kenapa aku jadi seaneh ini sih. Come on, sadarlah Lyra..sadarlah duhai diriku.
"Hati-hati kalau duduk!" sergah Pak Alvian yang spontan membuat pipiku langsung memerah bak tomat.
Uuuh..malu banget banget banget.
"Kamu yang bernama Lyranova?" tanya Pak Lintang sembari menatap lekat kearahku.
Asli aku langsung nge-fly gitu. Saling bertatapan dengan pria terkeren diperusahaan ini. Ohh mana tahan.
__ADS_1
"Lyranova...hallooo!" Aku kembali tersentak dari lamunan untuk kesekian kali saat Pak Lintang menggoyangkan telapak tangannya didepan wajahku.
"Eh..I-iya, Pak." Jawabku spontan tanpa tahu isi dari pertanyaan Pak Lintang.
"Ok Lyra, ada beberapa hal yang harus aku sampaikan padamu. Apa kamu bisa lebih berkonsentrasi lagi?" Pak Lintang menaikkan alisnya.
Dari sudut mata bisa kulihat Pak Alvian yang menahan senyum saat melihat tingkah anehku. Ini menyebalkan.
"Bi-bisa, Pak." Aku benar-benar gugup.
"Sebelumnya, perkenalkan aku adalah Pak Lintang, CEO Perusahaan ini. Dan pria disampingmu itu adalah Pak Alvian selaku Asistenku. Apa kau sudah pernah melihat atau mendengar nama kami sebelumnya?" lanjut Pak Lintang.
"Hahaha..ini menarik. Vian, setelah ini tolong panggil Kepala Gudang serta Kepala Administrasi Gudang. Aku ingin mendengar sendiri alasan mereka hingga lalai dalam memperkenalkan pimpinan mereka kepada karyawan!" kalimat lugas Pak Lintang langsung membuatku mengkerut.
"Siap, Bos." Jawab Pak Alvian patuh.
"Ohya, sekalian Kepala HRD. Biar aku cuci mereka!"
Wah wah bisa runyam nih jika Pak Zein dan Linda ikut kena marah gara-gara aku.
"Ok, back on topic. Vian, kuulangi lagi pertanyaan tadi malam. Apakah kau sudah menjelaskan secara terperinci tentang Peraturan Perusahaan kepada semua kepala seksi, kepala bagian, HRD, dan para supervisor?" tanya Pak Lintang dengan nada meninggi.
__ADS_1
Keringatku mulai membasahi peluh dan telapak tangan. Mendadak ruangan seperti bertambah dingin. Dan mendadak pula perutku menjadi sangat mulas.
"Sudah, Pak. Hanya saja sedikit kurang penekanan," terdengar ada keraguan dari kalimat Pak Alvian.
"Bisa kau jelaskan lebih detail. DISINI, SEKARANG?!" suara Pak Lintang meledak.
Spontan dengan polosnya aku menutup kedua daun telinga menggunakan tanganku. Lirikan Pak Alvian kemudian menyadarkanku untuk segera menurunkan tangan kembali. Kulihat Pak Alvian juga sedikit gemetar.
Jika asistennya saja sampai gemetar, apalagi aku. Masih untung aku tidak terkencing-kencing dibuatnya. Dasar, ganteng-ganteng galak!.
Sampai disini rasa simpatikku pada Pak Lintang sedikit mengendur. Bayangkan saja, sejak kecil Bapak kandungku sendiri tak pernah membentakku sekasar itu. Eh ini tega-teganya berkata keras padaku. Tapi emang dia beneran ganteng akut sih. Aduh pusying pala barbie.
"Ba-baik, Bos. Akan saya jelaskan.." Pak Alvian sedikit gugup.
"CEPAT. Waktuku sudah terbuang banyak!" kembali ledakan itu terjadi.
Baru saja Pak Alvian akan membuka mulut, eh ada teriakan sumbang dari belakang.
"Cut!. Bersambung ke bab berikutnya." Potong Author tak kalah galak dibanding Pak Lintang.
..._-_-_...
__ADS_1