Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Trauma


__ADS_3

"Sebenarnya kamu kemana selama ini?. Dan apa saja yang terjadi sejak tidak ada aku?. Tolong sayang, maafkan aku. Aku juga sangat kaget saat mendengar perilaku buruk Oma terhadapmu dan Pak Joko. Aku mencarimu dimana-mana, aku bahkan kehilangan gairah hidup sejak kamu pergi," wajah Lintang terlihat sendu.


Lintang meminjam ruang kantor Pak Fuad untuk bisa berbicara privasi dengan Lyra.


"Sejak kami pergi, awalnya Bapak bingung mau tinggal dimana. Secara tak sengaja kami bertemu Pak Zul, dia sahabat Bapak. Akhirnya kami dibawa Pak Zul ke kota kecil ini dan diberi pinjaman sebuah rumah kecil. Pak Zul menjanjikan akan memasukkan aku untuk bekerja di pabrik gula dimana dia juga bekerja disitu." Terang Lyra tanpa menutup-nutupi.


"Sebaiknya kita temui Pak Joko dan membicarakan semua ini agar segera selesai permasalahannya," ajak Lintang.


"Tunggu, Mas." Tarikan tangan Lintang tertahan.


"Ada apa lagi?!" Lintang benar-benar sudah tak sabar untuk menemui Pak Joko dan segera membawa mereka kembali ke ibukota.


"Sebulan yang lau, B-bapak me-meninggal dunia, Hikss.." tangis Lyra kembali pecah.


"Innalilahi Wa Inna Ilaihi Raji'un," mata Lintang terbelalak lebar.


"Ya Allah. Apa yang terjadi dengan Bapak?!. Ini semua gara-gara Oma!!" amarah Lintang membuncah.

__ADS_1


"Sebenarnya Bapak memiliki riwayat hipertensi. Sejak kejadian itu, tensi Bapak cenderung naik. Puncaknya, bulan lalu Bapak tersandung akar pohon dan jatuh. Pembuluh darah Bapak seketika pecah karena terlalu berlebihnya tekanan darah," mata sembab Lyra menerawang jauh.


"Maafkan aku, maafkan aku, Sayang. Kembalilah. Aku janji akan menjaga kamu demi Bapak," Lintang tak kuasa lagi menahan kakinya.


Tanpa gengsi, Lintang menjatuhkan lututnya dan memohon pada Lyra untuk kembali bersamanya.


"Aku takut, Mas. Aku takut!" Lyra mundur menjauhi Lintang.


"Kenapa sayang?" kejar Lintang.


Lyra yang pemberani dalam bertarung memiliki sisi lembut dan sensitif dalam pribadinya. Sehebat-hebatnya manusia, ada kelemahannya. Tak ada manusia yang sempurna.


"Aku janji. Apapun masalahnya, kita akan hadapi bersama. Aku akan selalu ada buatmu. Bertahanlah disisiku apapun kondisinya, jangan pergi-pergi lagi!" Lintang tak mau lagi kehilangan Lyra.


"Aku masih trauma, Mas!" tepis Lyra tak mampu menguasai rasa takutnya.


"Apa yang bisa kulakukan agar membuatmu yakin, Sayang?. Ataukah kamu sudah tidak cinta lagi kepadaku?" Lintang tak tahu lagi dengan apa dia bisa membujuk Lyra.

__ADS_1


"Aku masih cinta, aku masih sayang, Mas. Tapi aku takut dan trauma. Bayangan mendiang Bapak selalu berputar-putar dalam kepalaku. Aku seperti hidup dalam mimpi, namun nyata. Aku juga tak tahu harus berbuat apa!" Lyra kembali meraung dalam tangisan yang pilu.


Sejenak ruang kantor Pak Fuad menjadi hening. Sesekali hanya terdengar sesenggukan Lyra. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Dimana saudara Pak Joko, dan Ibumu?" Lintang kembali menatap wajah Lyra.


"Bapak dan Ibu adalah anak tunggal. Kakek dan nenek juga sudah lama meninggal dunia," jawab Lyra.


"Kamu punya saudara kandung?" Lintang bertanya lagi.


"Aku juga anak tunggal, Mas." lirih Lyra.


"Ok. kalau begitu kita nikah sekarang juga!"


"Apaa??!"


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2