
⚠️ Episode ini mengandung unsur dewasa. Bijaklah dalam membaca.
POV Author
"Sayangg," Lintang membelai lembut punggung Lyra yang tengah meringkuk indah diatas ranjang dengan balutan daster berbahan kain yang justru menonjolkan lekuk tubuhnya.
"Bolehkah malam ini kita..." Lintang tak melanjutkan kalimatnya, justru hembusan napasnya terdengar mulai tak beraturan.
Lyra hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hatinya masih cukup kacau setelah pertemuan dengan Laras. Namun sebagai bentuk ketaatan seorang istri yang berbakti pada suami, ia tak berpikir sekalipun untuk menolak ajakan berhubungan in-tim Lintang. Sebuah konsekuensi tunggal saat ijab qobul diucapkan, maka sejak saat itu tubuh Lyra bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga menjadi milik suaminya. Tak ada kesibukan apapun yang mampu menangguhkan kepemilikan Lintang atas tubuhnya, terkecuali dalam kondisi sakit ataupun sedang melakukan ibadah. Diluar kedua hal itu, bagi Lyra adalah sebuah pengkhianatan para ikrar pernikahan jika hal paling mendasar yakni berhubungan ba-dan ia abaikan.
Sedikit terburu-buru Lintang merabai segala lekuk pada tubuh istrinya. Sejenak ia meraih tengkuk Lyra agar mampu mengecap manisnya bibir sang bidadari.
Awal bermula memang Lyra merasakan sedikit enggan meski ia menganggukan kepala. Namun kini tak dapat dipungkiri bahwa ia akhirnya ikut terbakar panas yang ditularkan oleh Lintang.
"Ohh..ehmmh, Mass.." lambat laun bibir Lyra membentuk kata demi kata ambigu yang tak bisa diterjemahkan dari kamus kosakata tatkala Lintang dengan gemas mengeksplorasi area sekwilda (sekitar wilayah dada).
Tangan kekar Lintang yang lainnya juga sibuk meremasi bongkahan buah sekal dibawah pinggul Lyra. Bosan dengan semua itu, Lintang bergerak melucuti segala jenis kain penghalang ditubuh mereka berdua.
SLAPP
Dengan buas Lintang lanhsung mencaplok puncak fujiyama yang kini terbuka bebas tanpa penghalang. Dengan nakal ia juga menggapai bukit berumput lembab dibawah sana.
"Ehhmhh..auhh, Mass. Stttaahh.." kembali kata-kata ambigu terlontar dari bibir mungil Lyra tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
"Mas-sukinn, Mas. Akhuh sudaa ga kuathh. Ehmmshh," desau Lyra memohon.
Dengan perkasa Lintang mengangkat tubuh istrinya dan memposisikannya tengkurap diatas ranjang dengan kaki tertutup rapat, "Kita coba gaya baru," bisik Lintang mesra.
Dalam posisi seperti itu, Lintang melesakkan tongkat saktinya menerobos celah basah milik Lyra.
"Oshh..semphitt se..kali," racau Lintang kacau
"Iy-iyahh berasahh aushh..penuhh sekali, Mashh..ohh," sambut Lyra tak kalah kacau.
"Belajarhh da-ddari mannaa kamu Mashh?" tanya Lyra parau.
"Gakh penting. Yangh jelass enakkh..uhh," jawab Lintang sambil sibuk menggerakkan bagian tubuh bawahnya.
Lintang berdiri, menggendong Lyra dalam pelukan dengan posisi kaki Lyra yang mengapit pinggul Lintang dan senjata yang masuk ke selongsongnya. Lyra mirip seperti sedang memanjat sebatang pohon.
"Auhhh, Mashh. Mentookh bangeth..Uuu uhh uhh," Lyra kian menggila dalam posisi terbaru mereka.
Lintang hanya diam berkonsentrasi menahan laju aliran air surgawi agar tidak terburu-buru memancar.
Sudah hampir 30 menit mereka saling mendulang hasrat. Berbagai posisi baru sengaja Lintang perkenalkan pada Lyra sebagai bentuk refresment agar pasangannya tidak bosan. Kini Lintang hampir mencapai batasnya.
Lintang terduduk di kursi dengan tubuh Lyra yang juga menduduki Lintang saling berhadapan.
__ADS_1
"Akuhh hampirr, Sayanghh..Ohh," Mendengar Lintang berteriak, Lyra segera menambah kecepatannya bergoyang diatas pangkuan Lintang.
"Mashh auuh akuhh gelii, ooh..Mau sampai gugaa.aahh," teriak Lyra tak kalah kencang.
"Kita bareng, Sayanghh. Kita bar..reng..Ahhh,"
"Mashh, Ahhh.."
Keduanya mencapai puncak bersama. Kedua tubuh itu mengejang seolah tersengat aliran listrik arus tinggi.
Beberapa saat mereka masih terdiam meresapi sisa peluh yang masih mengaliri sekujur tubuh. Lyra pun luruh terkapar diatas ranjang dengan napas tersengal disusul Lintang yang merangkak diatas ranjang kemudian tertelungkup disamping sang istri sambil memeluknya.
Hening. Sekian menit suasana medan pertempuran menjadi senyap seketika. Keduanya sibuk menenangkan diri setelah lelah kerja rodi.
"Mas. Aku mau ngomong sesuatu," ucap Lyra setelah keduanya beringsut menyusup dibalik selimut dan saling berpelukan mesra.
"Ada apa, Sayangkuu?" Lintang membelai lembut pelipis Lyra.
"Apa kau mencintai Laras?" tanya Lyra perlahan.
"Apaa?!" Lintang terhenyak.
..._-_-_...
__ADS_1