
POV Author
"Aku ga nyangka kalau kamu bisa nyanyi, Bos. Sejak kecil, belum pernah aku dengar kamu nyanyi lho.." Alvian masih terbengong setelah mendengar suara merdu Lintang meski sekarang Lintang sudah duduk kembali bersama mereka.
"Satu yang kamu lewatkan. Kita tidak kuliah di kampus yang sama. Disanalah aku pernah tumbuh menjadi anak band, hahaha." Lintang terkenang pada masa-masa bangku kuliah.
"Asli keren lho Pak suaranya. 11-12 sama Rio Febrian, beneran." Linda juga tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada suara merdu Lintang.
"Hahaha biasa saja. Hanya sekedar hobi kok," kilah Lintang tak mau menyombongkan diri.
"Hobi saja sudah bisa bikin aku nangis, gimana kalau jadi penyanyi beneran?! sudah pingsan mungkin aku," Lyra menatap penuh cinta pada suaminya yang ternyata serba bisa.
"Sudahlah, itu hanya intermezo. Sesekali otak kiri kita memang perlu diimbangi oleh otak kanan, biar ga meledak CPU-nya, hahaha.." Lintang tergelak melihat wajah-wajah yang belum juga sadar setelah terhipnotis alunan lagu yang dibawakannya.
"Tahu begitu, kemarin pas nikahan mending kamu aja yang isi suara, Bos. Hemat budget penyanyi!" Alvian menambahkan.
"Sudah ah bahas suara nyanyian. Itu kan hanya selingan saja. Gantop aja, ganti topik. Eh gimana kalau kita ikut program kehamilan? biar bisa hamil bareng-bareng. Kebetulan aku punya teman seorang dokter spesialis organ genital!" Lintang tak mau disibukkan dengan bahasan nyanyi yang menurutnya tak penting.
"Wahh boljug, boleh juga. Kapan kita agendakan?!" Alvian menunjukkan wajah antusiasnya, begitu juga dengan kedua gadis yang bersama mereka.
"Bukan kita yang agendakan, tapi kita ikuti agenda dokternya. Kekuasaan kita memang mudah dalam mengatur segala hal, tapi biasakan untuk menggunakan kekuasaan pada tempatnya. Hal yang bersifat umum sebaiknya kita minimalkan bersikap sok bossy!" tegur Lintang menggunakan prinsip padi, semakin berisi semakin menunduk.
__ADS_1
"Kamu sangat bijaksana, Sayang. Aku makin cintrong setengah metong," Lyra tersenyum simpul.
"Ciehhh, Lyra yang ngomong, gue yang klepek-klepek hahaha.." goda Linda melihat kemesraan pasangan bos didepannya.
"Aku ga dipuji juga, Sayang?" Alvian mengobarkan rasa iri, dengki, hasut.
"Kamu hemat banget lho, Sayang. Sampai-sampai urusan sewa penyanyi nikahan aja dihitung untung ruginya. Semakin kamu irit, perutku makin melilit, bisa-bisa bikin koit, dasar pelitnya selangit!" Linda melotot tajam pada suaminya.
"Wah pujianmu membuatku melambung, terimakasih ya sayangg!" Alvian tergelak gembira melihat Linda yang semakin sensi.
--
"Halah ribet banget aturannya dokter. Makan dijaga, posisi berhubungan diatur, tanggal dijadwal, tambah olahraga lah, ini lah, itu lah.." keluh Linda kesal.
"Lagian tadi kamu diperiksa ga mau. Mungkin akan lebih spesifik aturannya kalau kamu mau diperiksa!" tegur Alvian.
"Risih aku, sayang. Dokternya cowok mau obok-obok barang cewek. Ish malunya ga ketulungan! bantah Linda masih dengan nada uring-uringan tingkat dewa.
"Namanya dokter, mau cewek atau cowok, ya tugasnya emang meriksa badan. Kalau meriksa tiang listrik namanya instalatir!" kilah Alvian ikut terpancing.
"Kamu itu ga mendukung istri sama sekali, Huhh!!" Linda melangkah masuk kedalam kamar dengan wajah menahan tangis.
__ADS_1
"Sudah, biarkan dulu. Dia lagi sensitif akhir-akhir ini. Mungkin kurang enak badan atau lagi ada masalah di tempat kerja. Sementara tunggu emosinya mereda dulu." Lyra menahan Alvian yang hendak menyusul Linda ke kamar.
"Heran aku itu, Kak. Dalam sehari, lebih banyak ngegasnya dari pada kalemnya. Aku itu cowok, digituin terus ya jelas panas ini kuping!" Alvian menjatuhkan tubuh kembali diatas sofa dengan wajah jengkel.
"Sabar dulu lah. Jadi suami harus bisa menjadi contoh yang baik!" Bintang muncul dari ruang tengah.
"Iya, Pa." jawab Alvian pendek.
"Eh sebentar deh. Apa jangan-jangan Linda.." Rani menggantung ucapannya.
"Linda kenapa, Ma?. Kena depresi gitu karena Vian terlalu ngirit?" potong Lintang cepat.
"Sembarangan kalau ngomong!" wajah Alvian sudah jauh dari kata cerah.
"Selow, bro..wajah lu jelek banget dah kalau lagi bete kayak gitu. Coba ngaca dulu sana kalau ga percaya..hahaha," Lintang justru menggoda Alvian dengan menggerakkan kedua alisnya turun naik.
"Emang Linda kenapa, Ma?" Lyra angkat suara demi melihat perseteruan dua pria yang tak akan pernah berujung damai.
"Jangan-jangan Linda...Hamil!" bisik Rani dengan suara yang masih bisa didengar semua orang yang berada di ruang tamu.
..._-_-_...
__ADS_1