
POV Author
Tak terasa pekerjaan yang dijalani Laras sudah berjalan hampir 2 bulan. Selama itu pula kedekatan demi kedekatan terjalin antara Lyra dan Laras. Meski Lyra tak setiap hari berada disana, namun komunikasi intensif tetap mereka lakukan. Di satu sisi karena hal tersebut menyangkut nama baik Lintang group dimata semua anggota All-In yang secara tidak langsung mengamati aktifitas pertukaran karyawan. Di sisi lain, menyangkut pengaturan Lyra terhadap Laras itu sendiri. Lyra ingin memastikan tak terjadi hubungan arus pendek antara Laras dan Lintang. Lyra juga ingin memastikan bahwa karyawan magang bentukannya akan mampu bersinar terang.
Sesekali memang Lintang datang ke kota Bogypark untuk memantau kinerja semua tim. Hal itu jelas membuat Laras seperti meminum air menyegarkan setelah menahan dahaga begitu lama.
Baik Lintang maupun Lyra selalu berlaku profesional di lingkungan kerja. Bahkan Lyra sengaja mengunci rapat seluruh karyawannya agar tidak membuka fakta pada Laras tentang hubungan Lyra dan Lintang.
"Laras. Tipe cowok bagaimana yang kau sukai?" pancing Lyra disuatu ketika.
"Saya tidak munafik, Bu. Setiap wanita menginginkan pasangan yang tampan dan baik hati. Mengenai kekayaan, itu bukan acuan saya. Yang penting dia pengertian," ungkap Laras tanpa merasa curiga sedikitpun atas pertanyaan Lyra.
"Ehmm..kalau seperti Pak Alvian, bagaimana menurutmu?" Lyra semakin lincah menggocek serangannya.
"Dia tampan sih. Pengertian juga. Tapi sayangnya, maaf lho Bu..dia itu bawel banget dan galak. Saya kurang respek dengan pria semacam itu," Laras sudah tak sungkan-sungkan lagi berbicara dari hati ke hati dengan Lyra karena mereka kini sudah dibilang seperti teman sebaya.
__ADS_1
"Kalau Deo?" lanjut Lyra.
"Dia juga tidak kalah tampan dengan Pak Alvian. Tapi saya belum terlalu mengenalnya." Ucap Laras apa adanya.
"Ehmm..kalau Pak Lintang gimana?" Lyra sudah mulai masuk memasang perangkapnya.
"Dia tampan, baik hati, pengertian..."
"Berarti cocok dong dengan kriteria yang kau harapkan?!" potong Lyra cepat.
"Oh oh oh.. kamu sepertinya jatuh cinta padanya ya?. Coba aku ingin denger langsung dari mulutmu!" goda Lyra santai seolah tanpa beban.
"Ahh..sudahlah, Bu. Kita bahas yang lainnya saja yah.." Laras berkelit.
"Kamu itu cantik. Pak Lintang juga tampan. Sudah klop kan?!. Apalagi kalian juga terlihat akrab seperti sudah dekat," Lyra emang jago kalau diminta untuk beradu argumentasi.
__ADS_1
"Saya ini apa, Bu. Hanya karyawan rendahan. Sedangkan Tuan Lintang itu berasal dari keluarga yang ternama di negeri ini. Saya tak mau menjadi pungguk yang merindukan bulan." ucap Laras merendahkan diri.
"Ga boleh ngomong gitu. Jodoh siapa yang tahu?. Ayo semangat kejar dia. Aku mendukungmu!" Lyra mengepalkan tangannya memberi semangat.
"Apa kamu sangat mencintainya?" lanjut Lyra lagi.
"Ini pengalaman pertama kalinya saya tertarik pada lawan jenis. Saya tak ingin beralih ke lain hati lagi. Cita-cita saya dari dulu, satu kali mencintai sampai mati." jawaban Laras kali ini begitu mengguncang kejiwaan Lyra.
Lyra memang pernah melihat bagaimana posesifnya Liana saat mencintai Lintang. Namun ketulusan hati Laras mengingatkan Lyra pada dirinya sendiri. Mereka sama-sama polos. Sama mencintai orang yang sama. Dan sama-sama bertekad setia pada pria tersebut. Lyra menjadi ingin menangis dibuatnya. Ia tak rela jika ada wanita lain yang menginginkan suaminya. Namun ia juga tak rela melihat wanita baik hati seperti Laras terluka karena cinta. Lyra seperti sedang memandang sebuah cermin dengan wajah Laras didalamnya.
"Kau ingin aku membantumu?" entah kenapa justru kalimat ini yang terlontar dari bibir Lyra.
"Saya tidak berani, Bu. Sungguh saya tidak berani untuk berharap dan berangan-angan," Laras tersedu dan semakin membuat hati Lyra teriris perih.
Dilema dua cinta. Dua wanita terbelenggu pada kait cinta menjelma. Ini bukan tentang status istri dan penggemar suami orang. Ini adalah tentang bagaimana hati telah berenang. Ini tentang harapan dan impian. Jika Lyra tak ingin sakit hati, pun juga demikian bagi Laras yang tak pernah berharap untuk sakit hati. Jika Lyra ingin bahagia, haruskah Laras ikut bahagia?. Namun begitulah hidup dengan segala kerumitannya.
__ADS_1
..._-_-_...