Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Termos es


__ADS_3

POV Author


"Kita akan segera menikah!" jawab Lintang singkat tanpa basa-basi.


"Kau belum meminta ijin pada Bapak," Lyra melirik pria tampan yang berdiri didepannya.


"Kita temui Pak Joko sekarang." Lintang menggandeng tangan Lyra dan mengajaknya berlari menuju rumah mungil di belakang bangunan utama.


"Pak Jokooo, Pak Jokoo, Pak..!" baru sampai halaman, namun Lintang sudah berteriak-teriak dengan tak sabar.


Khawatir terjadi sesuatu, Pak Joko segera berlari keluar menyambut kedatangan Lintang dan Lyra yang terlihat tergesa-gesa.


"Ada apa dengan kalian?" wajah Pak Joko berubah panik.


"Pak, Pak Joko punya termos es?, anak saya sakit panas!" celoteh Lintang menirukan iklan jadul obat penurun panas.


"Ish apaan sih, Mas. Ga nyambung banget!" cebik Lyra sedikit kesal.


"Hehe maaf, saking antusiasnya.." Lintang terkekeh sendiri.

__ADS_1


"Pak, bisa kita bicara didalam sebentar?" pinta Lintang dengan tetap menggandeng tangan Lyra memasuki ruang tamu dan meninggalkan Pak Joko dibelakang.


"Bapak masih ketinggalan diluar, Mas!" tegur Lyra merasa bingung sendiri dengan tingkah kekasih barunya tersebut.


"Ada apa sih?" ucap Pak Joko ikut bingung karena melihat tingkah Lintang yang petakilan.


"Pak, boleh saya menikahi Lyra?" cepat saja Lintang berkata dengan to de poin tanpa tedeng aling-aling dan tanpa basa-basi.


Kening Pak Joko berkerut seketika. Jelas saya Pak Joko heran. Selama ini ia hanya tahu bahwa Lyra adalah karyawan dari Lintang. Belum ada cerita tentang hubungan spesial mereka.


"Sejak kapan kalian pacaran?, kok Bapak ga tau ya." Pak Joko terus mengkerutkan keningnya.


"2 menit, eh 3 menit yang lalu, Pak." jawab Lintang lugas.


"Kalian baru berpacaran 3 menit yang lalu. Dan sekarang langsung minta nikah?" ulang Pak Joko menduplikasi perkataan Lintang sebelumnya.


"Betul, Pak." Lintang tersenyum lebar.


"Apa kau hamil, Nak?" Pak Joko yang melihat semua serba terburu-buru dengan cepat menyimpulkan.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Tidak, Pak!" Lyra terhenyak.


"Lalu?" kening tua itu kembali berkerut.


"Ehemm. Begini, Pak. Saya sebenarnya sudah tertarik pada anak Bapak ini sejak lama. Dan saat kami tadi resmi berpacaran, Lyra meminta untuk saya serius. Ya sudah, ini sekarang saya serius!" cerocos Lintang vulgarr.


"Ish, Mas. Ya jangan dijelaskan sedetail itu juga sih!" Lyra menutup wajahnya yang malu.


"Ohh baiklah. Bapak akhirnya bisa mencerna apa yang kalian sampaikan. Jadi begini Pak ehh, Nak Lintang. Saya pada dasarnya tidak ada masalah dan setuju-setuju saja. Tapi apa kalian tidak ingin saling mengenal satu sama lain dulu?. Menikah itu tidak hanya untuk sehari dua hari, tapi untuk selamanya. Jangan sampai kalian menyesal dikemudian hari karena langkah yang salah!" nasehat Pak Joko kepada sepasang kekasih tersebut.


"Untuk saling mengenal, saya rasa kebersamaan kami selama ini sudah cukup mewakili, Pak. Saya sudah bertekad satu pasangan sampai mati. Namun jika terjadi hal lain ditengah perjalanan nantinya, Nauzubillahi, maka itu adalah jalan hidup yang harus kami terima dengan lapang dada," Lintang mengambil sikap.


"Lalu kamu, Nak?" Pak Joko menoleh pada putrinya.


"Aku juga sepaham dengan Mas Lintang, Pak. Jalan hidup tak ada yang tahu. Tugas kita hanya memilih dengan ketetapan hati. Bukan tak setuju, namun pasangan yang sudah berpacaran lama saja bisa berpisah ditengah-tengah kehidupan rumah tangga mereka. Baik buruk pasangan tergantung kita sendiri," Lyra angkat bicara.


"Baiklah. Bapak sudah mengenal Nak Lintang dalam beberapa saat ini. Bapak merestui rencana kalian. Tapi lebih baik lagi jika kalian juga meminta restu kepada orangtua Nak Lintang dulu." wajah tua itu memancarkan sinar kebahagiaan.


"Terimakasih, Pak. Saya akan menemui orangtua sekarang juga!" Lintang kembali berdiri dan menarik tangan Lyra seperti awal tadi.

__ADS_1


Keduanya kembali berlari-lari menuju bangunan utama untuk mencari Bintang dan juga Rani.


..._-_-_...


__ADS_2