
POV Author
HAP
HAPP
Wulan melakukan salto kebelakang beberapa kali untuk memperlebar jarak dengan lawannya. Ketika jarak yang ia inginkan sudah terpenuhi..
CETARRR
TARR
Ujung cambuknya melenting dan menghantam bahu lawan dengan keras. Cambukan berikutnya, punggung lawan juga merasakan sakit dan pedihnya cambuk milik Wulan.
Lawan terjatuh dengan mengaduh kesakitan. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja oada seorang gadis muda dihadapannya. Ia pun bangkit untuk membali melakukan serangan.
Namun..
CETARR
KLANGGG
Kali ini Wulan sengaja mengarahkan cambuk untuk menjatuhkan pedang lawan.
"Waduw, tangan kosong melawan cambuk dewi kusir, mampuss gua.." desau lawan Wulan merasa putus asa.
CETARRR
CETARR
BUKKK
TARR
Benar saja, Wulan dengan buas menghajar tubuh lawan menggunakan cambuknya tanpa ampun.
Belasan kali cambukan berhasil mengantarkan lawan Wulan terkapar tak sadarkan diri dengan luka merah menjalari seluruh bagian tubuhnya.
"Kalian itu yang nubie. Lawan anak kuliahan aja tepar!" teriak Wulan membalas perbuatan mengejek dari lawan Deo tadi.
Melihat dua temannya tumbang, pria ketiga mulai tak tenang.
__ADS_1
"Ga usah tolah-toleh seperti monyet kurang sesajen. Aku lawanmu!" bentak Lyra dengan dua belati andalan tergenggam didepan dada.
Merasa frustasi, lawan Lyra mengayunkan pedang kembarnya dengan membabi-buta. Serangan itu lebih bisa disebut kacau daripada mematikan. Pikiran lawan telah demikian kusut melihat kondisi kedua temannya.
"Yaelah, Sob. Tenang dikit napa?! senyum tersungging di bibir Lyra.
WUSSS
MAK JLEBBB
Dengan mudahnya belati yang dilempar Lyra menancap tepat pada ulu hati lawan.
"Yah, ga seru banget!" wajah Lyra terlihat kecewa mengetahui lawan yang langsung terkapar di lantai dengan darah menyembur dari luka di dada dan mulutnya.
"Cari yang lebih seru?, kita cari Roti Frans!" hibur Deo sambil berlari lebih masuk ke dalam gudang.
Didalam kamar satu-satunya dari gudang tersebut terlihat Lintang sedang sengit berkelahi dengan Frans dibantu dua pengawal utama. Lintang cukup terjepit karena 1 orang melawan 3 orang sekaligus.
"Serahkan dua monyet itu padaku dan Wulan!" desis Deo datar.
Lyra, Deo, dan Wulan sigap menghambur masuk kedalam pertempuran. Lyra berdiri tepat di sisi suaminya.
"Wajahmu bikin aku nepsong. Kau harus membayarnya setelah ini, Sayang! Hiaah.." Lintang kembali menerjang Frans yang kini seorang diri ditinggalkan dua pengawalnya.
Gerakan Frans jauh diatas kemampuan para pasukannya. Langkahnya sungguh gesit meski badannya telah renta. Pukulan dan tendangannya begitu bertenaga dan mematikan.
BAKK
BAKK
PAKKK
PLAKKK
Serangan Lintang yang begitu gencar hanya ditangkis begitu saja oleh Frans.
BUGHH
Sebaliknya, Lintang yang lengah hingga satu pukulan menghantam perut luarnya.
"Mas gapapa?" Lyra terlihat khawatir.
__ADS_1
"Mas gapapa? Mas ga mati saja? Hahaha," Frans bahkan meniru kalimat Lyra untuk meledek Lintang.
Sejenak Lyra membisikkan satu kalimat pada suaminya dan dijawab anggukan oleh Lintang.
Lintang kembali melakukan serangan. Dibelakang Lintang, terlihat Lyra sedang mengatur kuda-kuda.
"Sekarang!!" teriak Lyra dan diikuti gerakan tubuh Lintang merunduk dengan kaki menyapu kaki Frans.
Spontan Frans melompat cepat, namun tiba-tiba Lyra sudah berlari diatas bahu Lintang dan mengayunkan belatinya.
CRASHHH
Frans tak mampu lagi menghindar. Luka tak dapat dielakkan, terlihat terbuka memanjang di dada Frans John.
Pria tua itu terhuyung beberapa langkah kebelakang. Kembali Lyra mengayunkan belati kearah wajah Frans.
Tak mau mendapatkan luka kedua kalinya, Frans menguatkan pijakan kakinya dan membuang wajahnya kebelakang. Tapi sekali lagi Frans tertipu..
KRAKKK
Bunyi tulang kering Frans patah saat dibawah sana Lintang menghantamkan kaki dengan kuat.
BUKKK
Frans terhempas ke lantai tanpa daya. Lyra sudah kembali melayang untuk menghabisi nyawa Frans.
"Tunggu!" Lintang menghalangi.
"Biarkan dia menjalani hukuman dari pengadilan."
KRATAKK
KRAKKK
"Arrrrrghh..."
Lintang mengakhiri kalimatnya dengan memelintir tangan kanan Frans kemudian menendangnya hingga patah.
"Cukup kita lumpuhkan saja dia. Selanjutnya biar dia menjalani siksaan hukuman dari negara dengan kondisi tangan dan kaki kanan yang tidak berfungsi!" Lintang menyeka keringat yang membanjiri kening dan lehernya.
..._-_-_...
__ADS_1