
POV Author
"Lyra, tolong kau bantu para tukang di lantai 2 untuk segera menyelesaikan pemasangan dinding. Cuacanya mengkhawatirkan, hari akan segera hujan," panggil Pak Hendro, mandor yang bertugas di lokasi pembangunan gudang.
"Iya, Pak. Sebentar saya tuang adukan semen dulu," ucap Lyra patuh.
Lyra segera menyudahi kegiatannya mengaduk semen untuk kemudian naik ke lantai 2 membantu mempercepat pembuatan dinding.
Selama membantu bagian konstruksi, sesekali Lyra belajar membuat dinding dengan pendampingan Pak Karjo dan Pak Dirun, tukang senior disana. Meski itu keinginan Lyra sendiri untuk belajar, namun para tukang tak segan untuk berbagi ilmu dengan Lyra.
Dalam dua minggu bekerja, Lyra terbilang sudah cukup mahir mengerjakan pekerjaan tukang bangunan. Kemampuan Lyra sudah setara dengan para asisten tukang yang biasa menjadi cadangan bila tukang utama berhalangan hadir.
Sebenarnya dinding lantai 2 sudah hampir selesai. Ketiga sisinya sudah terbentuk sempurna. Hanya tersisa satu sisi saja yang belum terselesaikan.
Lyra berlari cepat ke lantai 2 dan mengambil bagian diantara para tukang yang ada. Lyra bertugas menyelesaikan dinding paling timur dengan lebar 1 meter dan tinggi 5 meter. Cukup sedikit dibanding pekerjaan tukang lainnya.
Dengan cekatan Lyra memasang setiap bata diantara bubur semen yang menjadi perekat disetiap celah. Tangannya begitu terampil dan bahkan mungkin paling rapi diantara lainnya karena hanya dialah wanita disana.
__ADS_1
"Usahakan dinding mencapai atas sebelum hujan turun," teriak Pak Hendro memberi instruksi.
Lyra kembali berlari kebawah begitu adukan semen habis. Dengan dia diperbantukan diatas, praktis tak ada yang membantu menyiapkan adukan semen. Kuli lainnya juga tengah sibuk pada bagiannya masing-masing.
"Hati-hati, Lyra. Cukup berbahaya untukmu naik dan turun bangunan dalam kondisi fisikmu terkuras habis. Tetap perhatikan keselamatan. Beristirahat sebentar jika kau merasa tak kuat," nasehat Pak Hendro bersimpati.
"Saya masih mampu, Pak." Jawab Lyra dengan semangat.
Lyra kembali ke lantai dua dengan kedua tangan mencengkeram gantungan timba berisi bubur semen.
"Hujan turun!" teriak Pak Dirun dari lantai atas.
Tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah kuyup karena hujan lebat, Lyra segera melanjutkan tugas pemasangan bata. Hingga kemudian terdengar teriakan keras dari Pak Hendro, "Lyraa..awas. Menjauhh!!".
BRAAK..
BLAAMM
__ADS_1
BLAMM!!
Dinding yang belum mengering disamping Lyra luruh tersiram air hujan. Dinding itu roboh dengan bata berhamburan kebawah, tepat dimana Lyra berada.
Lyra yang kaget dengan kejadian mendadak itu dengan reflek menghindar. Namun genangan air membuat lantai pijakan menjadi licin sehingga cukup menghambat gerakan Lyra.
"Arrgghh.." teriak Lyra.
Semua histeris dan berlari cepat ke arah Lyra yang mengaduh dalam posisi terjatuh.
Sebenarnya, Lyra telah berhasil menghindar sehingga ia tak tertimbun reruntuhan bata. Hanya saja ia belum cukup jauh menghindar sehingga sebagian bata menghantam bahu dan lengan kirinya.
Darah merembes dikaos lengan panjang putih Lyra. Segera Pak Hendro dan Pak Karjo membawa tubuh Lyra le lantai bawah diikuti semua tim tukang yang juga cemas.
"Lyra, semoga kau tidak apa-apa. Seharusnya wanita sepertimu tidak bekerja ditempat seperti ini," tatap Pak Hendro sedih.
"Benar, Pak. Kasihan dia. Dia masih muda. Masa depannya masih panjang," imbuh Pak Dirun.
__ADS_1
"Segera periksa dan berikan P3K. Yang lain bersiaga, jika keadaan kritis, segera siapkan kendaraan atau panggil ambulance untuk membawanya," perintah Pak Hendro dengan panik.
..._-_-_...