
POV Author
"All teams in position. Jangan ada yang menyerang sebelum aku memberi aba-aba!" terdengar suara Lyra disetiap wireless earphone yang terpasang di telinga semua anggota tim DZ Badak.
"Bangsaadd!!. Serang mereka dan rebut kembali dua wanita itu!" perintah Broto nyaring kepada puluhan pengawal yang ada di belakangnya.
KRIKK
KRIKKK
Ada yang aneh. Semua pengawal itu tak ada yang bergerak sedikitpun.
"Ayo, seranggg!!" ulang Broto lagi.
Namun lagi-lagi para pengawal itu hanya diam tanpa merespon apa yang diperintahkan oleh Broto.
"Hehehe..kau memerintahku?" Lyra membuka penutup kepalanya, begitu juga dengan puluhan pengawal yang tadi hanya diam.
Nyaris bisa dipahami, puluhan pasukan berpenutup kepala itu ternyata adalah tim 5 yang dipimpin oleh Lyra beranggotakan tim Amsterdam yang bertampang bule-bule blasteran.
Melihat kondisi berubah drastis, dua orang kulit hitam yang mengapit Broto segera melesat membawa Broto pergi memasuki gedung.
Bukan hanya Broto dan anak buahnya, namun Alvian, Rani, Linda, juga puluhan pasukan Broto yang berada di bibir gedung ikut terkejut dengan kejadian tersebut.
"Se-sejak kapan kau disana, Kak?" Alvian tergagap.
"Semua tim, seranggg!!" teriak Lyra lantang pada semua anggota yang terhubung melalui wireless earphone.
Tim 5 segera berbalik badan dan kini saling berhadapan dengan puluhan anak buah Broto di bibir gedung. Baku hantam tak terhindarkan lagi. Belum sempat lawan mengatasi keterkejutannya, dari langit datang belasan helikopter yang menurunkan puluhan anggota tim 2 yang dipimpin oleh Deo.
Seketika, pertahanan puluhan pasukan lawan menjadi kocar-kacir kewer-kewer menerima serangan pasukan yang datang bagai air bah.
Hanya dalam hitungan menit, tim sudah berhasil melibas habis pasukan lawan di bibir gedung.
__ADS_1
"Aku mulai masuk dari belakang bersama tim utama. Tim 4 sebagai penembak runduk tolong lindungi kami. Tim 2 dan 5 bergerak masuk diikuti tim badak. Alvian dan Lyra, tolong buat pengaturan 10 orang yang aku atur kemarin. Bersiaplah menghadapi lawan yang lebih tangguh di dalam gedung!" instruksi Lintang dari wireless earphone.
Tim bergerak lincah memasuki gedung sesuai instruksi Lintang. Dibelakang mereka telah bersiap Lyra, Alvian, Deo, Pak Fuad, Jimmy, Yosi, Mukidi, Ronald, Damar, dan Wulan berjalan beriring dengan gagahnya.
Di dalam gedung telah menunggu puluhan anak buah Broto yang langsung bentrok dengan tim DZ Badak. Lyra dan komandan lainnya bergerak maju berniat membantu tim, namun berkelebat datang 10 orang menghadang mereka.
Lyra berlari menjauh mencari area yang lebih lapang diikuti seorang pria berkumis tebal.
"Mau lari kemana kau wanita sialann?!" sentak pria berkumis.
"Pantang bagiku lari dari manusia biadab seperti kalian. Hiaat!" Lyra menerjang cepat kearah pria berkumis menggunakan dua belati kebanggaannya.
Pria berkumis menyambut serangan Lyra dengan menyabetkan pedang dengan kecepatan tinggi yang kesemuanya mampu dihindari oleh Lyra dengan baik.
Pria berkumis sejenak mundur menarik napas. Sekian detik kemudian ia kembali berkelebat mengayunkan pedangnya.
"Tarian Pedang Neraka!" teriak pria berkumis merapal jurus pedangnya.
Lyra melakukan salto kebelakang beberapa kali untuk mengambil jarak. Dengan serius Lyra melemparkan satu belatinya ke arah perut lawan yang reflek langsung dihalau oleh pedang.
Namun itulah yang diinginkan Lyra, lemparan belati Lyra yang ke dua menyusul dan tepat mengenai punggung tangan pria berkumis yang menggenggam pedang.
TRANGG
Pedang lawan terhempas ke lantai akibat serangan belati Lyra.
"Keparatt!. Boleh juga kemampuanmu wanita jala-ng!" Pria berkumis sedikit merunduk untuk kembali meraih pedangnya.
"Hentikan niatmu, Pak Kumis!. Apakah kau takut bertarung tangan kosong melawan wanita?" cibir Lyra memantik emosi lawan.
"Bedebahh!!" Pria Kumis menghambur maju untuk melancarkan serangan tangan kosongnya.
PLAKKK
__ADS_1
PLAKK
PAKK
Pukulan dan tangkisan keduanya silih berganti mencari celah lemah dari pertahanan masing-masing.
Tubuh Lyra bergerak gemulai seperti seorang penari dalam meladeni setiap serangan Pak Kumis.
"Tapak Serigala Gurun!!" kembali Pria tersebut berteriak merapal jurus pukulan.
"Helehh. Terlalu banyak berkoar jurus tak jelas. Hupp.." Lyra berlari dan melompat tinggi.
Kepalan tangannya terbentuk di udara mengarah pada tempurung kepala Pak Kumis yang masih sibuk merangkai jurus.
PLEKK
Pukulan dari udara Lyra mampu ditahan sempurna oleh dua tangan Pak Kumis yang menyilang diatas kepalanya.
"Hahaha..." Lyra justru tertawa renyah.
PROKKK
Tiba-tiba tubuh Lyra yang hampir turun dari udara terlihat berputar kebelakang dengan cepat hingga kaki Lyra menyepak kuat wajah Pak Kumis. Lawan terpental seketika.
Tak berhenti disitu. Tubuh Lyra yang kembali mendarat di lantai segera meraih pedang Pak Kumis yang tergeletak tepat dibawah kaki Lyra.
CRASHHH
Ayunan pedang Lyra mencabik tubuh Pak Kumis yang masih terkapar akibat tendangan sebelumnya.
"Tarian Pedang Pembunuh Kecoak!!" ejek Lyra sambil mengamati Pak Kumis yang menggelepar-gelepar menyongsong maut.
..._-_-_...
__ADS_1