Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Heboh


__ADS_3

"Ma..Mamaaa," Lintang berlarian seperti kesurupan mencari Mamanya dan meninggalkan begitu saja Lyra diruang tamu.


Begitu menemukan Mamanya di dapur, Lintang langsung menarik lengan Mamanya. "Ma, ayo sini cepat ikuti Lintang!"


"Ada apa sih, dasar bocah aneh!" Rani berlari kecil mengikuti tarikan tangan Lintang hingga sampai diruang tamu.


"Mama disini dulu temani Lyra. Aku akan panggil Papa dan Wulan dulu. Eh Papa dimana ya, Ma?" Lintang terus saja bergerak dan berkata tanpa henti sehingga semakin membuat Mamanya pusing.


"Kau ini kenapa ishh!?. Cari aja sendiri sana ada dimana Papamu!" Rani hanya bisa mengomel melihat tingkah overdosis putranya.


"Pa..Pa..Papa, Papa dimanaaa?" Lintang berteriak-teriak memekakkan telinga dan berlari kesana kemari seperti kambing hendak melahirkan.


Melihat kelakuan Lintang, Lyra hanya bisa tertunduk malu. Pun begitu juga dengan Rani yang merasa malu kepada Lyra karena ulah anak sulungnya.


"Ada apa sih teriak-teriak?!" Bintang keluar dari kamar mandi dengan wajah heran melihat tingkah aneh Lintang.


"Pa, Papa sana ditunggu Mama diruang tamu. Buruaann!!. Lintang mau cari Wulan dulu!" rentetat kalimat dari mulut Lintang yang begitu nyaring seperti petasan semakin membuat Bintang bingung.


"Apa, Mas?. Aku lagi makan ni!" teriak Wulan dari ruang makan.


"Stop. Sudahi makanmu dan segera kumpul diruang tamu!. Ada hal super penting yang harus Mas sampaikan." Lintang berlari mendekati Wulan kemudian mengambil alih sendok yang dipegang Wulan.

__ADS_1


"Iiih, Mas. Apa-apaan sih pake ngerebut sendok Wulan segala!" rajuk Wulan.


"Iya makanya sanaaaa buruan keruang tamu adikku tersayang, terimut, terbawel, ter...ter apalagi dong?" Lintang malah sibuk mencari lanjutan kata untuk adiknya.


"Bodo." Wulan ngeloyor pergi menuju ruang tamu dengan langkah dihentak-hentakkan karena kesal pada kakaknya.


Ljntang kembali berlari ke ruang tamu setelah sejenak melahap sisa perkedel yang disisakan Wulan. Sudah barang tentu nanti Wulan akan marah melihat perkedel satu-satunya raib.


"Syukurlah semua sudah berkumpul. Terimakasih kepada Ma.."


"Udah buruan, ga usah pakai prakata. Keburu ikan dipenggorengan Mama gosong!" potong Rani tak sabaran.


"Kan ada chef dan yang lainnya didapur!" komplain Lintang merasa tak nyaman.


"Iya..iya. Lalu apa tujuanmu sampai mengumpulkan kami?" sorot mata Rani menunjukkan kejengkelan atas tingkah anaknya.


"Pa, Ma..Lintang minta dikawinin.." Lintang berucap dengan lugas saja seperti saat meminta restu Pak Joko.


"Kamu sakit, Nak?. Badanmu panas?. Kok ngomongnya ngelantur gini sih. Lyra, apa Lintang tadi kesambet jin ditaman samping?" Rani menunjukkan rasa herannya.


"Yee, Ma. Aku sehat wal'afiat. Tidak kurang suatu apapun. Yang bener aja, sama anaknya sendiri kok bicara yang tidak-tidak," cebik Lintang dengan pojok bibir atas terangkat sebagian.

__ADS_1


"Lalu kami harus ngomong apa lagi?. Bujang lapuk sepertimu tiba-tiba minta nikah. Emang kamu punya pacar? sejak kapan?. Mimpi kamu ya?!" imbuh Bintang sangsi.


"Jelas sudah dong. Tuh pacar Lintang," jawab Lintang sembari memberikan isyarat gerakan dagu kearah Lyra.


"Yang bener kamu?!" Rani menatap dengan tak percaya.


"Iya bener. Kami sudah pacaran sejak 6-7 menit yang lalu!" lanjut Lintang yang justru membuat keluarganya senewen.


"Hahaha, Mas Lintang..Mas Lintang. Mana ada jomblo tiba-tiba berubah jadi dewa cinta?. Kalau ngelucu itu yang logis kek!" Wulan menimpali.


"Benar Bu, Pak, Dek. Mas Lintang tidak bohong. Kami saling cinta," Lyra angkat bicara meluruskan ucapan Lintang yang semrawut.


"Yaa Allah. Alhamdulillahirabbil 'alamiin. Kalau Lyra yang ngomong, Mama baru percaya. Aduhh senengnya Mama dengernya," wajah Rani berubah sumringah.


Tak berucap, Bintang dan Wulan juga menunjukkan wajah yang teramat senang. Respon positif mereka membuat Lintang dan Lyra dapat bernapas lega.


"Tapi aku minta nikah secepatnya!" lanjut Lintang.


"Woo bocah semprul. Jangan ngawur kamu. Mau ditaruh dimana muka Mama dan Papa didepan Pak Joko. Kami perlu melamar Lyra secara resmi antar orangtua. Bukan jebrat-jebret seperti mulutmu itu!" omelan Rani kembali terdengar.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2