
POV Author
"Vian, ambil alih posisi kepala HRD untuk sementara waktu sambil menunggu kandidat yang tepat untuk mengisi kekosongan tersebut. Periksa data karyawan secara teliti dan lihat siapa saja yang waktu itu mengajukan ijin bersamaan dengan Liana." Lintang menginstruksikan tugas tambahan pada Alvian.
"Sudah kukerjakan kemarin. Muncul beberapa nama yang mencurigakan. Tim khusus sudah bergerak menyelidiki keterkaitan mereka dengan Liana. Yang paling mencurigakan adalah Satrio dan Yudha. Hingga hari ini mereka tidak masuk kerja tanpa kabar," Alvian menanggapi dengan antusias.
"Sellidiki rumah dua orang itu," imbuh Lintang dengan wajah geram.
"Baik bos," jawab Alvian patuh.
"Untuk sekarang, kumpulkan semua kepala bagian. Kita lakukan rapat tertutup untuk mengantisipasi efek masalah ini terhadap perusahaan!" sekali lagi Lintang memberikan instruksi.
"Aku tunggu di ruang meeting dalam 1 jam kedepan." imbuh Lintang sambil melangkah keluar meninggalkan ruang kerjanya.
Lintang melangkah menuju ruang meeting dengan menenteng tas laptopnya. Tatapan para karyawan mengiringi setiap langkah kakinya.
"Stt..si bos emang ganteng yah. Duh aku meleleh,"
"Kabarnya sih mau nikah sama kuli dari bagian gudang. Ishh apa ga salah tuh?, mau-maunya bos cakep sama cewek rendahan.."
"Main pelet kayaknya sih tuh kuli,"
"Jadi istri kedua, gue ga masalah sih hahaha. Udah ganteng, kaya. Ngidupin istri selusin juga ga bakal abis hartanya,"
"Si bos kok lebam-lebam gitu ya wajahnya?!. Siapa yang berani menyakiti pujaan gue?. Kurang azar!"
__ADS_1
"Gue malah lagi ngehalu kalau sedang satu ranjang ama dia, hahaha."
"Bang CEO, godain kita donk.."
Kasak-kusuk karyawan sepanjang koridor yang dilewati Lintang seperti tiada hentinya. Tak dapat dipungkiri, pesona seorang CEO tampan memang akan selalu menjadi idam-idamkan karyawan wanita.
--
Sore harinya..
"Masalah Liana anak si Broto itu sudah diproses pihak yang berwajib. Untuk sementara kita lupakan sejenak urusan dengan mereka. Namun kewaspadaan dan pengawalan tim khusus tetap jangan dilonggarkan femi keselamatan bersama," ucap Bintang saat berkumpul bersama Lintang, Lyra, Wulan, Alvian di kamar inap Linda.
Kondisi Linda kian membaik. Linda sudah segar kembali meski luka bekas operasi belum sepenuhnya mengering. Mereka hanya menunggu diperbolehkannya Linda untuk bisa pulang.
"Sambil terus memantau situasi dan menjalankan perusahaan, Papa mendapatkan tugas baru dari Negara. Disinyalir terjadi kegiatan perdagangan obat-obatan terlarang diwilayah negara kita. Kita diminta untuk menyelidiki lebih lanjut dan menangani sepenuhnya jika bersedia. Aku harap kalian bisa kembali bertugas. Lyra dan Linda aku terima sebagai bagian dari Tim DZ dan akan membantu tim," Bintang melanjutkan.
"Ok, Pa. Kami selalu siap." Lintang membuat lingkaran menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.
"Ehm, maaf. Ada baiknya saya dan Linda dibriefing ulang mengenai tim dan kinerjanya. Saya tidak ingin membuat kesalahan lagi yang berujung pada kesulitan tim," Lyra angkat bicara.
"Betul, Pak. Saya juga ingin pemanasan dulu. Sudah lama tidak menembak," imbuh Linda.
"Kalau ditembak perlu pemanasan tidak?" goda Lintang yang langsung dicolek pinggangnya oleh Alvian.
"Ahh, hahaha, auwwh. Itu sih tergantung penembaknya, Pak. Saya sebagai target lebih tepat jika diam agar tembakan tidak meleset," Linda melempar senyum dengan tertahan karena nyeri yang masih terasa di bagian luka bekas operasi.
__ADS_1
"Dek, Vian. Kode itu kodeee," Wulan menimpali sambil terkekeh.
"Kalian apaan sih," wajah Alvian memerah, begitu juga dengan Linda.
"Inikah.. tanda-tandanya bunga asmara..hehe," Lyra ikut menimpali dengan mencatut lirik lagu yang disukai salah satu teman Author.
HAHAHHA
Semua tersenyum melihat Alvian yang semakin salah tingkah.
"Eh tapi, rencana dan persiapan pernikahan kalian juga harus tetap jalan. Jangan hanya karena menerima misi baru, kemudian menunda acara yang lebih penting!" Bintang bergantian menatap wajah Lintang dan Lyra.
"Aku jadi punya ide seru," Lintang tersenyum penuh arti.
"Apa itu?" semua penasaran.
"Vian, buruan tembak Linda. Kayaknya seru nih kalau kita nikah masal seperti saran salah satu teman Author!" Lintang tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.
"Yaelah bos, jangan didepan orangnya dong kalau ngomong. Tengsin abis nih, hadoooh!" Alvian berlari keluar karena tak mampu menutupi rasa malunya.
"Interupsi. Kenapa dari tadi bahas teman Author terus sih?" Bintang menatap dengan curiga.
"Biar dapat vote, hahaha."
..._-_-_...
__ADS_1