Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Dewa-dewi 2


__ADS_3

Tak mau berspekulasi terlalu lama akibat pandangan kaget Lyra, Lintang mendorong mundur tubuh Lyra hingga terhempas diatas ranjang bertabur melati.


Lintang dengan cepat melakukan kombinasi bibir dan tangan untuk menstimulasi semua area yang seakan membius penglihatan.


Lyra terlonjak dari posisinya begitu merasakan sengatan demi sengatan listrik yang memantik impuls syaraf dari setiap jengkal tubuhnya yang di-inderai oleh Lintang dengan begitu kuat.


"Masssh.." suara Lyra tertahan tatkala kelembaban lorong misteri dieksplorasi menggunakan dua indera sekaligus.


Indera pengecap Lintang bekerjasama baik dengan indera peraba membuat hantaran sengat listrik semakin kuat menyentak tubuh Lyra.


"Sudhahh, Mass. Cepat lakukannh. Akhuu su-sudahh tak kuaat!" pohon Lyra memelas lagi menghiba.


"Kamu yakin kita mulai sekarang, Sayang?" Lintang sekali lagi memastikan kesanggupan Lyra.


"Ceppatth, Massh!" Lyra justru melotot sadis merasakan gejolak yang masih mengambang.


Lintang sigap menuruti apa yang dimaui istrinya. Mercusuar nan tegak menjulang ia rapatkan mendekati lorong ruang dan waktu Lyra.


Perlahan topi baja menyeruak gerbang kertasusila. Sayangnya, ia terhenti dan tertahan penjaga gerbang karena masalah ukuran.


Lintang tak hilang akal. Kembali ia meraih bibir pujaan hati untuk memberikan efek relaksasi. Tangan kekarnya juga kembali bermain dengan dua chocochip merah gelap merona.


Benar saja, meski Lintang baru mempelajari teorinya melalui gugling, cara tersebut cukup efektif dan membuahkan hasil gemilang. Perlahan centimeter demi centimeter benda itu kian melesak jauh mengarungi lorong ruang dan waktu. Ukuran tak menjadi masalah karena lorong misteri memiliki fleksibel tinggi.


"Hoohh," Mata Lyra terbuka lebar disusul desau suara yang tercekat di tenggorokan.


Hampir mendekati titik kulminasi, selembar tembok terbentang menghalangi langkah sang pejuang bertopi baja.


Lintang mendekati wajah Lyra. Dengan lembut mengecup mata dan kening belahan jiwa. Mata Lyra terpejam mengikuti gerakan bibir Lintang.


Dann..


"Hekkhh..Masssh!" Lyra menge-rang parau saat si topi baja menghentak masuk menerobos dinding penghalang.


Lintang sejenak berhenti menanti Lyra yang sedang didera rasa perih seperti terhujam belati. Sesaat menunggu, otot-otot dibawah sana mulai mampu beradaptasi menerima tamu bongsor yang memenuhi segala ruang tanpa tersisa. Sang topi baja dengan perlente menempel erat pada dinding rahim Lyra.


Lintang sedikit mencoba menggerakkan tubuh bawahnya. Kian lama Lintang menambah tempo permainan. Deras si ratu pelumas mempermudah kerja keras yang dibangun Lintang.


"Mashh asli..iinih gedhe shekahlii..Uhh shh," pikiran Lyra lepas kendali hingga mulut Lyra mera-cau bagai wanita sakauw.


Kembali mengingat teori yang dibaca saat gugling, Lintang menerapkan pola serangan 2-1 yang konon sangat legendaris bagi para dewa-dewi penghuni singgasana ranjang berderit.


2 Dorongan setengah lencang kanan disusul 1 dorongan penuh menjadikan Lyra kelimpungan menahan serangan. Kepalanya yang bersimbah peluh kini terlontar kekanan dan kiri akibat gedoran pejuang tangguh.


"Siapa yang kem-kemarin bilnghh pertempurrran ran-jangh itu mud-daah?!" sindir Lintang dengan suara tersengal.


"Ehmm Ehmm.."


Lyra tak mengindahkan kicau suara Lintang yang kini tak begitu penting bagi Lyra. Ia lebih sibuk alih profesi menjadi penjaga gawang agar tidak mudah dibobol lawan.


Namun Lyra salah, dia justru meminta dibobol berulangkali karena ternyata dibobol itu lebih nikmat daripada hanya sekedar dicocol.


"Massh Mashh..akuuh samphaii laggi.. ahhssh," entah sudah berapa kali Lyra mencapai puncaknya, namun si dewa mabuk masih juga belum menampakkan tanda-tanda akan muntah.

__ADS_1


Hentak demi hentak saling menyusul menuruti hasrat. Teriakan kecil Lyra menggema dalam gendang telinga Lintang membuatnya semakin terang-sang.


"Yabedabeduuu!!" teriak Lintang saat ia sudah tak mampu lagi menahan pancaran dirinya.


Keduanya terkapar lemas saat menunaikan semuanya. Pertemuan sang dewa-dewi terasa begitu bermakna dan membekas di jiwa.


Setelah beristirahat sejenak, mereka melakukannya lagi dan lagi hingga lupa bahwa hari telah berganti pagi. Deras hujan yang sepanjang malam mengguyur seluruh kota bahkan tak terasa dingin bagi mereka.


"Ehh ehh, Mas!" Lyra berteriak kaget saat tiba-tiba Lintang membopong tubuhnya menuju kamar mandi.


"Segera mandi. Imamnya mau ngajak jamaah subuh perdana!" bisik lembut Lintang di telinga Lyra.


Lyra tersipu karena lupa waktu akibat pengalaman pertama yang begitu menggebu-gebu.


"Boleh makmumnya sambil duduk, Mas?. Aku ga kuat berdiri. Perih sekali di bagian itu!" Lyra menyembunyikan wajahnya di selaksa dada Lintang karena sangat malu.


--


Pagi yang cerah


Senyum di bibir merah


Dari balik jendela


Sinar mentari lembut menyapa


Kita berdua


Yang tlah berpeluk mesra


Suasana jiwa insan bercinta


Ku tidur didalam pelukmu


Diantara rambut yang terurai


Dan degup di dada


Ku dengar kurasa


Membisikkan kata bahagia


Pagi yang terang


Berlalu tanpa kata


Hanyut kita berdua


Dalam lamunan malam pertama


Kau tidur didalam pelukku


Menetes air mata bahagia

__ADS_1


Kau berikan semua


Sepenuh jiwa


Dirimu cintamu


Dan segalanya untukku


Pagi yang cerah


Dan senyum di bibir merah


Sejuta rasa bahagia


Yang kau berikan


Tiada lagi


Yang dapat ku persembahkan


Hanyalah laguku ini


Sebagai ungkapan cintaku


Kau di dalam pelukku


Diantara rambut yang terurai


Ku berikan semua


Sepenuh jiwa


Diriku cintaku


Dan segalanya untukmu


Pagi yang cerah


Dan senyum di bibir merah


Sejuta rasa bahagia


Yang kau berikan


Jangan kau ragu


Kan segala yang terjadi


Setulus hati yang ada


Tlah ku berikan


(Malam pertama - Chrisye)

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2