
Tak mau berspekulasi terlalu lama akibat pandangan kaget Lyra, Lintang mendorong mundur tubuh Lyra hingga terhempas diatas ranjang bertabur melati.
Lintang dengan cepat melakukan kombinasi bibir dan tangan untuk menstimulasi semua area yang seakan membius penglihatan.
Lyra terlonjak dari posisinya begitu merasakan sengatan demi sengatan listrik yang memantik impuls syaraf dari setiap jengkal tubuhnya yang di-inderai oleh Lintang dengan begitu kuat.
"Masssh.." suara Lyra tertahan tatkala kelembaban lorong misteri dieksplorasi menggunakan dua indera sekaligus.
Indera pengecap Lintang bekerjasama baik dengan indera peraba membuat hantaran sengat listrik semakin kuat menyentak tubuh Lyra.
"Sudhahh, Mass. Cepat lakukannh. Akhuu su-sudahh tak kuaat!" pohon Lyra memelas lagi menghiba.
"Kamu yakin kita mulai sekarang, Sayang?" Lintang sekali lagi memastikan kesanggupan Lyra.
"Ceppatth, Massh!" Lyra justru melotot sadis merasakan gejolak yang masih mengambang.
Lintang sigap menuruti apa yang dimaui istrinya. Mercusuar nan tegak menjulang ia rapatkan mendekati lorong ruang dan waktu Lyra.
Perlahan topi baja menyeruak gerbang kertasusila. Sayangnya, ia terhenti dan tertahan penjaga gerbang karena masalah ukuran.
Lintang tak hilang akal. Kembali ia meraih bibir pujaan hati untuk memberikan efek relaksasi. Tangan kekarnya juga kembali bermain dengan dua chocochip merah gelap merona.
Benar saja, meski Lintang baru mempelajari teorinya melalui gugling, cara tersebut cukup efektif dan membuahkan hasil gemilang. Perlahan centimeter demi centimeter benda itu kian melesak jauh mengarungi lorong ruang dan waktu. Ukuran tak menjadi masalah karena lorong misteri memiliki fleksibel tinggi.
"Hoohh," Mata Lyra terbuka lebar disusul desau suara yang tercekat di tenggorokan.
Hampir mendekati titik kulminasi, selembar tembok terbentang menghalangi langkah sang pejuang bertopi baja.
Lintang mendekati wajah Lyra. Dengan lembut mengecup mata dan kening belahan jiwa. Mata Lyra terpejam mengikuti gerakan bibir Lintang.
Dann..
"Hekkhh..Masssh!" Lyra menge-rang parau saat si topi baja menghentak masuk menerobos dinding penghalang.
Lintang sejenak berhenti menanti Lyra yang sedang didera rasa perih seperti terhujam belati. Sesaat menunggu, otot-otot dibawah sana mulai mampu beradaptasi menerima tamu bongsor yang memenuhi segala ruang tanpa tersisa. Sang topi baja dengan perlente menempel erat pada dinding rahim Lyra.
Lintang sedikit mencoba menggerakkan tubuh bawahnya. Kian lama Lintang menambah tempo permainan. Deras si ratu pelumas mempermudah kerja keras yang dibangun Lintang.
"Mashh asli..iinih gedhe shekahlii..Uhh shh," pikiran Lyra lepas kendali hingga mulut Lyra mera-cau bagai wanita sakauw.
Kembali mengingat teori yang dibaca saat gugling, Lintang menerapkan pola serangan 2-1 yang konon sangat legendaris bagi para dewa-dewi penghuni singgasana ranjang berderit.
2 Dorongan setengah lencang kanan disusul 1 dorongan penuh menjadikan Lyra kelimpungan menahan serangan. Kepalanya yang bersimbah peluh kini terlontar kekanan dan kiri akibat gedoran pejuang tangguh.
"Siapa yang kem-kemarin bilnghh pertempurrran ran-jangh itu mud-daah?!" sindir Lintang dengan suara tersengal.
"Ehmm Ehmm.."
Lyra tak mengindahkan kicau suara Lintang yang kini tak begitu penting bagi Lyra. Ia lebih sibuk alih profesi menjadi penjaga gawang agar tidak mudah dibobol lawan.
Namun Lyra salah, dia justru meminta dibobol berulangkali karena ternyata dibobol itu lebih nikmat daripada hanya sekedar dicocol.
"Massh Mashh..akuuh samphaii laggi.. ahhssh," entah sudah berapa kali Lyra mencapai puncaknya, namun si dewa mabuk masih juga belum menampakkan tanda-tanda akan muntah.
__ADS_1
Hentak demi hentak saling menyusul menuruti hasrat. Teriakan kecil Lyra menggema dalam gendang telinga Lintang membuatnya semakin terang-sang.
"Yabedabeduuu!!" teriak Lintang saat ia sudah tak mampu lagi menahan pancaran dirinya.
Keduanya terkapar lemas saat menunaikan semuanya. Pertemuan sang dewa-dewi terasa begitu bermakna dan membekas di jiwa.
Setelah beristirahat sejenak, mereka melakukannya lagi dan lagi hingga lupa bahwa hari telah berganti pagi. Deras hujan yang sepanjang malam mengguyur seluruh kota bahkan tak terasa dingin bagi mereka.
"Ehh ehh, Mas!" Lyra berteriak kaget saat tiba-tiba Lintang membopong tubuhnya menuju kamar mandi.
"Segera mandi. Imamnya mau ngajak jamaah subuh perdana!" bisik lembut Lintang di telinga Lyra.
Lyra tersipu karena lupa waktu akibat pengalaman pertama yang begitu menggebu-gebu.
"Boleh makmumnya sambil duduk, Mas?. Aku ga kuat berdiri. Perih sekali di bagian itu!" Lyra menyembunyikan wajahnya di selaksa dada Lintang karena sangat malu.
--
Pagi yang cerah
Senyum di bibir merah
Dari balik jendela
Sinar mentari lembut menyapa
Kita berdua
Yang tlah berpeluk mesra
Suasana jiwa insan bercinta
Ku tidur didalam pelukmu
Diantara rambut yang terurai
Dan degup di dada
Ku dengar kurasa
Membisikkan kata bahagia
Pagi yang terang
Berlalu tanpa kata
Hanyut kita berdua
Dalam lamunan malam pertama
Kau tidur didalam pelukku
Menetes air mata bahagia
__ADS_1
Kau berikan semua
Sepenuh jiwa
Dirimu cintamu
Dan segalanya untukku
Pagi yang cerah
Dan senyum di bibir merah
Sejuta rasa bahagia
Yang kau berikan
Tiada lagi
Yang dapat ku persembahkan
Hanyalah laguku ini
Sebagai ungkapan cintaku
Kau di dalam pelukku
Diantara rambut yang terurai
Ku berikan semua
Sepenuh jiwa
Diriku cintaku
Dan segalanya untukmu
Pagi yang cerah
Dan senyum di bibir merah
Sejuta rasa bahagia
Yang kau berikan
Jangan kau ragu
Kan segala yang terjadi
Setulus hati yang ada
Tlah ku berikan
(Malam pertama - Chrisye)
__ADS_1
..._-_-_...