
POV Lyra
Kondisi sudah cukup genting. Ini adalah hari kedua sejak hilangnya Mas Lintang. Aku segera mengadakan pertemuan darurat. Aku, Alvian, dan Linda berkumpul diruang kerja Mas Lintang untuk melakukan pembahasan. Sebenarnya kami juga memerlukan kehadiran Bu Liana sebagai staf senior dan juga sangat menguasai psikologis karyawan. Namun sayangnya Bu Liana dikabarkan mengalami musibah dan sekarang sedang menjalani operasi usus buntu. Pak Bintang juga bersikeras untuk ikut dalam pertemuan, namun Alvian berusaha menenangkannya. Alvian tak ingin tubuh tua pamannya itu semakin rapuh karena memikirkan hal ini.
"Bagaimana rencana kita selanjutnya?" Alvian membuka pembicaraan saat kami berkumpul.
"Sebaiknya kita memperluas area pelacakan. Kemungkinan Mas Lintang dibawa ke luarkota agar aman," kuuraikan pendapat.
"Sebaiknya rencana penyelamatan Bos ini kau yang pimpin saja, Kak. Secara naluri aku yakin kemampuan beladirimu jauh lebih peka daripada kami. Dan lagi, ikatan batin kalian sudah cukup erat," Alvian memandangku dengan tatapan serius.
"Ok. Sebelumnya aku perlu bertanya. Tim apa yang kita miliki?" coba kutanyakan detail tim karena terus terang aku masih buta mengenai kekuatan sebenarnya dari Bintang Group.
"Kita memiliki tim khusus beranggotakan ratusan personel. Mereka dipimpin oleh 3 Komandan. Tim khusus ini memiliki keahlian dalam pelacakan, pengintaian, penyelidikan, penyergapan, dan evakuasi. Pelacakan, pengintaian, penyelidikan, berikut IT dipimpin oleh Deo. Tim serang dipimpin oleh Lukman. Bagian evakuasi dan kebutuhan klinis dipimpin oleh Pedro. Tim dibekali dengan peralatan tempur personal lengkap. Tim juga di back up oleh pihak berwenang." Terang Alvian.
"Dek Vian dan Linda apa memiliki keahlian beladiri?" lanjutku.
"Aku dulu adalah atlet karate," jawab Alvian.
"Gue ga memiliki keahlian beladiri. Tapi gue pernah ikut club menembak saat masih di bangku sekolah," Linda ikut menjawab.
"Apa kita memiliki markas khusus?" aku terus bertanya.
__ADS_1
"Ada. Dibawah rumahku adalah basement khusus yang memang didesain Bos Lintang sebagai tempat tim khusus berkumpul," ujar Alvian.
"Ok. Kumpulkan tim khusus dan alihkan pertemuan kita di markas. Disini terlalu terbuka tempatnya untuk mengkoordinir tim," aku mulai memberi instruksi.
"Dek Vian, ehmm..kenapa kita memiliki tim khusus yang cukup lengkap?" sebuah pikiran menggelayut dipikiran.
Sejujurnya aku sempat curiga bahwa itu adalah tim mafia seperti yang diceritakan Linda.
"Baiklah. Karena kalian sekarang adalah bagian dari inti, maka aku akan sampaikan rahasia sesungguhnya. Memang perusahaan kita cukup banyak dan berkembang baik. Namun sebenarnya, semua itu hanyalah kamuflase. Tidak sepenuhnya kamuflase sih, karena perusahaan juga bergerak riil. Dibelakang itu semua, kami adalah agen rahasia swasta bernama DZ atau Double Zero. Kami menangani kasus-kasus khusus sebagai partner negara. Beberapa negara lain juga menggunakan jasa kami." Aku kali ini benar-benar tercengang dengan penjelasan Alvian.
"Kepala Agen adalah Bos Bintang. Beliau adalah mantan tentara yang keluar dari kesatuan karena alasan khusus. Bos Bintang berada dibelakang layar dan selalu diwakili oleh Bos Lintang dan Bos Wulan yang bergerak di lapangan. Bos Wulan saat ini bertugas menyamar di lingkungan kampus dan muda-mudi. Aku adalah Kepala markas. Sedangkan Deo, Lukman, dan Pedro adalah agen utama kami. Dan memang Bos Bintang memerintahkan untuk Kak Lyra memimpin misi ini karena ingin melihat kemampuan Kak Lyra. Kondisi genting seperti ini sudah biasa bagi kami. Kami yakin Bos Lintang bisa menjaga diri," penjelasan diakhiri oleh Alvian dengan iringan mulutku yang menganga, begitu juga dengan Linda.
--
"Baiklah, Tim. Untuk sementara waktu tampuk pimpinan tim saya ambil alih. Silahkan laporkan informasi terkini," kami sudah berkumpul di markas untuk membicarakan rencana lebih lanjut.
"Pelacakan belum menemukan titik terang. rekaman CCTV di area kejadian seperti ada yang sengaja menghapus," Deo sebagai komandan tim pelacakan angkat bicara.
"Apa sudah ada koordinasi dengan pihak yang berwajib?" kejarku.
"Sudah. Dan kami sama-sama dalam proses pencarian sambil terus berkomunikasi mengabarkan informasi terbaru," jawab Deo.
__ADS_1
"Apa ada solusi lainnya?" aku masih belum puas dengan jawaban Deo.
"Kami masih menunggu sinyal yang dikirim Pak Lintang. Pak Lintang dan Pak Alvian memiliki tombol khusus dikalungnya jika menghadapi bahaya. Kemungkinan Pak Lintang masih kesulitan menggunakan tombol itu sekarang," imbuh Deo.
"Selain pelacakan regular, harapan kita hanya pada tombol..."
"Pak Deo, Pak!" belum selesai aku berucap, kalimatku terpotong oleh suara anggota tim yang memanggil Deo.
"Pak, anggota tim di batas kota sempat melihat van hitam dengan ciri-ciri seperti yang disampaikan tukang parkir resto!" teriak anggota tim tersebut.
"Kita kesana. Bagi tim menjadi 3 bagian. Tim pertama akan bersama saya dan Pak Alvian sebagai ujung tombak. Tim kedua adalah tim bayangan yang akan mendukung tim pertama saat bergerak sekaligus tempat dimana tim pelacak dan IT berada. Tolong jaga jarak aman agar tidak mencurigakan. Tim ketiga bersama Linda akan bertindak sebagai tim pelindung dan penembak jarak jauh,"
"Aktifkan juga pelacakan pada CCTV di area batas kota," aku dengan cepat mengatur komposisi tim.
"Kalian tahu kenapa aku mengatur ini secara serius?" kupandang Alvian, Linda, dan Deo secara bergantian.
"Karena lu ahlinya," jawab Linda asal.
"Agar tidak keduluan pihak berwajib?" Alvian menambahi.
"Khawatir Pak Lintang kenapa-napa?" Deo ikut berbicara.
__ADS_1
"Bukan ituuu. Mas Lintang adalah CEO besar. Hanya pihak dengan level tinggi yang akan berani menculiknya,"
..._-_-_...