
POV Author
"Suara apa ini ribut-ribut?!" Bintang bersungut keluar dari kamarnya.
"Ini, Mama..." belum selesai Rani berucap sudah dipotong oleh Riana.
"Mama apa?. Rani, kamu ingin menyalahkan Mama juga?" Riana mendelik galak.
"Ada apa sebenarnya?, Lyra mana, Ma?. Bukannya tadi dia disini sama Mama?" Bintang menjadi berkerut keningnya.
"Kamu itu. Mertua datang bukannya disapa, malah mencari wanita itu. Seisi rumah ini sepertinya sudah terbius bujuk rayunya!" Riana menatap tajam kearah Bintang.
"Apa maksud perkataan Mama?" kejar Bintang tak puas mendengar ucapan pedas mertuanya.
"Kamu sebagai kepala rumah tangga kenapa tidak selektif dalam memilih calon menantu?. Anak orang miskin, bahkan dia itu kuli lho kulii, kenapa masih kau perbolehkan berhubungan dengan Lintang?. Dimana harga dirimu sebagai seorang konglomerat besar di negara ini?. Yah memang dulu kamu miskin kemudian sukses, tapi tidak sembarang orang bisa seperti kamu. Anggap saja kesuksesanmu adalah faktor keberuntungan. Lalu kau hambur-hamburkan keberuntunganmu untuk memberi harapan keberuntungan bagi kuli itu. Aku tak setuju. Yang udik biar saja tetap udik. Kemewahan tidak cocok untuk dia!" Riana seolah berpidato.
__ADS_1
"Helehh, lagu lama. Kenapa sih dia datang di saat seperti ini?" gumam Bintang gusar.
"Mama tidak berhak mengatakan seperti itu!" sinis Bintang.
"Lho tentu saja aku berhak. Lintang itu cucuku, dia keturunanku. Darahku mengalir dalam tubuhnya. Aku tak rela darahku bercampur dengan darah orang susah!" Riana tak terima.
"Akupun tak berhak mengintervensi pikiran Lintang. Yang berhak memilih pasangan hidupnya hanya Lintang sendiri. Kita sebagai orangtua hanya mengarahkan. Dan lagi, ada apa dengan Lyra?, dia pribadi yang baik. Apa yang salah?" Bintang semakin menanjak emosinya.
"Kesalahannya sudah jelas kan?!. Karena dia miskin!" cibir Riana.
"Siapa juga yang ingin miskin, Ma?. Miskin atau kaya itu jalan hidup. Bukan sebuah kesalahan. Roda itu terus berputar, Ma. Suatu saat yang miskin bisa saja menjadi kaya, dan yang kaya bisa jadi kelak miskin. Dengan menyalahkan bahwa dia miskin maka sama juga Mama menyalahkan Allah yang telah mengatur rizki setiap mahkluk-Nya." Bintang sudah tak bisa menahan lagi gejolak emosinya.
"Sudah ya, Pa, Ma. Jangan ribut-ribut lagi. aku pusing!" Rani memijit keningnya.
"Silahkan tenangkan Lintang jika kalian mampu. Mamamu itu sudah melukai Lintang dan Lyra!" desis Bintang sangat kesal.
__ADS_1
"Tenang saja. Lintang urusanku. Aku juga sudah memiliki calon berkelas untuk Lintang," teriak Riana sambil terus melangkah memasuki kamar.
"Lyra kemana, Ma?" bisik Bintang pada Rani.
"Lyra pergi. Pak Joko secara tak sengaja mendengar hinaan Mama Riana tadi. Pak Joko sangat marah. Hikss..Bahkan dia membatalkan rencana pernikahan Lintang dan Lyra, Pa!" Rani sudah tak mampu membendung airmatanya untuk mengalir.
"Aduhh. Mamamu selalu bikin masalah!" Bintang terduduk lesu.
"Apa yang harus kita sampaikan kepada Lintang nanti, Pa?. Lalu nasib Pak Joko dan Lyra bagaimana?, mereka pergi begitu saja tanpa membawa selembarpun pakaian. Mau tidur dimana mereka?" pikiran Rani begitu kalut.
"Kita harus menceritakan semuanya pada Lintang. Kasihan sekali Lintang. Baru sekali mengenal wanita, namun malah dia menuai petaka. Meski kita mampu menikahkan mereka tanpa sepengetahuan Mama, kita tetap akan kesulitan meredakan amarah Pak Joko. Aku sangat tahu bagaimana rasanya dihina dan dicaci-maki. Lagipula kita tidak tahu Lyra dan Pak Joko ada dimana.." Bintang sangat frustasi.
"Lebih baik kita segera hubungi Lintang agar segera pulang. Kalau bisa secepatnya kita harus menemukan Pak Joko dan Lyra. Percuma saja menuruti kemauan Mamamu yang tidak jelas itu," lanjut Bintang.
"Sejujurnya aku juga tidak suka dengan ucapan Mama, seolah dia itu paling bertanggungjawab pada keadaanku. Sejak balita aku hanya diasuh oleh Papaku meski Papa sambil kerja. Bayangkan, Pa..seorang CEO kerja sambil momong anak!. Mama mana pernah merawatku seperti Mama-mama pada umumnya. Mama hanya sibuk mengejar mimpinya menjadi gadis sampul di ibukota. Dia hanya pulang sebulan sekali, itupun hanya satu hingga dua jam. Kemudian dia datang lagi saat kita akan menikah dan berbicara seolah ucapannya yang paling benar. Kenyataannya, dia hanya kembali pulang saat Papa meninggal untuk meminta bagian warisan, lalu pergi untuk menikah dengan bule itu. Apakah seperti itu yang disebut keluarga terhormat serta bisa dihargai orang-orang?!" Rani sesenggukan menahan tangisnya begitu mengimbas kisah lama.
__ADS_1
"Lepaskan tangismu, jangan kau tahan. Lepaskan semua agar kau lega, dan kemudian bisa tersenyum. Kamu jangan bersedih, sayang. Aku selalu ada bersamamu." Bintang mengelus lembut punggung Rani.
..._-_-_...