
POV Author
Masih di kota Suretown, Lyra dan Linda menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke Plaza terbesar di kota itu, Tunjangan Plaza, ditemani oleh Naya sebagai tuan rumah. Namanya wanita, sebuah kelumrahan jika tertarik untuk berjalan-jalan dan sedikit shopping-shopping cantik jika singgah di suatu kota.
Satu yang tak diketahui oleh Lyra dan Linda bahwa Plaza tersebut adalah milik keluarga Naya. Tak berniat sombong, Naya hanya diam tanpa perlu menjelaskan tentang kepemilikannya.
"Masyarakat di kota ini ternyata cukup konsumtif yah. Tuh lihat toko roti dan toko handphone saja sampai penuh antrian pembeli. Tiap lantai plaza juga terlihat banyak pengunjungnya. Bersyukur bagi pemiliknya jika apa yang mereka miliki menjadi tempat yang disukai penduduknya," Lyra berdecak kagum pada selera para penduduk kota terbesar ke dua di negara Incon tersebut.
"Bagaimana kalau kalian lihat-lihat tas disana?. Tempat tersebut terkenal memiliki merek-merek yang berkualitas namun selalu memiliki program diskon setiap bulannya," Naya menggandeng Lyra dan Linda menggunakan kedua tangannya.
Banyak mata pengunjung plaza yang memandangi kecantikan ketiganya tanpa berkedip. Bukan tanpa alasan, Naya yang memang mantan primadona kampus dengan segala kelebihan ala barbie, Lyra yang begitu cantik dengan balutan pakaian muslimahnya, dan Linda yang terlihat cantik dan matang lengkap dengan pancaran aura sen-sualitas, mereka sungguh membuat mata lapar banyak pria seolah dimanjakan.
"Cewek-cewek cakep, ga bawa monyetnya pula. Patut dicicipin, haha.." bisik seorang pria staf manajemen bernama Johan kepada beberapa teman-temannya yang saat itu sedang menikmati makan siang bersama di sebuah restoran fast food.
"Pantau saja dulu, bro. Ini wilayah kita!" sambut salah satu temannya.
"Bawa ke gudang atas. Setelah selesai, kasih uang, kelar. Hahaha," timpal yang lainnya.
"Kita tunggu saja sampai mereka jalan ke atas mendekati lantai gudang, baru kita bertindak. Biar hemat tenaga buat asek-asek di gudang, hehe.." senyum licik terpancar dari rona muka Johan.
__ADS_1
Naya dan Linda tak menyadari bahwa gerak-geriknya sedari tadi selalu diamati oleh beberapa pria berdasi. Namun insting Lyra yang sangat peka sudah mengetahuinya. Hanya saja ia memilih tak mempedulikannya.
"Kita makan dulu di food court lantai atas, setelah itu kita nonton bioskop. Gimana?" Naya tampak sangat antusias menemani sahabat-sahabat barunya.
"Diatur saja gimana baiknya. Kami tak mengenal daerah sini. Kamu yang lebih tahu, sayang. Jadi ya, kami akan ikut saja apa kata tuan rumah," Lyra tersenyum manis ke arah Naya.
"Sebenarnya sih gue pengen nyobain Mie Pangsit Kotamadya yang terkenal itu. Tapi mungkin besok saja deh bareng Kak Vian. Sekarang yang penting kenyang dulu. Sudah laper tingkat nasional ini perut gue.." Linda ikut menanggapi.
Ketiganya sibuk menikmati makanan di food court lantai atas dari Plaza tersebut tanpa tahu bahwa Johan Cs telah merencanakan suatu yang keji terhadap mereka. Meski Lyra sebelumnya sempat waspada, namun ia tak berpikir terlalu jauh pada kemungkinan pelecehan atau sejenisnya.
"Wah gila, Lontong Balap itu segini enaknya. Baru sekali ini gue makan yang model beginian.." cerocos Linda dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Tahu Thek ini juga enak, Lin. Ehmh, kalau di Jackcity 11-12 sama ketoprak. Tapi yang ini berasa banget khasnya," Lyra juga merasa sangat menikmati menu yang ia pesan.
"Ehmm yangh imi guga enagh," Linda beralih mencomot sebuah Kue Rangin setelah dengan kecepatan super menghabiskan Lontong Balap hingga habis tandas.
"Haha. Ditelan dulu baru ngomong atuh, say. Itu namanya Rangin, atau didaerah lain bernama Serabi Grantol. Bahan dasarnya tepung dan parutan kelapa. Semacam Kue Pukis versi gurih asin.
"Sebulan di Suretown, bisa borong celana nih karena BB naik drastis, wkwkwkwk." Linda tergelak demi mendapati semangat makannya yang menggila tatkala disuguhkan menu-menu baru nan menggugah selera.
__ADS_1
Selesai menikmati kudapan yang bikin perut ambyar, mereka kembali meniti eskalator menuju lantai teratas dimana gedung bioskop berada. Lantai atas hanya terdiri dari bioskop dan beberapa ruang kosong yang belum disewa oleh tenant. Disamping itu ada juga gudang peralatan.
Bertiga mereka menyusuri lorong sepi menuju Bioskop. Namun tiba-tiba, "Hi, gadis-gadis ranum. Sendirian aja nih ga bawa monyetnya?!" Johan muncul bersama 5 temannya dari balik lorong yang masih berjarak beberapa belas meter lagi dari Bioskop.
"Kita ber enam. Setiap orang bisa dapet 2 tunggangan nih, Hahaha.." lanjut satu pria lainnya.
"Bangsadd!. Jaga ucapanmu!" Linda yang paling temperamental diantara ketiganya spontan menghardik Johan Cs.
"Ush ush ush. Galak bener, Hahaha. Aku pilih dia. Aku suka cewek yang galak. Kalau digen-jot bakal berisik ah-uh!" Johan menyunggingkan senyum iblis.
"Ohh dilihat dari logo di saku kanan, kalian pasti para staff manajemen gedung!" Desis Naya terpancing begitu melihat para staff plaza miliknya sendiri telah berulah bejad.
Naya memang jarang muncul di kantor plaza. Angga dan Tuan Leo yang lebih banyak mengambil peran dalam berbagai pekerjaan dan meminta Naya untuk lebih fokus berkegiatan di kantor utama.
"Iya, kami memang staff disini. Tapi aku tahu yang kalian inginkan untuk tutup mulut. Ini kan?!" Johan dengan pongahnya mengeluarkan segepok uang berwarna biru.
"Heii..apa yang kalian lakukan disana?" Johan terhenyak dan menoleh kearah suara itu berasal.
"Jangan ikut campur!!" Johan membentak marah.
__ADS_1
"Jangan ikut campur, ndasmu!. Gue Authornya. Ayo cut dulu, Bro. Kita lanjut ke bab berikutnya!"
..._-_-_...