Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Ulah CEO


__ADS_3

"Lyra!. Fresh banget kayaknya. Lu abis menang lotre?" sapa Yudha sok perhatian.


Sungguh janggal. Yudha ini staff administrasi gudang yang sebelumnya paling tidak care sama aku. Aku tahu banget, setiap bertemu pandang, yang ada hanya tatapan merendahkan dan meremehkan. Tapi why sekarang kok tiba-tiba ramah lingkungan begitu yah?.


Eh sebentar. Yudha staff administrasi gudang. Berarti..


Lindaaa!!!


Dasar corong speaker. Pasti dia yang sudah melakukan jumpa pers hahaha. Maksudnya, dia pasti yang sudah cerita ke orang-orang tentang aksi individuku didepan CEO. Ga masalah sih kalau dia cerita-cerita, toh emang aku keren aksinya hahaii. Tapi kalau kebanyakan goreng dan terlalu banyak bumbu micinnya, pendengar bisa keracunan. Contohnya seperti Yudha tadi itu yang sepertinya mengalami keracunan stadium akhir.


"Eh..Lyra. Lyra!" aku tak menggubris sapaan Yudha dan terus melangkah.


Aku tetap mengikuti kebiasaan Yudha sehari-hari. Tidak menyapa, seolah tidak kenal. Oh ya sudah, aku juga ga kenal. Ga kenal kok nyapa-nyapa. Kalau aku ladeni, maka aku yang tidak konsisten, iya kan?


Beberapa menit kemudian aku sudah mulai sibuk memanggil karung terigu seperti biasa. Pada putaran ke 5, eh ada Pak Satrio memandu para kuli. Namun, ia membuang muka saat melihatku. Ditelapak tangannya terbalut perban tebal.


"Lyra," seorang pria memanggilku, dan ternyata Pak Zein.


"Segera berganti pakaian, kau dioanggil HRD di kantor pusat," ucap Pak Zein dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Aku tahu Pak. Anda pasti khawatir terseret masalah lagi setiap kali aku dipanggil ke kantor pusat hehe.


--


Melelahkan dan menyebalkan. Entah kenapa, setiap kali aku dipanggil ke kantor pusat, aku selalu merasa bosan dan tidak nyaman.


Aku lebih nyaman beraktivitas perkulian dengan segala kebebasanku, dibanding harus bersopan santun ria dengan pentolan-pentolan perusahaan. Itu justru menyiksaku.


TOK


TOKKK


Kuketuk pintu ruang HRD dengan rasa malas.


"Lyra. Saya adalah Bu Liana, kepala bagian HRD." Ucap Bu Liana memperkenalkan diri.


"Saya sudah tahu ibu saat dulu tanda tangan surat kesepakatan kerja. Mungkin ibu yang tidak mengenal saya. Ehm..saya dipanggil HRD karena masalah apa bu ya?" ujarku berusaha sesopan mungkin.


"Maafkan Ibu. Kau akan dipindahtugaskan. Ini perintah langsung dari CEO kita," wajahnya menunjukkan rasa serba salah.

__ADS_1


"Saya tidak masalah, Bu. Bagi saya, dimana saya ditempatkan, maka disitulah letak rizki saya." Aku tersenyum tulus.


"Tapi ini berbeda, Lyra. Sejujurnya, aku tak sampai hati untuk menyampaikannya," Bu Liana menatapku tanpa berkedip.


"Disampaikan saja, Bu. Saya siap mendengarnya," aku meyakinkannya.


"Lyra. Kau dipindah ke bagian Konstruksi Gedung. Tugasmu sebagai kuli disana. Mengaduk semen, dan membantu semua kebutuhan tim tukang." Seketika wajah Bu Liana menjadi buruk.


Sebagai sesama wanita, aku tahu jika dia merasa tak tega. Namun tugas tetaplah tugas. Dia hanya dituntut untuk mengatur komposisi karyawan.


"Ooh cuma itu. Saya siap, Bu." Aku kembali tersenyum.


"Cuma itu kau bilang?" Bu Liana ternganga.


"Bu. Sejak saya menjadi kuli panggul diperusahaan ini, saya sudah menyiapkan mental dan fisik dengan baik. Saya sudah bersiap dari jauh-jauh hari untuk menerima apapun pekerjaan yang diberikan. Sekasar dan seberat apapun itu. Dan lagi, Bu. Mengaduk semen atau menjadi kuli bangunan, bagi saya jauh lebih ringan daripada saya sebagai kuli panggul," ungkapku panjang lebar.


"Bagus, Lyra. Saya bangga denganmu. Meski ada sedikit rasa tidak rela, tapi ibu yakin kau mampu. Ibu bisa melihat binar mata kesungguhan dari setiap tatapanmu. Datanglah pada ibu jika kau merasa berat, atau sekedar ingin berkeluh kesah. Simpan nomer kontak ibu, kita bisa menjadi sahabat." Senyum penuh ketulusan tersungging dari bibir Bu Liana.


Selepas aku keluar dari ruangan Bu Liana, kusempatkan untuk mampir sejenak dikantin perusahaan untuk sekedar meminum es dan istirahat.

__ADS_1


Sebenarnya aku tak masalah jika harus bekerja sebagai kuli bangunan. Memang bagi lain, bekerja sebagai kuli bangunan adalah pekerjaan yang berat dan rendah. Tapi memang itulah yang diinginkan CEO kejam itu. Dia ingin membuatku tidak betah bekerja dan akhirnya mengundurkan diri. Aku adalah batu rintangan bagi setiap peraturan perusahaan yang tidak masuk akal. Hehe tapi dia salah memilih lawan. Sudah kubilang sejak awal, niatku adalah bekerja dan mencari penghasilan untuk hidupku bersama Bapak. Pasang saja rintangannya, aku siap menghadapinya.


..._-_-_...


__ADS_2