Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Patah


__ADS_3

POV Author


Pagi yang indah dan penuh semangat. Lyra sedang berada di kantor pusat untuk membantu pekerjaan Lintang. Urusan asisten kini sepenuhnya dipegang oleh Lyra karena Alvian lebih fokus pada pekerjaan barunya sebagi wakil CEO. Tak hanya Lintang, Alvian pun selalu sibuk berbagi tugas dalam pengelolaan Bintang group. Perusahaan milik Bintang group yang dibantu Alvian sebagai wakil CEO bernama Bintang Terang Timur (BTT) yang bergerak dibidang produksi segala bahan kue mulai dari berbagai Tepung, Keju, Dark Compoun Chocolate (DCC), Emulsifier, Instant yeast (Ragi Instan), Margarine, dan masih banyak bahan kue lainnya.


BTT adalah Perusahaan utama yang langsung dipegang oleh Lintang disamping berbagai Perusahaan lainnya yang memang sudah didelegasikan pada orang-orang terpercaya.


"Sayang, selepas istirahat makan siang kita off dulu. Aku mau ajak kamu kesuatu tempat," Lintang sudah tak sungkan-sungkan lagi memanggil Lyra dengan sebutan 'sayang'.


"Mau kemana emangnya, Mas?" tanya Lyra penasaran.


"Ada deh. Yang jelas, kamu pasti suka!" Lintang mengerlingkan mata.


Memang kesibukan misi DZ sedang ditunda. Misi terbaru yang sebelumnya telah melibatkan Lyra dalam penyamaran, sementara waktu diundur sesuai permintaan pemberi project. Informasi yang ada menyebutkan bahwa Negara sedang menggodok pasal-pasal penyempurna untuk menghilangkan kerancuan dari pasal sebelumnya. Praktis kegiatan DZ menjadi longgar untuk beberapa saat.


Waktu yang ada akhirnya kembali digunakan Lintang dan Lyra untuk melanjutkan persiapan pernikahan dan berkasih mesra.


"Jauh banget Mas. Ini kapan sampainya?" Lyra menggeliat dari kursi saat ia dan Lintang melaju berdua menggunakan mobil menuju luarkota.

__ADS_1


Sesuai permintaan Bintang, kini kemanapun Lintang dan Lyra pergi selalu dipantau tim khusus menggunakan mobil lain untuk menghindari terjadinya masalah seperti sebelumnya, meskipun hanya dipantau dari jarak aman agar privasi dua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu tak terganggu.


"Iya, sabar. Sebentar lagi sampai," hibur Lintang sambil terkekeh memandang bibir Lyra yang manyun.


"Sabar sampai kapan?, sudah hampir 3 jam dijalan. Ini pantat sudah berasa tebel dan panas tau ga?!" Lura sudah menuju ke taraf bimoli (bibir monyong lima senti) karena saking betenya.


"Sejak kapan pendekar kita jadi manja gini sih?. 3 Jam angkat karung terigu sanggup, eh 3 jam duduk manis di mobil kok ga betah..Hahaha," suara tawa Lintang menyeruak memenuhi mobil.


"Ishh, Mas. Jangan ngeledekin terus dong ah. Lagian ya, beda lah panggul karung kan dipundak, nah ini yang pegel pantatnyaaa!" Lyra mendelik sewot.


"Yaudah, duduknya pakai pundak aja, hehe." Lintang masih terus saja menggoda.


AUWWH


Lintang merintih galau saat tahu-tahu siku Lura sudah merojok paha Lintang dengan keras. Belum selesai disitu, bogem mentah Lyra menyusul dengan menghantam bahu kekasihnya.


"Aduhh..ampun. Sakittt!" Lintang terkaing-kaing.

__ADS_1


"Situ yang manja. Baru segitu aja udah K.O!" cebik Lyra masih dengan wajah sewot.


"Bukannya manjaaa. Itu siku kamu meleset kena tongkat macanku. Ngilu, mules tauu!!" Lintang tak terima jika dikatakan manja.


"Bodo," Lyra justru melengos.


"Ampun dah punya cewek ahli beladiri. Belum naik pelaminan udah ngesot paling aku nanti.." desah Lintang dengan wajah pilu merasakan mules yang tak juga hilang.


"Ga boleh bilang gitu, omongan adalah doa. Ngomong yang baik-baik!" tegur Lyra tak suka dengan candaan Lintang.


"Nah ini nasib si Otong tongkat macan gimana?. Kalau sampai patah tulang emang kamu mau ngupil pake jari bengkok?" Lintang menakut-nakuti.


"Eh ya jangan dong. Belum juga nyicipin..Upss," wajah Lyra langsung menyemu merah saat kelepasan bicara.


"Ya gimana lagi hayo, udah terlanjur patah masa mau di sambung lagi?!. Coba gih kamu lihat ini patah engga!" Lintang kembali berulah.


"Mas Lintaaaang!!"

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2