Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Usia berpengaruh


__ADS_3

POV Author


"Lintang mana, Ma?" Bintang menyembul diantara kesibukan Rani membantu para pembantu di dapur.


"Ada tuh di belakang, barusan bikin kopi.." Rani tetap sibuk mengaduk nasi goreng sambil menjawab pertanyaan Bintang.


"Tolong suruh nemui aku di ruang kerja," pinta Bintang kemudian berlalu pergi menuju ruang kerja.


Tak lama Bintang menunggu, Lintang menyusul masuk ke dalam ruang kerja.


"Duduklah. Papa ingin ngobrol empat mata sama kamu," ucap Bintang saat Lintang usai menutup kembali pintu ruangan.


"Ada apa, Pa?" Lintang mengerutkan kening.


"Hemm. Lintang, tolong nasehat Papa ini dicerna dengan baik." ujar Bintang setelah menghela napas.


Lintang hanya mengangguk patuh.

__ADS_1


"Kamu itu sudah dewasa. Sudah mendekati 30 tahun. Tolong lebih tenang dan dewasa dalam menghadapi problematika baik itu dalam lingkup pekerjaan, maupun kehidupan secara keseluruhan,"


"Mengenai kejadian perginya Lyra. Papa juga merasa kehilangan. Tapi sebagai seorang pria dan seorang CEO, kamu dituntun untuk berlaku bijak dan tangguh. Jangan melempem seperti kerupuk disiram air."


"Maksudnya, Pa?"


"Kamu itu jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu jadi malas bekerja, lihat tubuh dan rambutmu yang tak terurus itu. Ya kalau mau sedih, boleh sedih. Tapi simpan dalam hati. Sosok CEO harus bisa memanipulasi penampilan agar selalu terlihat smart dan elegan. Itu adalah prestige yang harus dijaga."


"Iya, Pa." Lintang menunduk.


"Bangkit dan berlarilah!" pungkas Bintang.


"Akan aku coba, Pak." Lintang tersenyum.


"Ini bukan waktunya coba-coba. Lakukan secara all-out!" tekan Bintang.


"Iya, Pa. Aku akan bangkit." Semangat Lintang tercambuk.

__ADS_1


"Papa juga pernah diposisi seumuranmu. Namun pengalaman hidup dan usia berpengaruh. Papa bisa menasehati, karena Papa usianya lebih tua daripada kamu. Papa lebih dulu menghadapi problematika sebelum kamu mengenal problematika. Papa sudah makan nasi disaat kamu masih makan bubur. Papa sudah kenal pahitnya kopi ketika kamu masih merasakan nikmatnya susu. Papa sudah pernah terjungkal dan tersandung saat kamu masih dalam gendongan. Papa sudah pernah menangis dalam sujud tatkala kamu baru belajar sholat. Kau mengerti maksud Papa?" suara Bintang langsung masuk mengisi sanubari Lintang yang kerontang.


"Iya, Pa. Lintang akhirnya paham sekarang." wajah kurus itu berubah cerah.


"Bagus!!. Lakukan dan selesaikan. Cicipi pahitnya kopi dan kau akan tahu apa itu kenikmatan hidup," kepuasan tergambar dari wajah Bintang saat melihat Lintang yang mampu merespon dengan baik segala nasehatnya.


"Oya, Pa. Oma bikin ulah lagi, ternyata calon yang ditawarkan ke aku itu adalah Liana. Oma sudah ikut campur terlalu dalam." ucap Lintang serius.


"Woy Bung Lintang. Itu kan sudah kau ceritakan kemarin saat di markas. Bangun woy, hahaha."


Lintang tersenyum malu. Bahkan ia kini menjadi pelupa karena pengaruh kekalutannya.


"Oma akau Papa pulangkan ke London. Besok akan Langsung Papa belikan tiket pesawat tanpa memberi tahu sebelumnya. Terlalu lama dia disini malah semakin mengacaukan aktifitas kita. Ya tak dapat dipungkiri bahwa dia adalah orangtua dari Mama. Tapi yang tua belum tentu bisa dianggap baik jika nyatanya memberikan efek yang buruk bagi orang-orang disekitarnya." Ujar Bintang yang kemudian berdiri dan mengajak Lintang keluar dari ruang kerja.


"Ooh Liana ya..Yess, aku jadi punya ide, hehe." Lintang terlihat tersenyum sendiri.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2