
POV Lyra
Hari ini seperti hari kemarin, aku tidak jadi memanggul barang seperti hari-hari sebelumnya. Berbeda dengan kemarin karena ada acara ulang tahun perusahaan, pagi ini aku harus kembali ke kantor pusat untuk memenuhi panggilan. Hal ini sungguh mengganggu pikiranku. Bahkan Kepala bagian gudangpun juga tak tahu alasan tentang dipanggilnya aku ke kantor pusat. Aku sempat berpikir keterkaitan dengan kejadian Pak Satrio tadi malam. Namun sepertinya iti sangat kecil kemungkinannya mengingat Pak Satrio Cs berada pada pihak yang bersalah.
Aku melangkah menuju meja resepsionis dan menyebutkan nama Pak Alvian sebagai orang yang telah memanggilku.
"Kamu langsung saja naik menggunakan lift ke lantai 21. Ruangan Pak Alvian berada tepat diseberang pintu lift lantai 21," ucap resepsionis dengan tatapan yang kurang bersahabat.
Siapakah Pak Alvian ini sampai-sampai resepsionis terlihat sewot saat aku dipanggil?. Apakah dia pemilik perusahaan ini?.
Dengan segala pertanyaan yang berkecamuk didalam kepala, aku melangkah mengikuti arahan yang disampaikan resepsionis tadi.
TOK TOK
TOKK..
"Silahkan masuk.." terdengar suara dari dalam ruangan.
Pelan aku melangkah masuk dengan kepala tertunduk.
"Kamu Lyranova?" tanya seorang pria dari balik meja.
__ADS_1
"Benar, Pak."
"Ok. Silahkan duduk." Ucap pria dihadapanku dengan datar.
Pria itu sangat tampan. Sebagai wanita normal di usia yang sedang mekar-mekarnya tentu aku tak menampik tentang ketertarikan pada lawan jenis. Usianya mungkin belum mencapai 30 tahun.
"Haloo..Lyra. Duduklah!" pria itu mengulangi kalimatnya hingga aku tersadar dari lamunan yang dipenuhi hasrat jiwa muda.
"Ohh iya, Pak. Maaf," segera kulempar buah pantat ke kursi yang tepat berada didepan meja.
"Kau tau apa alasan dipanggil kesini?" pria itu bertanya.
"Maaf saya tidak tahu, Pak." Jawabku jujur.
"Ada hal yang perlu disampaikan padamu. Tapi Bapak CEO sendiri nanti yang akan menyampaikannya langsung padamu."
Apa? Bapak CEO?
"Ja-jadi Bapak bukan CEO-nya?" tanyaku polos.
"Apa maksudmu?. Jangan-jangan kau belum pernah tahu siapa aku dan siapa CEO kita?" suara Pak Alvian sedikit meninggi, aku semakin menunduk malu.
__ADS_1
"Saya baru tahu nama Pak Alvian tadi pagi saat memanggil saya. Da-dan S..sa-saya juga tidak tahu nama CEO perusahaan ini," aku merasa sangat malu.
"Aduh Lyraaa..Lyra. Bagaimana kau bisa bekerja namun kau tak mengetahui siapa pimpinanmu sendiri!" Pak Alvian memijit keningnya.
"Ya sudahlah. Sekarang kau ikut aku untuk menghadap pimpinan." Pak Alvian berdiri dan melangkah meninggalkan ruangannya.
Dalam kondisi genting seperti ini, bisa-bisanya aku malah membayangkan bagaimana wajah CEO nanti. Jika Pak Alvian saja sudah sedemikian keren, apalagi CEO-nya. Hatiku justru semakin gembira. Aku memang aneh.
"Pesanku, saat nanti kau bertemu pimpinan, jangan terlalu banyak bicara. Pak Lintang bukan tipe yang terlalu suka basa-basi. Diam dan jawab singkat ketika ditanya,"
"Satu lagi, jangan sampai kau membantah apa yang diperintahkan Pak Lintang. Melawan CEO berarti kau siap hengkang dari perusahaan ini. Apa kau mengerti?"
"Lyra..apa kau mendengar apa yang aku katakan?"
"Aku tersentak kaget saat Pak Alvian memanggil namaku. Aku terlalu sibuk berselancar dalam lamunanku, dan aku tak mendengar sedikitpun perkataan pria yang tengah berjalan disampingku tersebut.
"I-iiya, Pak." Aku tergagap menjawab sekenanya.
Mampiuslah aku. Apa yang telah ia katakan tadi?
..._-_-_...
__ADS_1