
POV Author
3 bulan berikutnya..
Suasana hati, pikiran, dan aktifitas Keluarga Besar Bintang sudah kembali stabil setelah melewati masalah yang ditimbulkan oleh Liana, Ambarsari, juga Wiwik. Ketiganya telah diproses secara hukum dan sekarang telah mendekam dalam sel tahanan wanita.
Sayangnya, pimpinan tertinggi mereka yakni Frans John berhasil melarikan diri tanpa mempedulikan ketiga wanita yang telah mendukungnya. Dengan menghilangnya dalang utama ditunjang dengan telah meninggalnya dalang kedua yakni Broto selang setahun saat dulu bertemu Bintang, praktis tak ada lagi yang bisa menjadi terdakwa. Untuk sementara waktu kasus terpaksa ditangguhkan.
Pembelanjaan bahan kue, terutama tepung dari perusahaan Frans sudah dihentikan Lintang bulan lalu setelah mengetahui sosok sebenarnya dari Frans. Ditambah lagi, tampuk pimpinan ABF Company yang mengimpor bahan tersebut juga telah kabur.
Untuk Perusahaan gula juga sudah mulai stabil dibawah pengelolaan dari Lyra dan Linda. Saat ini, Dahlia sebagai asisten Lyra sudah lebih dari cukup untuk mewakili aktivitas sehari-hari disana.
"Semua Perusahaan Alhamdulillah berjalan stabil dalam pantauan. Mungkin sekarang saatnya kita membahas acara penting berikutnya," tegas Bintang memimpin rapat DZ.
Namun yang sedikit berbeda dari yang biasanya, terlihat Rani juga hadir disana.
"Acara penting?" Lintang heran karena tak pernah mendengar sebelumnya jika ada pembahasan acara penting setelah pernikahannya dengan Lyra.
"Ya, acara penting yang harus disegerakan agar tujuan kami segera tercapai!" Rani mulai menampakkan wajah misterius.
__ADS_1
"Arrghh. Ini pasti bahasan minta cucu lagi deh kayaknya!" Lintang menjambak rambutnya sendiri.
"Maaf, Pa. Kami sudah berusaha. Hanya belum diberikan Kepercayaan dari Allah untuk mendidik anak. InsyaAllah kedepannya semoga dimudahkan," Lyra menjadi yang paling tak enak hati karena rahimnya lah tumpuan harapan keluarga berada.
"Sentimentil sekali kalian itu. Kami tahu jika kalian sudah berusaha. Kami tak akan melawan kehendak Allah," cebik Bintang.
"Lalu, acara penting apalagi, Pa?" kejar Lintang frustasi karena melihat wajah orangtuanya yang seperti buku TTS.
Sejenak Bintang dan Rani terdiam, kemudian mengedarkan pandang, "Kami menagih cucu dari Alvian dan Linda!" sudut bibir Bintang terangkat.
Semua pria yang hadir disana spontan menepuk kening bersama-sama, "Capek deeeh.." keluh Lintang bersahutan dengan yang lain.
"Lho kan aku belum nikah, Om. Gimana mau ngasih cucu?!" Alvian tolah-toleh sok polos.
"Aww Aduh ampun Ibu surii!!"
"Apa kau bilang?, Ibu suri?!!" menjewer semakin keras.
"Ampun aduduuh maksudku Budhe, aduuh..tante. Bu Boss ampunnn!!" Alvian meringis kesakitan dengan telinga merah akut.
__ADS_1
"Buruan nikahi Linda!" bentak Rani kesal.
"Iya Tante Boss..iya aduhh sakiitt.." Alvian benar-benar tak berkutik oleh aksi penyiksaan Rani.
"Alvian, Papa Mama kamu sudah berpesan dan menitipkanmu padaku sebelum peristiwa na'as pesawat kala itu. Mungkin mereka sudah memiliki firasat sebelumnya, sehingga sengaja tak mengajakmu dan meninggalkanmu di rumah. Jadi bagaimanapun juga, sekarang akulah pengganti Papamu!" suara Bintang terdengar berat dan bergetar.
"Dan aku adalah pengganti Mamamu!" Rani mengendurkan jewerannya.
"Aku adalah pengganti kakakmu!" Lintang nimbrung.
"Aku juga kakakmu," Lyra tak mau kalah.
"Jadi, buruan nikahhh!!" bentak semuanya bersama-sama.
"I-iya aku paham kok. Sejujurnya aku sudah lelah menjadi playboy. Aku harap Linda ini yang terakhir bagiku," Alvian berkata tulus.
"Ya sudah, bulan depan kau nikahi dia. Bersama dengan Lintang yang perlu memperbarui nikahnya agar mendapatkan surat resmi!" perintah Bintang tanpa bisa diganggu gugat.
"Tidak perlu perbarui nikah sih, Pa. Hanya perlu mencatatkan saja secara resmi ke KUA dilengkapi berkas dari Pak Ustadz," ucap Lintang meluruskan.
__ADS_1
"Lyra, sekarang gantian kau temani Linda fitting baju ke butik kita. Kau juga ikut fitting baju. Meski tak memperbarui nikah, aku ingin kalian ikut dirayakan agar diketahui umum dan tidak menjadi gunjingan!" pungkas Ibu suri.
..._-_-_...