Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Aspirasi


__ADS_3

"Baiklah. Terserah kalian saja. Silahkan Pak Zein melanjutkan penjelasannya yang tadi sempat terpotong.." Lyra membenarkan Wulan, masalah Perusahaan jauh lebih penting daripada hanya berpusing-pusing dengan kata panggilan.


"Ada masalah dengan gaji kami, Bu. Dalam 2 bulan terakhir ini, gaji yang masuk ke rekening hanya sepertiganya saja. Pada slip gaji juga tidak ada penjelasan tentang pemotongan itu. Bahkan ada beberapa orang yang tidak menerima transfer gaji sama sekali selama 2 bulan ini," Pak Zein mencoba menjelaskan duduk permasalahannya.


"Apa kalian sudah mencoba berkomunikasi dengan divisi keuangan sebelum mengambil langkah mogok kerja?" kejar Lyra.


"Pihak keuangan hanya menjanjikan akan memberi kabar lebih lanjut dan menampung aspirasi kami. Namun nyatanya, hingga mendekati bulan ke 3 tetap tidak ada tindak lanjutnya. Kami juga berusaha menyampaikan uneg-uneg melalui staf HRD yang membawahi permasalahan penggajian, namun jawabannya tak jauh beda dengan staf keuangan," Bu Sukma selaku kepala bagian kebersihan ikut memberikan keterangan.


"Ok. Sebentar.." Lyra menggantung kalimatnya dan meraih handphone untuk menghubungi seseorang.


"Dek Alvian, selain arus kas transaksi, tolong periksa juga laporan penggajian. Selain itu, minta Deo untuk berkoordinasinya dengan Mas Lintang tentang alur pengirim dan penerima laporan sistem penggajian antara divisi keuangan dan divisi HRD!" semua yang hadir cukup tercengang melihat kemampuan Lyra yang begitu terampil menangani permasalahan yang ada.


"Baik, Kak. Tolong juga dibantu pengumpulan data dari penerima gaji jika ada permasalahan penggajian," jawab Alvian dari seberang telepon sebelum mengakhiri pembicaraannya dengan Lyra.


"Ada kendala lain selain bab penggajian yang juga membawa pengaruh pada aksi mogok kerja kalian?" pandangan tegas Lyra beralih kembali pada Pak Zein.


"Hanya itu, Bu. Selama ini kami selalu setia dan bahkan berterima kasih karena menerima standar gaji yang lebih tinggi daripada perusahaan lainnya," Pak Zein menundukkan kepala.

__ADS_1


"Baik. Masalah penggajian ini akan saya tangani secara serius. Saya pribadi sebagai teman lama kalian yang akan menjamin terselesaikannya urusan ini. Saya harap teman-teman bisa memandang saya untuk menghentikan aksi ini!" Lyra menyapukan pandang pada seluruh yang hadir di gudang 3, tempat dimana dulu Lyra ikut membangun dan mengalami kecelakaan kerja.


"Kalau Dek Lyra sendiri yang ngomong seperti ini, saya adalah orang pertama yang akan patuh. Sejak awal kerja dulu, Dek Lyra adalah pribadi yang baik dan berkomitmen tinggi. Secara kekeluargaan, saya sangat simpatik pada Dek Lyra!" Pak Dirun berdiri dari duduknya dengan penuh keyakinan.


"Saya juga akan mengikuti Bu Lyra." Pak Zein tak mau kalah.


"Saya juga,"


"Saya setuju,"


"Ikutt!"


"Manut."


"Ok, Bu."


"Emakk!!"

__ADS_1


"Air air air, mijon, kacang, telor asiiiin!"


Lyra dan Wulan saling memandang dengan bahagia. Semakin lama mereka semakin terpingkal-pingkal melihat kekocakan para kuli yang sudah putus urat malunya.


--


"Kepada semua, selesaikan semua penyelidikan dan laporan. Dalam 2 hari kedepan kita akan kembali berkumpul bersama untuk mendiskusikan hasil tim masing-masing." Lintang menulis pesan pada grup chat.


"Ok, Bos." jawab Alvian dan Deo hampir bersamaan.


"Siap Misuakuh tersayurrr😘," Lyra ikut menjawab.


"Kumenangissss. Bete banget tau ga. Dirumah mulu itu sangat menjemukan!" Linda meradang.


"Mari kita segera selesaikan. Setelah itu kita akan nobar Power Ranger terbaru 😝😜," ledek Wulan tertuju pada Lintang langsung.


"Dek, sudahlah.." potong Deo tak enak hati.

__ADS_1


"Kaliannnn!!!" serentak Lintang, Lyra, Linda, dan Alvian mem-bully calon pasangan ter-vanas yang mulai terang-terangan melakukan aksi kemesraan terselubung mereka.


..._-_-_...


__ADS_2