Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Pertempuran


__ADS_3

POV Author


Liana bergerak cepat menaiki Helikopter yang sudah menunggu. Dibelakangnya terlihat Lyra dan Orang kulit hitam berlari mengejar.


Merasa tak bisa mendahului Lyra, orang kulit hitam berhenti dan siap menembak Lyra.


"Lyra dalam bahaya!" teriak Alvian yang terlambat bereaksi karena masih disibukkan dengan orang kulit hitam lainnya.


Alvian dan orang kulit hitam nampak bertarung dengan sengit, meski demikian kemampuan karate Alvian terlihat mendominasi. Di sekitar posisi Alvian juga terlihat anggota tim khusus yang masih berkelahi dengan pengawal lawan.


"Lyra, serahkan padaku!" Linda berteriak melalui wireless.


Posisi Linda cukup leluasa. Linda segera mengunci target orang kulit hitam yang sudah mengarahkan senjata ke punggung Lyra. Jemari Linda bersiap menarik pelatuk. Namun..


DARRR


Dinding atap tepat disamping Linda bergetar sesaat. Debu berhamburan menerpa wajah Linda.


"Ada penembak runduk lain yang mengetahui posisi Linda!" teriak tim 2 yang bertugas sebagai operator.


Alvian terhenyak. Wajahnya terlihat mengeras diliputi kekalutan memikirkan Lyra dan Linda yang kini dalam bahaya. Belum lagi Alvian juga masih sibuk mengatasi gempuran orang kulit hitam yang terus menyerang.


"Runduk 2, kau dimana?!. Lindungi Runduk 1!" bentak Alvian mulai frustasi.


Beberapa saat menunggu, namun tak ada jawaban dari Runduk 2.


"Pak Vian fokus hadapi lawan dulu. Biar tim 2 yang mengambil alih. Runduk 2..Runduk 2, are you there?" Operator dari tim 2 mencoba mengatasi keadaan.

__ADS_1


"Gawat. Tim 3 lainnya, segera naik ke gedung Runduk 1 dan Runduk 2!" Operator cepat memberikan instruksi saat merasa curiga dengan kondisi Runduk 2 yang tidak ada respon.


DARR


"Ahhh!!" Linda mengerang, darah mengalir dari dadanya yang tertembak.


Tubuh dara cantik itu luruh ke lantai dan tak sadarkan diri.


DARR


ZLAPP


Disisi lain, Lyra mampu merespon keadaan. Dengan berguling Lyra melemparkan belati kecil kearah pria kulit hitam yang telah menrkan pelatuk senjata namun hanya menembak ruang kosong.


Dalam hitungan detik, Pria itu sudah terkapar dengan belati menancap tepat di dada kirinya. Lyra bergegas bangun dan kembali mengejar Liana.


"Lindaa..bertahanlah!" lirih Alvian sambil terus berlari menuju gedung dimana Linda berada.


"Jangan gegabah. Gedung Runduk 1 masih dalam incaran penembak jarak jauh lawan," cegah operator saat mengetahui jika Alvian berlari ke arah gedung tersebut.


Sejenak Alvian berhenti dan mengamati sekeliling. Pandangannya tertuju pada gedung dimana Runduk 2 berada. Alvian segera memutar langkah untuk menuju ke gedung Runduk 2 sebagai satu-satunya gedung tinggi selain gedung yang ditempati Linda.


"Tim 3, evakuasi Linda dengan hati-hati. Aku akan membantu tim 3 yang memasuki gedung 2," ucap Alvian sambil terus berlari memasuki gedung 2.


DORR


DORR

__ADS_1


Benar saja, tim 3 ternyata sedang beradu senjata dengan 3 penembak lawan yang telah melumpukkan Runduk 2.


Desir peluru seolah meminta darah sasarannya. Alvian menyelinap memasuki gedung dengan perlindungan dari tim 3.


BUKK


Alvian berhasil melumpuhkan satu lawan yang berdiri bebas disamping sebuah meja sebagai tamengnya. Tersisa 2 penembak lagi yang masih bertahan.


DORR


DORRR


BLUKK..


Tiba-tiba dua penembak yang tersisa itu terkapar terkena tembakan fatal. Alvian tergagap.


"Ishh Dek, kenapa ga ngajak-ngajak!" Wulan muncul dan pura-pura cemberut.


Alvian segera bisa bernapas dengan lega saat tahu bahwa penembak misterius itu adalah Wulan.


"Hei, tungguu!" teriak Lyra ketika Helikopter yang dinaiki Liana mengudara.


"Perempuan rendahannn. Hari ini aku kalah, tunggu pembalasanku!" mata Liana menatap bengis.


"Kembalilah menuntut balas, dan neraka menantimu!" balas Lyra tak kalah keras.


..._-_-_...

__ADS_1


__ADS_2