
Linda yang mendengar kabar kejadian kecelakaan kerja di gudang 3 spontan tersulut amarahnya. Tanpa menunda waktu, ia cepat berlari menuju gudang 3.
Pun begitu pada Alvian yang menerima kabar melalui panggilan telepon dari Pak Hendro. Dengan panik ia segera meluncur ke lokasi pembangunan tanpa mengabarkan kepada Lintang yang masih bertemu klien diluar kantor.
"Dasar CEO sialan. Apa sih maunya?. Gara-gara Lyra dipindah kerja akhirnya terjadi seperti ini. Akan gue damprat habis CEO itu jika Lyra sampai kenapa-napa. Bodo amat kalau gue sampai dipecat. Lu udah keterlaluan, Bos!" batin Linda sambil terus berlari tanpa mempedulikan sepatu high heels nya yang berulangkali tersandung tanah berbatu.
Dilain tempat terlihat Alvian memacu mobilnya menuju gudang 3
"Haduh si bos, beneran kejadian kan hal yang aku khawatirkan?!. Lagian kenapa sih dia keras kepala banget jadi orang. Kalau sudah begini, siapa yang repot nantinya?, pasti aku lagi aku lagi," batin Alvian dengan perasaan campur aduk.
--
Di dalam gudang 3
"Luka dilenganmu cukup banyak. Sementara sudah kami bersihkan dan dibalut perban. Tapi itu tidak cukup. Perlu ada pelayanan medis lebih lanjut. Sebaiknya kau kami antar ke rumah sakit," ucap Pak Hendro iba.
"Tidak perlu, Pak. Saya akan ke klinik sendiri nanti sore selepas kerja. Saya tidak mau bolos kerja," tampik Lyra.
"Jangan keras kepala. Lukamu itu banyak, sebagian juga cukup dalam dan perlu jahitan. Belum lagi sepertinya bahumu terkilir. Kau harud segera dibawa kerumah sakit!" tegur Pak Dirun sedikit keras.
"Lyraaa..lu kenapa?" Linda berlari memasuki bangunan dan kemudian berjongkok mendekati Lyra.
__ADS_1
"Linda. Aku tak apa-apa," Lyra mencoba tersenyum tipis dalam posisi tidur diatas selembar kain bekas banner yang lusuh.
"Dia tertimpa reruntuhan bata, Bu. Sementara kami sudah melakukan P3K. Tapi dia harus segera dilarikan kerumah sakit," ucap Pak Hendro.
"Tapi Lyra tidak mau berangkat, Bu!" timpal Pak Karjo kesal.
"Lyra..lu jangan begitu!" bentak Linda ikut kesal.
"Aku ga mau bolos, Lin." Lyra tetap menolak.
"Lu ga bolos, tapi sakit. Ga ada yang ngelarang lu ijin kerja karena sakit!" lanjut Linda.
"Aku ga boleh bolong kerja. Aku ga mau ditegur Pak Lintang," Lyra masih bersikeras.
"Tidak, Lin. Nih lihat, aku ga apa-apa kan?" Lyra mendadak berdiri seolah dia masih kuat.
Namun tak menunggu lama tiba-tiba..
BRUKK..
Lyra jatuh dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Lyraaa!!" teriak Linda Panik.
"Ada apa ini?" Alvian menerobos masuk.
"Nanti saya jelaskan, Pak. Sekarang cepat bawa Lyra kerumah sakit!" teriak Linda diamini anggukan semua orang.
"Ayo cepat bantu saya membawa tubuh Lyra ke mobil. Kamu Bu Linda dan Pak Hendro, ikut saya kerumah sakit!" instruksi Alvian dengan cepat.
Tanpa dikomando untuk keduakalinya, semua bergerak cepat membawa tubuh Lyra yang sudah tak sadarkan diri.
--
Lyra segera ditangani oleh paramedis begitu mereka tiba dirumah sakit 'Bintang Medika' milik Bintang Group.
"Lyra, semoga lu ga kenapa-napa. Yaa Allah, Selamatkanlah Lyra," Linda menangis tersedu.
Sedikit jauh dari tempat Linda, terlihat Alvian sedang serius berbicara dengan Pak Hendro. Tak berapa lama kemudian terlihat Pak Hendro berlalu keluar dari rumah sakit.
"Bu Linda, bisa kita bicara sebentar?" Alvian menghampiri tempat dimana Linda duduk.
"Iya, tapi nanti saja dilanjut pada episode berikutnya!" potong Author sigap.
__ADS_1
..._-_-_...