Kuli Idaman CEO

Kuli Idaman CEO
Seperti mimpi


__ADS_3

POV Author


Lintang segera mengumpulkan Pak Fuad, Pak Zul, dan Bu Dasri untuk rapat secara mendadak. Disamping Lintang terlihat Lyra yang menatap semua semua wajah dengan malu-malu.


"Om, tante. Lyranova ini adalah calon istriku. Kami memang menghadapi permasalahan beberapa saat ini. Namun syukurlah Allah telah mempertemukan kami kembali," Lintang mengawali pembicaraan.


"Iya, Nak. Joko dan Lyra sudah menceritakan semua tentang masalah mereka. Hanya saja saya tidak tahu jika keluarga yang dimaksud Joko adalah keluarga Bos Bintang," sambut Pak Zul yang notabene adalah sahabat Pak Joko.


"Selanjutnya. Saya akan menyerahkan pengelolaan pabrik ini kepada Lyra. Secara langsung Lyra adalah perpanjangan tangan dari Papa dan Saya. Status pabrik akan saya perbarui menjadi perusahaan pemroduksi gula berskala besar. Pak Fuad, Pak Zul, dan Bu Dasri yang akan menjadi dewan penasehat. Apakah kalian semua setuju jika Lyra saya angkat menjadi CEO di perusahaan ini?" Lintang menatap wajah masing-masing yang serempak mengangguk setuju.


"Beberapa kandidat yang tadi saya interview juga akan ditempatkan mengisi beberapa divisi yang akan dibentuk oleh Lyra. Mungkin beberapa hari kedepan perlu kita lakukan peremajaan gedung dan juga menambah beberapa bangunan untuk menunjang kinerja perusahaan," sosok pemimpin muda yang tegas benar-benar tercermin dari setiap kalimat yang diucapkan Lintang.

__ADS_1


"Baik, Nak. Kami sangat senang dengan perkembangan baik ini. InsyaAllah sepenuhnya kami akan mendukung," Pak Fuad merasa demikian terbantu dengan kehadiran Lintang disana.


"Baiklah. Mengenai pengaturan perusahaan akan kita bicarakan lagi nanti. Dan sekarang saya ingin minta bantuannya untuk keperluan pribadi saya.." Lintang memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya.


"Saya minta Pak Fuad dan Pak Zul, menyiapkan pernikahan saya besok dengan Lyra disini. Dan saya serahkan urusan konsumsi kepada Bu Dasri. Tak perlu meriah. Saya hanya perlu akad nikah berjalan baik dengan disaksikan keluarga dan beberapa sahabat terdekat. Mengenai kelegalan surat nikah akan saya urus menyusul," Lintang menatap wajah cantik Lyra dengan mata berbinar.


Ketiga nya sejenak kaget, namun dengan cepat bisa memaklumi. Terlebih Pak Zul yang terlihat sangat bahagia karena mampu menunaikan amanah sahabatnya.


Tak hanya di lingkungan pabrik, Bintang dan Rani juga dibuat kelabakan oleh Lintang. Mereka bersegera terbang menggunakan Helikopter lainnya dengan membawa Alvian dan Linda. Mereka tak ingin terlewatkan dari acara super penting bagi Lintang dan Lyra.


Dalam sekejap, pabrik tua sudah disulap sedemikian rupa menjadi sebuah tempat pertemuan yang dipenuhi aneka dekorasi. Meski Lintang berpesan untuk tidak terlalu mewah, namun antusiasme mereka menjadikan segala sesuatu yang dipersiapkan menjadi sangat istimewa.

__ADS_1


Lintang juga sudah memesan hotel terbaik dikota itu sebagai tempat tinggal sementara baginya dan keluarga.


"Mas, ini semua seperti mimpi. Allah memang Maha Pengatur atas segalanya. Baru saja aku merasakan kesedihan menjadi orang yang sebatang kara. Namun secepat itu pula Allah menggantinya dengan kegembiraan yang tiada tara," ungkap Lyra saat duduk berdua di lobi hotel sambil menunggu Helikopter Bintang mendarat.


"Siapa yang bakal menyangka, bisa menemukanmu di kota kecil seperti ini... Namun, tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Jika Allah Berkehendak terjadi, maka terjadilah." balas Lintang.


"Ini beneran mas, kita akan menikah besok?" Lyra menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Tentu saja benar. Kesedihan dan kebahagiaan itu hanya dibedakan dalam sebuah garis yang tipis. Akupun merasa seperti mimpi. Bisa memperistri gadis secantik dan sebaik kamu adalah anugerah," mereka saling menatap satu sama lain dengan perasaan cinta yang meluap-luap.


"Permisi, Pak. Helikopter yang Bapak tunggu sudah mendekati puncak gedung hotel. Mari saya antarkan keatas," Manager hotel menghampiri mereka.

__ADS_1


..._-_-_...


__ADS_2