
"Habisi mereka!" teriak Liana Lantang.
"Tunggu, kenapa tak mengundang kami memeriahkan pesta ini?!" Deo terkekeh.
"Syukurlah kalian datang. Deo, mereka ada 30 orang ditambah 3 kurcaci. Kita ber 8. Bagaimana kalau kita bagi rata masing-masing 4 lawan?" sengaja Lyra mengeraskan suaranya untuk memancing emosi lawan.
"Tunggu!!. Ditambah kami berdua, total 10 orang. Masing-masing menghabisi 3 lawan. Untuk 3 kurcaci, abaikan saja. Mereka pupuk bawang!" Jimmy dan Ronald, dua orang driver mobil sewaan dengan suka rela ikut bergabung.
"Brengsekk kalian. Seraangg!!" benar saja, Liana terpancing emosinya.
Baku hantam dan denting suara pedang terdengar ditengah areal persawahan yang sepi.
Lyra dengan lincah melenting bagai anak panah menerjang musuhnya. Dari balik pakaiannya, muncul 2 belati sebagai senjata.
WUSS
BAKKK
CRASHH
Setiap kali menghindari serangan, Lyra dengan cepat melakukan balasan. Hal itu cukup efektif karena reflek lawan akan berkurang saat berkonsentrasi melakukan penyerangan.
Satu lawan berhasil dilumpuhkan Lyra. Kini ia melangkah maju kembali untuk membekuk calon korban berikutnya.
"Rasakan kau, sialann!"
__ADS_1
SHUUUTT
SLEBBB
Lyra kembali panen korban. Lemparan belatinya tepat menghujam punggung lawan.
Pada posisi Lintang, dengan beringas ia menghajar lawannya. Lintang semakin menggila tatkala berhasil melumpuhkan satu lawan dan merebut pedangnya.
BLASSS
SLASHHH
Lawan bertumbangan menerima sabetan pedang Lintang yang berkelebatan seperti kesetanan.
"Habiskan mereka!!" teriak Lintang dengan lantang.
Berhasil menumbangkan sekitar setengah lusin lawan, Lyra berkelebat memburu ke arah dimana Liana, Ambarsari, dan Wiwik berada.
TRANGG
Terjadi tumbukan keras antara dua belati Lyra melawan katana dalam genggaman Liana.
Tak hanya mengandalkan belati, Lyra melakukan berbagai kombinasi serangan. Kemampuan Liana yang hanya sekedar bisa menggenggam pedang tentu bukan tandingan Lyra, seorang juara beladiri.
Dalam satu dua gerakan terakhir, Lyra berhasil menutup perkelahian. Luka menganga di bahu dan paha Liana. Tak lama Liana pingsan.
__ADS_1
"Sekarang giliran kalian, para nenek sialan!!" sorot mata Lyra tak lagi menampakkan kelembutan.
"Hentikan..tolong hentikan. Kau tak ingat aku Lyra?. Aku nenek dari suamimu. Jangan sakiti kami," wajah Ambarsari memucat seketika.
"Bacott!!"
BUGGHH
BUGHH
Malas mendengar ocehan kedua nenek tersebut, Lyra menghantamkan gagang belati ke tengkuk mereka. Dua nenek tersebut seketika pingsan.
30 Orang lawan bukan suatu yang berarti bagi tim DZ, terlebih dibantu kemampuan beladiri Lyra yang justru paling menonjol diantara mereka.
Sebagian besar lawan telah terkapar, entah mati atau hanya pingsan. Sisa sebagian kecil yang masih sadarkan diri meski tak mampu lagi berdiri tegak karena luka-luka yang dialami.
"Hmmm..masalah baru lagi setelah ini," keluh Lintang malah semakin pusing setelah berhasil membekuk lawan.
"Ada apa lagi, Mas?" Lyra ikut mengerutkan kening.
"Mereka semua memang telah berhasil kita kalahkan. Namun yang kita lupa, ini negara orang. Kita tak bisa untuk tak melibatkan pihak tuan rumah!" Lintang memijit pelipisnya yang tak gatal dan menggaruk rambutnya yang pusing.
"Bos tenang saja. Kita bawa ketiga wanita biadab itu ke negara kita. Sisa pasukannya biar Jimmy dan Ronald yang mengurus. Aku belum bilang jika mereka berdua adalah juga anggota tim DZ yang memang sengaja ditugaskan stand by di Belanda." Deo memasang borgol ditangan Liana, Ambarsari, dan Wiwik yang masih belum sadarkan diri.
"Bos, pakai saja mobilnya menuju pesawat. Jaraknya sudah dekat. Tinggal lurus aja sekitar 20 menit dari sini. Biar kami berdua mengangkut orang-orang bodoh ini menggunakan truk," ucap Jimmy yang saat dijalan tadi sempat membuat Lyra malu semalu-malunya.
__ADS_1
..._-_-_...